[Publishing] Menghentikan Perjanjian Penerbitan Buku, Memang Bisa?

Disclaimer: artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman. Ketentuan bisa berbeda di penerbit-penerbit lain.

Saya baru masuk tingkat akhir perkuliahan saat menerima SPPB (Surat Perjanjian Penerbitan Buku) untuk Athena dari Gagas Media. Itu kontrak penerbitan pertama yang saya terima. Kemudian atas arahan editor, saya membaca setiap pasal yang tercantum, karena begitu saya membubuhkan tanda tangan, artinya saya menyepakati semua hal yang tertera di sana.

Kalau kalian sudah menerbitkan buku bersama penerbit, kalian pasti tahu poin-poin yang disebutkan di dalam SPPB. Penyuntingan, royalti, oplah buku, sampai adaptasi adalah sejumlah hal krusial yang dibahas dalam kontrak. Namun, ada satu poin yang mungkin dilewatkan dari perhatian sebagian besar penulis: pengaturan penghentian perjanjian dan hak terbit novel.

Bagaimana mengurus penghentian hak terbit novel?

Tidak semua penerbit menyebutkan secara gamblang seputar penghentian perjanjian. Ada yang menyatakan perjanjian otomatis berakhir sekian tahun sejak kedua belah pihak menyepakati perjanjian. Sementara dengan ada juga yang hak terbitnya akan kembali ke penulis kalau stoknya habis di pasar.

Baik yang ditentukan dengan tahun maupun ketersediaan stok, penghentian penerbitan buku perlu diurus secara profesional. Lantas, bagaimana cara mengajukan penghentian penerbitan buku? Berikut adalah langkah-langkah yang saya terapkan saat mengurus hak terbit Athena pada akhir 2018 sampai disepakati pada awal 2019.

  1. Hubungi pihak penerbit

Menjaga hubungan baik dengan penerbit akan membantu penulis dalam banyak hal, salah satu di antaranya saat membahas pengembalian hak terbit. Dalam hal ini saya langsung berkirim surel dengan pemimpin redaksi, karena editor yang mengurus Athena sudah lama mengundurkan diri. Menurut saya bicara dengan pihak atasan lebih bagus karena mereka punya akses luas.

Kalian mungkin tidak akan memikirkan penghentian penerbitan kalau buku baru beredar satu atau dua tahun. Namun, tak ada salahnya mendiskusikan hal tersebut bersama editor atau pemred penerbit supaya nanti lebih mudah mengurusnya. Simpan juga kontak seperti alamat surel atau nomor telepon yang dapat kalian hubungi.

  1. Baca kembali SPPB

Salah satu kesalahan saya lakukan sebelum mengirim surel adalah tidak membaca ulang SPPB. Saya kira, kontrak habis berdasarkan tahun, ternyata ditentukan dari stok buku atau kesepakatan lain. Syukurnya, pihak Gagas Media memberi kejelasan dan bersedia melanjutkan pengajuan saya.

Selain itu, simpan SPPB baik-baik. Ada beberapa data dari kontrak tersebut yang harus kalian cantumkan lagi di surat penghentian penerbitan buku. Jika memungkinkan, fotokopi beberapa lembar atau scan dalam bentuk digital untuk jaga-jaga.

Pihak penerbit mungkin akan menawarkan kesepatakan kalau masih ada stok buku yang tersisa. Kalian bisa membelinya dengan harga diskon atau membiarkannya habis di book sale. Semuanya kembali lagi pada keputusan kalian (saya akhinya memilih Athena habis di pasaran).

  1. Pelajari draf kontrak

Setelah membahas ketentuan penghentian penerbitan, saya diberikan draf kontraknya. Pasal-pasal yang tercantum memang tidak sebanyak di SPPB, tetapi harus tetap dipelajari karena hal ini menentukan baik naskah yang telah dipegang pihak penerbit maupun hak terbit yang akan kembali pada kalian.

Kalian yang mendapatkan kembali hak terbit buku bisa memakainya untuk keperluan lain dengan catatan naskah yang boleh digunakan adalah draf awal yang kali pertama kalian kirim ke penerbit. Kalian juga tidak berhak memakai naskah hasil suntingan editor, sampul, dan hal-hal lainnya yang disediakan penerbit.

  1. Simpan kontrak baik-baik

Surat penghentian penerbitan buku dalam bentuk fisik akan dikirim begitu kedua belah pihak sepakat atas poin-poin yang disebutkan di dalam draf. Seperti yang disebutkan berkali-kali, kalian jangan lengah saat menerima kontrak. Baca ulang, kalau perlu minta keluarga atau teman yang dipercaya untuk memeriksanya.

Jika tidak ada masalah atau ada poin memberatkan, kalian dapat membubuhkan tanda tangan sebagai tanda persetujuan. Simpan salinan yang diberikan penerbit sebagai arsip (satukan dengan SPPB supaya tidak terpisah).

Selama mengurus kontrak Athena, saya hanya menemukan kendala-kendala kecil terkait data yang diperlukan. Rajin follow up juga membantu kalian menyelesaikan pengurusan kontrak tersebut. Jangan sungkan menanyakan hal-hal kurang jelas kepada pihak penerbit untuk menghindari kesalahpahaman.

Nah, demikian pengalaman saya saat menangani penghentian perjanjian penerbitan buku. Semoga informasi ini membantu teman-teman penulis (atau yang berniat menjadi penulis) terkait kontrak yang diberikan penerbit.

Regards, 

erl.

[pics source: pexels.com]

Advertisements

[Lettering] 6 Things I Learn from Brush Lettering

source: learnbrushlettering.com

Semua berawal dari kebutuhan riset untuk Toska.

Ketika Reaterary membuka kelas Basic Brush Lettering awal tahun lalu, saya tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Pada saat itu, kepala saya hanya diisi dengan, Oke, satu kelas lettering dan keperluan riset terpenuhi, atau, Kalau lettering­ saya bagus, saya bisa bikin personal merch untuk pre-order novel selanjutnya. Memang enggak salah ngayal babu seperti itu, tapi sepertinya saya terlalu tinggi memasang harapan, hehe.

Kenyataannya, brush lettering tidak semudah celap-celup kuas ke tinta.

Selepas mengikuti kelas, semangat saya membara selama beberapa minggu. Pada pertengahan tahun mulai kendur, lalu tak lama berselang berhenti total karena keasyikan mengulas buku. Peralatan lettering dibiarkan menganggur dan berdebu, sampai saya sentuh lagi pada November 2017.

Saya kembali dengan alasan baru: butuh distraksi.

Sekarang, setelah praktik rutin (dan membobol tabungan demi membeli art supplies), saya mendapatkan berbagai pelajaran dan perubahan lewat brush lettering. Nah berikut ini ada enam hal yang saya peroleh sepanjang latihan intens selama dua bulan terakhir.

  • Cara termudah untuk menenangkan pikiran

Di awal sesi, saya kesulitan membuat garis tebal dan tipis (khususnya TIPIS) dan sejumlah garis lekuk lainnya. Belum lagi menyambungkan satu aksara ke aksara lainnya. Wajar kalau hal ini bikin sebagian orang mundur cepat dari lettering. Namun, percayalah, latihan secara rutin akan membuahkan hasil. It took weeks for me to FINALLY master the basic strokes. Begitu berhasil melewati tahap ini, kalian akan lebih mudah membuat huruf daaan merasakan ketenangan saat menggerakkan kuas di atas kertas. It’s hella satisfying.

One of my first attempts. Mid 2017.

  • Memandang karakter/huruf dengan cara berbeda

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis, words are author’s sword. Ya, benar, kan? Ketika saya pikir saya sudah sangat menyatu dengan huruf, lettering memberikan sudut pandang lain terhadap mereka. Lettering isn’t just writing like I’ve been doing for years. It’s drawing the words—wait, characters. Saya jadi tahu kalau setiap karakter punya anatomi berbeda. g is a good boi; x is as just complicated as my ex; k isn’t that okay, and the list goes on. They aren’t that simple as I thought before. Mereka terasa lebih hidup sekarang.

  • New tools, new style… and new beginning!

Kalian bisa memulai brush lettering dari alat tulis mana saja. Enggak usah langsung main ke perkakas mahal, pakai pulpen biasa pun kalian bisa bikin kaligrafi cantik dengan metode faux calligraphy. Ogah kotor kena tinta? Beli brush pen (saya sangat merekomendasikan Tombow dan Snowman). Kalau kalian pengin merasakan lettering dengan sentuhan tradisional, pakai kuas biasa atau water brush pen dan tinta kaligrafi. Setiap jenis alat memberikan sentuhan berbeda dan, somehow, awal baru, karena—sejauh yang saya rasakan—selalu ada gaya lain yang lahir.

  • It sounds cheesy, but kreativitas tanpa batas is real

There is no wrong and right in brush lettering or modern calligraphy (dengan catatan: kalian tetap harus menguasai teknik-teknik dasar). Seperti halnya menulis cerita, melukis aksara juga memberikan kebebasan untuk bereksplorasi. Setiap orang punya gaya masing-masing—the signature style—yang enggak bisa ditiru orang lain. Mulanya kalian akan berusaha mengikuti orang-orang yang sudah lihai, tetapi lama-lama, kalian bakal menemukan gaya sendiri. Dari sini, kreativitas kalian dalam brush lettering bakal semakin meluas.

  • Memberikan kesan personal yang lebih tajam

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, ngapain capek-capek bikin kutipan pakai kuas, kan ada Canva dan segambreng aplikasi lainnya? I know Canva and stuff make it easier, BUT they don’t provide one thing: personal touch. Lewat lettering, kalian bebas mau pakai kuas atau brush pen; tinta atau cat air; kertas atau keramik. Anything, man. Saya sekarang lebih suka membuat kutipan—mau dari buku atau lirik lagu—tanpa aplikasi, karena kesan personalnya lebih kuat dan membuat si penerima merasa spesial (hahai).

Januari 2018

  • Bisa dijadikan bisnis rumahan yang menjanjikan

Terakhir—yang belum kekejar sama saya juga, sebenarnya—brush lettering jadi salah satu jenis bisnis menjanjikan. Di Instagram, saya mengikuti sejumlah akun letterer profesional yang sudah menjadikan keterampilan mereka sebagai lahan penghasilan. Klien mereka macam-macam, dari pasangan yang mau menikah, ibu rumah tangga, sampai perusahaan multinasional. Mereka juga sering berbagi ilmu buat sesama letterer. Selain menjanjikan dari segi finansial, lettering/calligraphy juga punya komunitas yang menyenangkan.

Lalu, bagaimana nasib naskah saya? Terlantar (I’ll be back, okay. I don’t know when, just wait.)

Jadi, buat kalian yang sedang mencari hobi baru atau sudah lama ingin mencoba lettering, give it a try! There are so many online lettering practice sheets, just google it.  Satu lagi yang saya rasakan, lettering membuat saya menghargai kembali seni menulis dengan tangan sendiri. Ternyata, saya sudah terlalu nyaman memakai laptop dan ponsel pintar, sampai-sampai payah bikin huruf pakai alat tulis biasa, huhu.

Terima kasih sudah menyimak pengalaman (selain menulis buku) saya di pos kali ini. Kalau kalian pengin bertanya atau sekadar curhat seputar lettering, sila tinggalkan di kolom komentar, ya.

Regards,

erl.

[Review] reputation by Taylor Swift

Track list:

1. …Ready For It?
2. End Game (feat. Ed Sheeran and Future)
3. I Did Something Bad
4. Don’t Blame Me
5. Delicate
6. Look What You Made Me Do
7. So It Goes…
8. Gorgeous
9. Getaway Car
10. King of My Heart
11. Dancing With Our Hands Tied
12. Dress
13. This Is Why We Can’t Have Nice Things
14. Call It What You Want
15. New Year’s Day

***

Rasanya baru kemarin saya bertanya-tanya, “Kapan TS6 keluar?”

Taylor Swift punya siklus tetap untuk merilis album: setiap dua tahun sekali. Semestinya, tahun lalu album teranyarnya lahir. Akan tetapi, satu-satunya lagu baru yang publik dengar sampai awal 2017 hanya I Don’t Wanna Live Forever. Itu pun sebagai soundtrack untuk film 50 Shades Darker; berduet dengan Zayn Malik.

Ketika 2017 bergulir ke trimester akhir, Swift menampakkan diri dengan cara tak lazim: menghapus semua foto di akun Instagram; mengosongkan following; mengunggah tiga video singkat berisi ular. Tak lama berselang, Swift mengabarkan judul album keenam yang dilepas pada 10 November 2017: reputation (yes, it’s written in lowercase).

Ever since Look What You Made Me Do was released, I didn’t set my hopes high for reputation. Saya masih ingin mendengarkan album ini, tetapi mungkin butuh waktu lama—lebih lama dari 1989—untuk mencernanya. Empat single berikutnya—…Ready for It?, Gorgeous, Call it What You Want, dan New Year’s Day—walau terdengar lebih menjanjikan dari Look tidak langsung menaikkan optimisme saya.

Maka, saat reputation datang kemarin siang, saya berusaha menerima album ini. Sesuai dugaan, saya dibuat terkejut. Namun yang tidak saya antisipasi, reputation tak seburuk yang dipikirkan. Swift meramu electropop, R&B, hingga balad dalam rangkaian tembang bernuansa muram yang patut disimak.

Saya sudah mendengarkan reputation lima atau enam kali saat menulis ulasan ini. Sudah benar-benar mencerna setiap lagunya. Jika kalian kira permainan rima pada lirik Ready mengesankan, berarti kalian harus menyimak apa yang terjadi di End Game. Menggaet rapper Future dan solois slash sahabat baiknya Ed Sheeran, Swift mengungkapkan pernyataan keras, I swear I don’t love the drama, it loves me!

I Did Something Bad isn’t the only song where Swift throwing shades with no mercy, but this is the first time we will hear her cursing. Dalam lagu ini, Swift memakai referensi pembakaran terhadap wanita-wanita yang dituduh sebagai penyihir (They’re burning all the witches, even if you aren’t one). Joseph Kahn—sutradara yang menangani sejumlah videonya—pernah mengunggah satu tweet terkait kejadian ini.

Lagu selanjutnya membuat saya bertahan menyimak reputation. Keputusan yang tidak terlalu mengecewakan karena Don’t Blame Me serta-merta mengingatkan saya pada lagu-lagu Beyonce (terutama Crazy in Love versi 50 Shades of Grey) dengan sentuhan gospel di bagian chorus. Sesuatu yang terdengar sangat fresh untuk Swift.

These two songs are perfect bops.

Kemudian, ada Getaway Car yang akan menjungkirbalikkan anggapan orang-orang tentang ‘kematian’ the old Taylor. This song sounds like RED and 1989’s love child; a lowkey country song. Also the bridge, the fucking bridge had me like:

Swift, untuk sementara, menunjukkan sisi lemahnya di tengah hubungan yang sesungguhnya salah sejak awal. Akan tetapi, pada akhirnya, dia berhasil pergi (no, nothing good starts in a getaway car).

Kejutan yang Swift berikan berlanjut hingga paruh terakhir reputation. A seductive Dress with ‘Only bought this dress so you could take it off’-line. Then there’s another shady anthem This is Why We Can’t Have Nice Things (the laugh, I know, I can’t hear it with a straight face, too). New Year’s Day yang dipilih jadi penutup reputation menenangkan keriuhan lagu-lagu sebelumnya lewat cerita manis malam Tahun Baru dalam dentingan piano (But I’ll be cleaning up bottles with you on New Year’s Day).

*

reputation—menurut sebagian besar fan garis keras Swift—punya konsep berbeda dari album-album lain. Bila sebelumnya Swift selalu menulis apa yang sebenarnya terjadi, maka kini dia menulis apa yang orang-orang pikirkan terjadi padanya. Ada banyak tulisan yang berusaha memecahkan kode dalam lirik yang Swift tuangkan dalam reputation yang sepertinya akan memperpanjang resensi ini menjadi sebuah buku. Silakan googling kalau kalian penasaran.

Swift mungkin sudah muak. Ketika cara lama tidak bekerja, maka kini dia bertindak lebih keras. Melalui reputation, Swift memperlihatkan sisi gelapnya—seperti peringatan yang mengatakan, “Berani macam-macam denganku, mampus kau!”

Salute to herbecause she is your American queen.

Welcome to edgy-Taylor era, everyone.

Regards,

erl.

[Writing] Never Been There

Kamu sudah pernah ke Yunani?

Pertanyaan ini masih saya dapatkan dari mereka yang sudah membaca Athena: Eureka! Jawabannya pun tidak berubah: belum. Dengan 90% latar tempat di Yunani, Athena menjadi salah satu proyek menantang, mengingat saya harus riset ekstra agar pembaca merasakan denyut kehidupan negara tersebut.

Masalahnya, menggambarkan tempat yang belum pernah dikunjungi ternyata lumayan tricky. Dalam sebuah catatan revisi, editor mengatakan deskripsi yang saya tulis masih terkesan seperti artikel Wikipedia. Kendati hanya satu paragraf, saya harus membuat bagian tersebut  terdengar natural.

Keliling langsung di Yunani tentu bakal memudahkan proses mengumpulkan informasi sampai menunjang deskripsi. Namun, biaya yang dibutuhkan juga enggak sedikit. Meski demikian, saya punya metode-metode ampuh supaya deskripsi tempat di cerita tidak seperti tempelan.

Jadi turis untuk cerita yang akan ditulis

Kalian setidaknya pernah, dong, jalan-jalan ke tempat jauh? Misalnya pulang kampung ke luar kota saat Lebaran atau study tour ke Bali. Tahap persiapan pun biasanya agak repot kalau ini jadi pengalaman perdana kalian, mengingat kalian tidak mengenal tempat tersebut.

Hal ini sebenarnya enggak jauh berbeda saat kalian pengin memakai latar tempat yang belum pernah didatangi. Ketika menulis Athena, saya memposisikan diri sebagai Widha—sang tokoh utama—yang juga baru kali pertama terbang ke Yunani. Jika saya jadi Widha, apa saja yang akan saya siapkan?

Lantas, saya membuat daftar ini:

  • Objek wisata yang akan didatangi;
  • Penginapan beserta tarif sewa per malam;
  • Transportasi;
  • Tiket pulang-pergi;
  • Durasi jalan-jalan/traveling;
  • Makanan (masak sendiri atau beli);
  • Jumlah pakaian yang akan dibawa

Kebutuhan di atas tergolong standar, tetapi akan mempengaruhi bujet dan cerita. Kalian juga harus tahu dari mana si tokoh mendapatkan sumber biaya. Bisa dari tabungan, beasiswa, atau warisan. Jangan sampai karakter cerita kalian sanggup hedon ke sana kemari, padahal latar belakangnya bukan orang kaya atau pebisnis sukses.

Ada pula informasi penunjang yang harus kalian cari seperti:

  • Bahasa yang dipakai warga setempat;
  • Gaya hidup dan topik yang sedang tren di sana;
  • Musim;
  • Kebijakan, aturan, atau kebiasaan.

Apabila tokoh yang kalian tempatkan dalam cerita adalah warga asli, riset yang kalian lakukan akan lebih mendalam. Pastikan kalian sudah punya data tentang:

  • Latar belakang keluarga;
  • Tempat tinggal (tetap atau nomaden);
  • Studi atau pekerjaannya yang sedang dijalankan.

Pastikan kalian mencari informasi-informasi tersebut dari sumber tepercaya. Ada situs-situs lain yang lebih akurat dibandingkan Wikipedia, antara lain website pemerintah di bidang pariwisata, pusat bahasa, hingga travel blogger yang secara berkala mengunggah pengalaman mereka saat melancong.

Elaborasi data-data riset untuk cerita

Tokoh yang sudah tahu atau memang menyukai negara yang dikunjungi akan memudahkan deskripsi. Kalian suka nonton drama Korea atau rajin mengikuti tren K-pop? Berarti, kesulitan yang kalian temukan saat mendeskripsikan tempat di Korea Selatan pun enggak akan banyak. Di sisi lain, elaborasi atau penggarapan data-data yang diperoleh perlu dilakukan secara cermat supaya tokoh kalian terkesan real.

Pada tahap ini, tidak sedikit informasi yang harus kalian buang karena tidak menunjang cerita. Kadang kalian perlu mencari lagi data yang silap dari riset. Kalian mungkin akan merasa sayang, apalagi kalau hasil penelusuran tersebut adalah topik-topik yang disenangi. Namun, memasukkan seluruh informasi akan membuat cerita membosankan dan bertele-tele buat pembaca. Selektif sedikit enggak bakal membuat kisah kalian buruk, kok.

Bantuan visual untuk mendeskripsikan tempat

Menguatkan impresi visual dalam teks bisa kalian lakukan dengan mempelajari foto maupun tempat yang bersangkutan. Dengan teknologi canggih seperti sekarang, kalian enggak perlu repot mencari peta atau buku, karena sudah ada aplikasi  seperti Google Maps, Street View, sampai Google Earth. Lewat program-program ini, kalian dapat mengukur jarak dari satu lokasi ke lokasi lain, mengamati lanskap, sampai ‘jalan-jalan’ virtual.

Alternatif lain yang dapat kalian akses adalah video-video perjalanan di Youtube. Film-film yang mengambil seting tempat yang kalian inginkan juga bakal membantu deskripsi. Selain itu, akan lebih bagus dan maksimal kalau kalian punya teman atau kenalan yang tinggal di kota atau negara yang sedang diteliti. Lakukan wawancara atau minta mereka mengevaluasi cerita begitu naskah rampung. Saya sendiri masih mengandalkan peta cetak dan ensiklopedia termutakhir kalau sedang tidak bisa online di ponsel pintar maupun laptop.

Mengolah data asil riset yang kaku ke narasi fiksi yang cenderung luwes mulanya cukup sulit. Kalau kalian butuh rekomendasi penulis yang jago banget menggambarkan latar tempat, saya mengajukan Windry Ramadhina dan Yusi Avianto Pareanom. Sepanjang membaca buku-buku mereka, saya selalu merasa ada di lokasi-lokasi yang mereka gambarkan.

Nah, itulah tip berdasarkan pengalaman saya saat memaparkan tempat yang belum pernah dikunjungi. Punya masukan atau tambahan? Sila cantumkan di kolom komentar.

Terima kasih.

erl.

ps: artikel ini ditulis berdasarkan topik dari bookism.gia di Instagram:

[Review] Shore EP by Daniela Andrade

Track List:

01. Digital Age
02. Sound
03. Come Around
04. Shore

***

Sebenarnya, saya bukan pengamat musisi-musisi jebolan Youtube. Di sisi lain, saya juga tidak menyangkal kalau platform tersebut sudah melahirkan banyak musisi keren. Tahu Justin Bieber, dong? Solois asal Kanada ini meraih kesuksesannya setelah mengunggah beberapa cover version lagu-lagu populer di Youtube. Keberhasilan Bieber rupanya mendorong para musisi untuk memulai karier mereka dengan jalan yang sama.

Sayangnya, hanya segelintir musisi yang sanggup meraih atensi pengunjung Youtube.

Sejauh ini, hanya ada tiga musisi Youtube yang berhasil merebut perhatian saya: Alex Goot, Sam Tsui, dan Daniela Andrade. Selain musikalitasnya yang tidak diragukan lagi, mereka juga tahu cara mengemas video-videonya supaya enggak kelihatan murahan.

Nah, dari ketiga nama tadi, Daniela Andrade baru-baru ini mengejutkan saya lewat EP bertajuk Shore yang rilis pada 2016. Memang agak telat tahunya, padahal saya sudah mengenal Andrade dan karya-karyanya sejak 2013. Dulu, solois berdarah Honduras ini merekam tembang-tembang yang dibawakan di kamarnya. Sederhana banget, deh.

But, yes, she’s cute!

Lantas, apa yang membuat saya jatuh hati dengan Andrade? Tidak lain, tidak bukan adalah suara dan permainan gitarnya yang bikin saya pengin berguru sama dia.

Saya menemukan Andrade saat mencari cover version Creep milik Radiohead. Sekali dengar, saya langsung dibuat merinding. Suara Andrade mengingatkan saya pada solois-solois seperti Regina Spektor, Norah Jones, dan Yuna. Dreamy, catchy, membuai seperti mimpi indah. Saya semakin kagum dengan Andrade, karena dalam Shore EP, dia berhasil melepaskan diri dari imej ‘musisi yang membawakan ulang lagu-lagu orang lain.’

She shapes and brands herself as Daniela Andrade.

*

Shore EP menawarkan perjalanan yang bakal membuat emosi kalian campur aduk. Empat lagu di dalamnya dikemas dalam aransemen minimalis yang berbeda-beda. Oh, tahukah kalian kalau Andrade juga melepas keempat lagu tersebut dalam video-video yang enggak kalah keren? Saran saya, sih, akan lebih baik kalau kalian menyimak tembang-tembang tadi sambil menyaksikan videonya. Dijamin bikin terkesima dengan cerita cinta sederhana yang dituturkan dalam konsep yang memukau.

Digital Agetrack pembuka Shore—memberikan atmosfer film Her yang cukup buat bagi saya. Aura sendu dari tiupan terompet dan vokal Andrade yang berpadu dengan warna-warna gelap seperti biru tua, merah, dan abu-abu dalam videonya langsung menciptakan suasana muram. Saya juga suka dengan lirik yang Andrade senandungkan dalam Digital Age. Terutama di bagian:

I like this digital age
Where we’re said to be forward in state
If I could code me a hologram
It’d be shaped like you

Bruh! Digital Age seolah-olah menggambarkan hubungan asmara abad 21 yang terkoneksi dengan mudah lewat kecanggihan teknologi.

Digital Age

Namun, Andrade tampak tidak senang dengan jenis interaksi serbamudah seperti itu. Dalam Sound, latar tempat video pindah ke Chefchaouen atau The Blue City di Maroko. Sebagai pecinta warna biru, saya senang banget begitu lihat rumah-rumah dengan tembok warna biru di videonya. Lantas, berbeda dengan Digital Age, Sound terdengar lebih mengentak dengan sentuhan synth dan warna-warna cerah dari pemandangan Chefchaouen. Andrade juga tampak menikmati perjalanan singkatnya dan, untuk sementara, menganggap kalau hubungannya tidak bermasalah.

Sound

Sayangnya, kebahagiaan dalam Sound tidak berlangsung lama saat saya memasuki track ketiga, Come Around (yang juga jadi lagu favorit saya dari Shore EP). Masih mengambil tempat di Maroko, kalian akan melihat pergumulan yang dialami Andrade dan kekasihnya. Uniknya, gejolak emosi yang mereka rasakan dituturkan lewat simbol-simbol seperti warna pakaian hingga permainan visual yang sureal di paruh akhir video. The lyrics speak everything, too.

Is this the game we play?
Hiding from each other, no one won’t face the other
There’s nothing left to say
Holding onto nothing but faith

Come Around

Shoretrack keempat yang jadi penutup—menjadi lagu paling minimalis dalam EP ini. Andrade menyanyikan tembang ini hanya dengan petikan gitar. Meski begitu, visualnya masih sebaik video-video sebelumnya—sarat akan simbol, warna-warna yang lebih menenangkan, dan penutup yang membuat saya puas, sekaligus gemas.

Shore

Melalui Shore EP dan keempat videonya, karya Andrade menjadi napas segar di tengah tren EDM yang mendominasi industri musik selama tiga tahun terakhir. Kalian yang kangen mendengarkan suara gitar, bas, drum, dan instrumen musik lainnya pasti bakal bahagia saat menyimak EP ini. Andrade juga membuktikan bahwa tema sederhana bisa menjadi luar biasa kalau kalian mengembangkannya lewat sudut pandang berbeda dengan perencanaan matang.

Kalau penasaran dan pengin dengar Shore EP, selain lewat Youtube, kalian bisa membelinya di iTunes atau streaming di Spotify. I kid you not, this record gives me life and you won’t regret it.

Regards,

erl.

[Writing] So, I Did the Binge Writing Things

Kalian suka binge watching serial televisi atau drama Korea? Maraton menonton tayangan menarik bikin kita sulit melepaskan mata, ya. Selepas satu episode penginnya lanjut terus. Eh tahu-tahu habis. Disusul berbagai efek samping kayak baper, lelah dan lapar (soalnya binge watching sering bikin lupa waktu), sampai lupa cara melanjutkan hidup.

Nah, apa jadinya kalau kebiasaan ini diterapkan untuk menulis?

Saya baru mempraktikannya satu pekan silam. Semuanya berawal gara-gara dikejar tenggat pengumpulan naskah. Saya yang pada dasarnya masih moody kerap kali menunda-nunda dan baru menulis kalau kepepet. Lantas, minggu lalu jadi momen yang tepat untuk memulai sebuah eksperimen gila akibat hal-hal di atas: binge writing.

Sebelumnya, saya keliling Google buat mencari referensi seputar binge writing. Yang paling nekat—menurut saya—adalah penulis yang sanggup merampungkan naskah dalam waktu tiga hari. Saya tadinya pakai metode ini, tapi gagal karena frustrasi lihat kecepatan menulis yang menyedihkan. Kemudian, ada pengalaman penulis yang mampu menyelesaikan tulisan sepanjang 20.000 kata dalam satu hari.

Satu hari. 24 jam!

Akhirnya, saya menggunakan tip dari Mbak Katie. Dia membagi proses binge writing-nya dalam beberapa sesi. Setelah disesuaikan dengan jadwal, saya memulai binge writing pukul 8 pagi dari jumlah 19.000 kata sekian. Target saya enggak muluk-muluk: 1.000 kata per jam sampai pukul 11 malam. Eksperimen ini tentunya disertai tantangan seperti 1) saya sedang puasa dan itu berarti 2) saya akan merasa lapar sesekali, tapi enggak ada yang lebih buruk daripada 3) kantuk di siang sampai sore menjelang iftar.

Kalau bukan karena tenggat, saya mungkin bakal mundur di 1.000 kata pertama.

Not for Your Daily Basis

To be honest, binge writing is fun, but not recommended for daily basis. Saya berhasil menuntaskan naskah pukul 11 malam dengan total 33.000 kata sekian. Shorter than The Playlist and Lara Miya, but it’s okay since the story isn’t too heavy.

Binge writing selama 15 jam, buat saya, memang sinting. Di sisi lain, pengalaman ini membuktikan beberapa hal seperti:

  • Menyelesaikan novel kurang dari seminggu bisa terjadi, asal…

Kalian punya outline cerita yang benar-benar matang. Bukan berarti kisah yang saya tulis sudah bagus, tapi saya enggak akan binge writing kalau kontennya mentah. Selain itu, pemilihan sudut pandang dan cara kalian membawakan cerita juga akan mempengaruhi binge writing. Untuk eksperimen saya, cerita dibawakan dari dua penutur dengan sudut pandang orang ketiga. Satu bab terdiri dari 800-1.000 kata. Bab-bab yang relatif pendek memudahkan saya untuk cepat pindah dan menghindari basa-basi.

  • Membuat outline cerita sangatlah penting buat panduan

Masih berkaitan dengan poin kesatu, outline akan memandu kalian untuk terus menulis. Enggak ada alasan stuck atau kebingungan, sebab kalian sudah tahu ke mana cerita bakal bergulir. Ketika binge writing, saya sempat cemas karena belum sampai klimaks meski sudah menulis lebih dari 15 bab. Namun, saya biarkan semuanya mengalir; saya mengikuti konsep yang telah disusun. Usaha saya enggak sia-sia begitu bertemu empat bab terakhir. Bakal beda rasanya kalau saya nekat menulis tanpa outline.

  • Selama inner editor diam, tidak akan ada yang menghalangi

Salah satu kelemahan saya dalam menulis adalah inner editor yang rewel sekali. Makanya saya sempat kesulitan binge writing sebelum goal 15.000 kata terpenuhi. Lantas, bagaimana saya membungkam suara -suara itu? Tidak lain tidak bukan dengan mendengarkan musik.

this is actually me after writing the story

Seminggu lalu, saya gandrung menyimak lagu-lagu Paramore dan untuk hari spesial itu, The Only Exception jadi tembang yang berhasil membuat saya bertahan menulis. Mendengarkan satu lagu selama berjam-jam terkesan nganu, ya, tapi itu jadi satu-satunya metode yang dapat membuat saya fokus. By the way, mungkin cara ini enggak berlaku buat semua orang, karena ada juga yang bisa menulis tanpa bantuan musik.

  • Cerita enggak akan selesai cepat kalau sering berhenti

Satu lagi kelemahan saya saat sedang menulis: sering menengok ke belakang. Setiap sekian paragraf, saya pasti baca ulang. Lalu mulai mengutak-atik bagian yang kurang atau enggak oke. Mau lanjut menulis, jadi malas. Kan sebal, ya. Kalau kayak gitu terus, kapan selesaiya? Maka untuk binge writing, saya berusaha sekuat mungkin menahan godaan ini. Ya, sesekali masih berhenti, tapi cepat-cepat saya melanjutkan sebelum mood keburu berantakan gara-gara kesal lihat typo dan gangguan lainnya.

  • Rutin menulis membantu meningkatkan kecepatan

This is important. Binge writing sangat mengandalkan kecepatan menulis. Sebelum mengambil tantangan ini, ketahui dulu jumlah kata yang sanggup kalian tulis per sekian menit atau jam. Saya—setelah dua tahun lebih bekerja sebagai penulis konten—mampu menulis 500 kata selama 30-45 menit. Itu non-fiksi, lho. Buat fiksi kadang lebih lambat. Jangan paksakan diri kalau kalian masih lambat menulis. It takes time, of course, tapi hasil dari konsistensi enggak akan mengkhianati, kok.

  • Istirahat di sela-sela sesi menulis bisa menjaga stamina

Saya menulis dalam empat sesi: 8 pagi sampai 12 siang; setengah 1 siang sampai setengah 3 sore; setengah 4 sampai setengah 6 sore; setengah 7 malam sampai 11 malam. Jeda di antara keempat sesi tersebut saya isi dengan salat, jalan-jalan keluar, dan nap time. Istirahat sangat dibutuhkan supaya tubuh kalian bisa recharge tenaga (ya meski di bulan puasa enggak bisa makan-minum sebelum iftar, tapi cuci muka sudah cukup). Selepas buka puasa, segera isi tubuh kalian dengan makanan dan minuman biar tenaga buat menulis makin maksimal.

Binge writing punya efek samping seperti mata sepet, baper dan deg-degan karena kejar-kejaran sama waktu, lalu pastinya… tangan kelelahan. Dua hari lalu saya masih merasakan nyut-nyutan di lengan kanan, tapi perlahan membaik.

Oh, but, to make it even better: give yourself rewards. Ini jadi hal yang membuat saya bertahan sampai akhir. Semacam hadiah untuk menghargai usaha sendiri. Ketika nyaris menyerah, saya memotivasi diri dengan: kalau naskah ini selesai sebelum tenggat, kamu boleh makan malam dengan ramen termahal dan beli sepatu/sandal baru.

YAAAS, LOOK AT THIS BEAUTY.

Yes, I did it.

So, yes, binge writing is a crazy thing to do. Seperti yang saya katakan, eksperimen ini kurang direkomendasikan buat latihan sehari-hari maupun kejar tenggat, hahaha (kesehatan tanganmu itu, lho). Namun, kalian bisa menjadikannya sebagai tantangan untuk mengukur perkembangan menulis.

Jadi, bagaimana pendapat kalian? Tertarik binge writing dalam waktu terdekat?

Regards,

 

erl.

p.s: also before you start to binge writing: cut off the Internet. Set your phone and laptop to Airplane mode. It worked for me.

[Review] After Laughter by Paramore

Track List:

1. Hard Times
2. Rose-Colored Boy
3. Told You So
4. Forgiveness
5. Fake Happy
6. 26
7. Pool
8. Grudges
9. Caught In The Middle
10. Idle Worship
11. No Friend
12. Tell Me How

***

Paramore is back!

Ketika mereka merilis Hard Times, saya tidak terlalu kaget. Mungkin karena saya sudah bisa menerima perubahan mereka sejak album self-titled yang dirilis pada 2013. Formasi mereka pun berubah lagi. Vokal masih dipegang Hayley Williams (kali ini dia memulas rambutnya menjadi pirang), Taylor York di sektor gitar, dan… Zac Farro di posisi drum! Kembalinya Zac ke Paramore membuat saya optimis dengan album teranyar mereka, After Laughter.

Paramore rupanya tidak mau berlama-lama menahan After Laughter. Karena beberapa hari setelah Told You Sosingle kedua—dilempar, album kelima mereka menyusul keluar dan membuat sebagian besar penggemar terkejut (termasuk saya).

Astaga, astaga, saya belum siap, tapi saya gregetan pengin mengulik After Laughter.

Dua single pertama yang Paramore luncurkan terdengar menyenangkan dengan beat-beat yang catchy dan akan membuat kalian bergoyang. Akan tetapi, semuanya tidak akan sama lagi begitu kalian menyimak liriknya. Di Hard Times, Hayley memulai lagu dengan All that I want / is to woke up fine. Sementara di Told You So, pembukanya lebih mencengangkan lagi: For all I know / the best is over and the worst is yet to come.

What?

Saya masih mengira After Laughter akan kaya akan sentuhan funky dan pop ala tahun 80-an. Nah, anggapan saya lantas dipatahkan oleh tiga judul setelah Told You So, because they had me like:

 

Dalam Fake Happy yang penuh kepalsuan, misalnya (And if I go out tonight, dress up my fears / You think I’ll look alright with these mascara tears?).  Atau 26, balada yang sebenarnya terdengar optimis, tapi tetap sukses bikin saya merinding (Reality will break your heart / Survival will not be the hardest part / It’s keeping all your hopes alive). Kemudian ada Pool yang terdengar manis, tapi nyatanya menyayat-nyayat hati (You are the wave, I could never tame / If I survive, I’ll dive back in).

Keceriaan yang saya rasakan di awal album semakin memudar memasuki paruh terakhir album. Di sisi lain, Paramore tetap mengejutkan saya. Lewat No Friend, Hayley menyerahkan sektor vokal sepenuhnya kepada Aaron Weiss, vokalis mewithoutyou. Yep, dalam lagu ini, kalian akan mendengar monolog Aaron di tengah alunan bas, gitar, yang kelam (I see myself in the reflection of people’s eyes / Realizing what they see may not be even close to the image I see in myself).

Seolah-olah ingin meninggalkan pendengar dalam ketidakpercayaan, Paramore menutup After Laughter dengan Tell Me How yang… yah, akan membuat kalian patah hati. Dengan dentingan piano sendu (yang mengingatkan saya pada lagu-lagu muram Copeland), Hayley bersenandung, You may hate me but I can’t hate you / And I won’t replace you.

And thus, I have mixed feelings about Paramore’s fifth album.

Penggemar Paramore yang sangat menyukai mereka sebelum Farro bersaudara minggat mungkin akan kecewa, karena… tf, where’s the pop-punk, rock songs they used to perform? Namun, ada juga penggemar yang menganggap After Laughter sebagai album yang menunjukkan kedewasaan Paramore. Terlihat dari lirik-liriknya yang—terlepas dari kepiluan yang begitu mendominasi—lebih matang dan membuat saya semakin mengagumi musikalitas mereka.

After Laughter akan menjadi album yang memecah penggemar menjadi dua kubu: yang enggak suka dan suka banget. Saya? Saya jelas ada di kubu suka banget. Menurut saya, perubahan yang terjadi di After Laughter adalah bukti dari usaha Paramore menghadapi dan menyelesaikan masalah yang mengadang. Ada kesakitan, kekecewaan, dan keputusasaan yang tidak pernah saya rasakan di album-album sebelumnya. Namun melalui After Laughter, Paramore seakan-akan pengin bilang mereka bisa bertahan meski tidak bisa menyelesaikan semua perkara dengan baik.

Kalau kalian penasaran dengan After Laughter, please, have a listen. Mendengarkan album ini akan terasa seperti jalan-jalan ke pantai, tapi tiba-tiba terhalang hujan deras. Lantas, alih-alih pulang ke rumah, kalian malah diam di tengah guyuran hujan; merenungkan kembali tentang makna kehidupan.

Regards,

erl.

[Review] Cari Tempat Buat Menulis di Bandung? 4 Kafe Ini Bisa Jadi Jodohmu

bandungcafe

Setelah menulis The Playlist, saya sering mendapatkan pertanyaan seputar tempat makan oke di Bandung. Saya agak kebingungan menjawabnya, karena jumlah kafe, kedai, dan restoran di Kota Kembang selama 2-3 tahun semakin banyak. Sepertinya setiap beberapa hari atau minggu sekali pasti ada tempat makan yang tutup, muncul, atau pindah lokasi. Kalau sudah begini, saya biasanya mampir ke kafe atau restoran langganan saja. Haha.

Omong-omong, tempat makan langganan saya bukan sekadar kafe atau restoran buat numpang makan, mengobrol, atau foto-foto. Tempat-tempat itu harus memenuhi satu syarat mutlak ini: nyaman buat dipakai sebagai lokasi menulis. Jadi kalau lagi bosan kerja di rumah, saya pasti meluncur ke sana.

Saya sudah pernah menulis daftar kafe/restoran di Bandung yang oke buat dijadikan tempat menulis, tapi kayaknya harus diperbarui lagi. Setelah melakukan seleksi (enggak, deh, lebih tepatnya mengingat-ingat saking banyaknya tempat yang saya kunjungi), berikut ini saya persembahkan daftar 4 kafe di Kota Kembang yang bakal bikin kalian betah kongko dan menulis berjam-jam.

  1. Kineruku

Teman-teman yang kenal saya dan baca artikel ini pasti langsung menggumam, “Sudah kuduga.”

Kineruku bagi saya adalah sepetak surga yang jatuh ke Bumi (halah). Tempat ini merupakan perpustakaan kecil bernuansa vintage yang menyediakan berbagai kebutuhan baik bagi pecinta buku, musik, dan film. Ada buku-buku klasik (dan yang enggak akan kalian temukan di toko buku besar); kaset, vinyl, dan CD; koleksi film; sampai merchandise dari musisi-musisi indie. Buat yang pengin baca atau menulis, ada meja dan kursi di ruang tengah dan teras belakang. Terminal buat charging? Aman, ada banyak. Makanan? Enak dan murah. Tapi Kineruku enggak menyediakan wi-fi, lho. Jadi buat fakir kuota, brace yourself.

Untuk mencapai Kineruku memang butuh perjuangan. Cuma ada satu angkot yang masuk ke Jalan Hegarmanah dan itu pun jarang banget. Kalau kuat, kalian bisa jalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer. Lumayanlah, hitung-hitung olahraga (heh).

Kineruku

Jalan Hegarmanah 52, Bandung

Buka: Senin, Rabu-Sabtu (11.00-20.00 WIB), Minggu (11.00-18.00 WIB)

Tutup setiap hari Selasa

 

2. Little Wings Café & Library

Kesan pertama saya saat datang ke Little Wings: Wah, berasa masuk ke dunia dongeng.

Little Wings adalah rumah tiga lantai yang berdiri di atas tanah yang agak miring. Di lantai satu, kalian bakal ketemu sofa-sofa cantik dan barang-barang vintage kayak typewriter. Lantai dua lebih mirip kafe biasa dengan dominasi kayu yang bikin suasana hangat dan nyaman. Nah sementara lantai tiga di-set kayak kamar, karena kalian akan menemukan kasur di sana! Enggak heran kalau Little Wings sering dipakai buat tempat pemotretan karena konsepnya yang unik. Tapi, kalian yang ke sini buat menulis pun enggak akan terganggu, kok.

Seperti halnya Kineruku, mencapai Little Wings bukan perkara mudah. Kalian akan bertemu jalan meliuk-liuk dan juga tanjakan. Untungnya, sih, ada satu angkot yang sering lewat di sekitar Cigadung meski hanya sampai pukul 4-5 sore.

Little Wings Café & Library

Jl.Cigadung Raya Barat no. 2, Bandung

Buka: Selasa-Jumat (12.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (12.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin

 

3. Pillow Talk Cafe & Comfy

Mencari ketenangan di pusat kota Bandung kini tidaklah mustahil berkat kehadiran Pillow Talk Cafe & Comfy.

Berlokasi di kawasan hits anak muda di Kota Kembang, Pillow Talk jadi salah satu tempat menulis baru favorit saya di pusat kota. Untuk menemukan tempatnya, kalian bisa menjadikan Taman Panatayuda sebagai patokan. Dari muka, Pillow Talk mungkin kelihatan kayak kafe kebanyakan. Akan tetapi, begitu masuk ke dalam, kalian bakal terkesima sama desain interiornya. Minimalis, dengan dominasi warna hitam-putih dan ada sentuhan klasik dari aksen kayunya. Selain sofa-sofanya yang bikin betah, ada dua ceruk lesehan di samping jendela yang bagus banget buat dipakai sebagai latar foto.

In other words, Pillow Talk is Instagram-able. Menunya? Sama-sama kece, kok. Sebagian besar hidangan yang mereka sajikan adalah camilan, tapi ada juga makanan berat buat kalian yang pengin langsung kenyang.

Pillow Talk Cafe & Comfy

Jalan Haji Hasan Nomor 12 (Taman Panatayuda), Dipatiukur, Bandung

Buka: Minggu-Kamis (09.00-22.00 WIB), Jumat-Sabtu (09-00-23.00 WIB)

 

4. Nimna Book & Café

Potongan surga yang baru saja turun di sekitar Gegerkalong.

Dibuka awal tahun 2016, Nimna Book & Café adalah lokasi menulis baru favorit saya kalau lagi malas ke pusat kota (apalagi kalau lagi macet-macetnya). Di sana ada kursi-kursi tinggi yang menghadap jendela, pojokan tersembunyi, dan tempat lesehan dengan latar rak berisi buku-buku kece (koleksinya masih sedikit, tapi recommendable semua). Menurut teman saya yang rajin datang ke Nimna Book & Café, kalian bisa, lho kongko tanpa pesen makanan. Cuma harus bayar Rp15.000 dengan bonus free flow infused water biar tetap sehat.

Dibandingkan tiga tempat lainnya, lokasi Nimna Book & Café lebih strategis. Patokannya ada di pertigaan Hotel Gegerkalong Asri. Masuk ke Jalan Sukahaji dan carilah gedung dengan logo Nimna Book & Café di depannya.

Nimna Book & Café

Jalan Sukahaji 126, Bandung

Buka: Rabu-Kamis (09.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (11.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin dan Selasa

*

Untuk urusan perut, keempat tempat ini menyediakan menu dengan harga terjangkau, sekitar Rp10.000 sampai Rp50.000 (ada beberapa yang di atas Rp50.000, tapi biasanya makanan berat porsi besar). Plus, musik latar di keempat kafe ini oke-oke  (in case you’re wondering). Kecuali Kineruku, tiga kafe lainnya menyediakan wi-fi gratis.

Terakhir dan yang paling penting: kalian enggak bakal diusir meski mau nongkrong sampai tempatnya tutup.

Ya, itulah 4 kafe di Bandung rekomendasi dari saya buat kalian yang pengin nongkrong atau menulis. Kalau kalian punya masukan, mari bagi-bagi lokasinya. Siapa tahu belum saya kunjungi dan ternyata cocok buat dijadikan tempat menulis.

Regards,

erl.

[Review] Satu Jam Lebih Dekat Bersama Yuna

yuna

Tadinya, tadinya, saya mau rehat dari dunia perkonseran di tahun 2016. Ingat umur (enggak juga sih). Lagi pula, musisi-musisi favorit saya kalau tidak hiatus, ya bubar. Jadi kecil kemungkinan mereka mampir ke Indonesia buat menggelar konser.

Namun, semuanya langsung patah begitu Copeland main di Kampoeng Jazz di akhir bulan April.

Lalu keyakinan saya semakin digerus saat Kahitna jadi bintang tamu di pensi SMA Bandung bulan September.

Seolah belum cukup, muncul Yuna yang menghelat konser perdananya di Bandung tanggal 3 Desember 2016.

Aaah, persetan. Sepertinya saya masih butuh suntikan euforia konser meski antusiasmenya tidak sebesar saat kuliah dulu.

*

Tadinya, tadinya, saya tidak akan menonton Yuna. Selain karena mengurus kelahiran buku ketiga saya—Lara Miya—saya juga enggak sanggup beli tiketnya. Rp500.000 buat seorang freelancer itu besar dan saya punya prioritas di atas tiket konser. Saya lantas melepas Yuna (sama Mae juga sebenarnya).

Kemudian, dua hari sebelum konser Yuna digelar, Tari menawarkan barter.

Enggak perlu saya jelaskan isi kesepakatannya seperti apa, yes. Intinya, sih, saya mendapatkan tiket konser Yuna dan Tari memperoleh bayaran yang—katakanlah—setimpal. Heheh.

Berbeda dengan konser Copeland, untuk menonton Yuna, saya tidak menyiapkan sesuatu yang spesial. Saya juga enggak stalking penyanyi asal Malaysia itu karena siangnya sibuk mengurus book talk Vinca Callista di DU 71A. Rencana saya begitu selesai dengan book talk: kongko sebentar di Dago > pergi ke Dago Tea House sama Tari > nonton Yuna > pulang.

Nyatanya, realita tidak berbicara sesederhana itu.

*

Saya dan Tari sampai di Dago Tea House menjelang maghrib (by the way, konsernya di venue luar). Satu yang saya syukuri, cuaca Bandung saat itu relatif bersahabat; hanya berawan di siang menjelang sore hari. Gate dibuka beberapa menit setelah azan maghrib dan antreannya tidak segila konser-konser yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Sebenarnya, saya lebih suka venue dalam, karena lebih intimate dan tentunya bisa melindungi penonton kalau hujan turun di tengah konser. Sementara venue luar jelas mengekspos kami pada angin malam di kawasan Dago yang kurang santai. Jarak dari amfiteater ke panggung juga jauh, jadi mustahil bisa ambil foto-foto bagus.

20161203_182052

Jauh, kuuuy~

Sambil menunggu kedatangan Yuna, saya dan Tari sempat mengobrol dengan dua penonton lain yang duduk di depan kami. Duh, sayang saya lupa nama mereka, tapi kami sempat berkenalan dan cerita banyak hal. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapatkan pengalaman ini saat hendak menonton konser: punya teman-teman baru.

Obrolan kami terputus kala Indah Nada Puspita, opening act kesatu, muncul. Nada membawakan beberapa lagu dengan baik, termasuk Rather Be dari Clean Bandit. Opening act kedua adalah girlband berisi tiga teteh-teteh hijabers dari Noura. Dari segi musikalitas, opening act untuk konser Yuna lumayan bagus. Setidaknya mampu bikin kami terhibur daripada karatan menunggu Yuna yang baru naik panggung pukul setengah sembilan malam (harusnya pukul delapan. Well, Indonesia).

Sebelum Yuna, anggota band pengiringnya naik satu per satu; langsung mengundang teriakan dari arah penonton. Kemudian saat sang bintang utama muncul di tengah sorot lampu panggung, kami bersorak semakin keras.

Yuna sepertinya tidak suka dengan jarak yang terbentang di antara dirinya dengan penonton. Lantas, dia mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua orang berlari ke bibir panggung. Serta-merta, saya dan Tari sudah ada di baris kedua. Menakjubkan bagaimana saya, bukan hanya tiba-tiba bisa lari cepat, tapi juga mampu menaiki undakan tanpa terjatuh.

Luar biasa.

*

Places to Go dipilih menjadi pembuka konser. Sejujurnya, saya baru mengulik lagu-lagu Yuna tahun ini karena akunnya sering di-mention Aaron Marsh, vokalis Copeland. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada musiknya yang fresh. Simpel, tapi selalu sukses bikin hati bergetar *aih.

Perfomance Yuna di atas panggung pun tak kalah memesona. Dalam balutan busana berwarna hitam dan putih keperakan, Yuna terus bergerak dari satu sisi ke sisi stage; melantunkan beberapa tembang andalan dari album terbarunya, Chapters. Lantas sebelum membawakan Time, Yuna membagi kisahnya saat mengikuti beberapa kontes bakat di Malaysia.

20161203_204859

Look at that funny face

“Saya pernah bertanya kepada Ibu, Kenapa saya tidak pernah lolos saat mengikuti ajang pencarian bakat?, lalu Ibu membalas, Semua akan datang tepat pada waktunya, Sayang,” ujarnya. Sesuai dengan lirik yang Yuna senandungkan dalam Time:

It takes time
It takes a little time, baby
It will be fine,
It takes time, baby

Memang terbukti, kan? Sekarang, Yuna jadi salah satu penyanyi R&B dari Asia yang sukses melebarkan sayap sampai ke Amerika Serikat.

Selepas Mountains, Yuna menyanyikan nomor favorit saya dari Chapters, Crush. Dalam versi albumnya, lagu ini dibawakan bersama Usher. Namun, meski malam itu Crush hanya dibawakan oleh Yuna, sensasi merinding yang saya rasakan saat kali pertama mendengar lagu ini masih ada. You know it has to be a great song when it gives you chill.

20161203_205001

Atmosfer konser yang tadinya menyenangkan seketika menjadi pilu saat Yuna membawakan lagu-lagu sendu. All I Do, misalnya, yang hampir bikin saya menangis di tengah kerumunan. Hanya bersama sang gitaris, Yuna melantunkan setiap kata dari lagu ini dengan emosi yang bikin saya luluh lantak. Belum lagi Used to Love You yang tak kalah menyayat hati.

Yuna tentunya enggan menutup konser dengan kesedihan. Mendekati akhir acara, penyanyi berusia 30 tahun ini mempersembahkan lagu-lagu ceria seperti Terukir di Bintang (“Boleh tidak saya bawakan lagu berbahasa Melayu?” tanyanya sebelum memulai lagu tersebut). Kemudian, Live Your Life—yang dipilih menjadi lagu pamungkas—mengajak para penonton untuk ikut berjoget sebelum Yuna mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.

20161203_205322

“Tapi, tenang. Kita bertemu lagi di luar, ya,” katanya. “Nanti kita bisa swafoto bareng. Saya juga akan kasih tanda tangan di poster dan album.”

20161203_210758

Yuna during “All I Do”

Ya, tapi apalah artinya nonton konser tanpa mengeluarkan koor andalan: we want more, we want more, we want more. Entah berapa lama kami meneriakan tiga kata sakti itu. Sampai sang drummer muncul untuk membereskan alat-alatnya dan memberi isyarat pada kami: enggak, enggak akan ada lagu lagi.

Kami masih menunggu. Namun, rupanya dia benar.

Yuna tidak naik lagi ke atas panggung.

*

Konser Yuna memang berlangsung singkat—13 lagu selama kurang lebih satu jam lebih sekian menit. Walau begitu, saya suka cara Yuna saat berinteraksi dengan penonton. Dia sangat lepas di atas panggung; aktif bergerak (saking aktifnya sampai susah ambil foto bagus, hahaha), mengajak kami menyanyi bersama, dan terus menebar senyum.

Saya sampai bilang, ‘She is so cute, sweet, and humble it huuurts’ berkali-kali kepada teman-teman yang tidak sempat menonton konser ini. Yuna pun menepati janji untuk berswafoto ria dan membubuhkan tanda tangannya pada signing session yang diadakan di luar venue (terus, riasan wajahnya masih bagus aja).

Secara keseluruhan, konser Yuna di Bandung tanggal 3 Bandung 2016 kemarin sangat, sangat mengesankan. Mungkin jadi salah satu yang paling intimate yang pernah saya rasakan. Panggung boleh minimal, tapi penampilan Yuna sangat maksimal. Lighting and sound system are on point too. Nyaris tidak ada hambatan selama acara berlangsung. As a promoter, you made it, Kiosplay!

20161203_212057_2

*

Dear, Yuna, terima kasih sudah menyajikan konser akhir tahun yang indah dan hangat. It is not a crush anymore, because we have already fallen in love with your music and perfomance. Like, so hard.

So, please, visit us again next time!

Regards,

 

erl.

ps:

Terima kasih untuk Tari dan kesempatan-kesempatan mahalnya tahun ini (hahaha); akang dari Sumedang dan teteh mahasiswi Sastra Inggris UNPAD yang menemani saya serta Tari ngobrol sebelum acara dimulai; Abi untuk tebengannya sepulang konser (have a nice time in Europe! Tolong beresin naskahnya juga, ya. Thanks).

[Preview] Blue Valley Series: Lara Miya

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Di Blok Tiga, ada sebuah rumah bernuansa warna tanah. Pemiliknya seorang perempuan paruh baya yang mengoleksi benda-benda antik. Kalau kau ingin menemuinya, sebaiknya datanglah pukul empat. Dia selalu pulang untuk minum teh. Seorang gadis berambut biru-ungu juga tinggal di sana. Miya namanya. Dan mungkin kau sudah menebaknya, mereka tidak akur.

Miya tidak pernah mengira akan tinggal di rumah tantenya yang seperti kamp militer. Beberapa hari sebelumnya, Miya masih punya tempat pulang. Namun, hidupnya luluh lantak seketika. Dan kini, dia harus memunguti kembali puing-puing dirinya untuk kembali utuh.

lara-miya-final-cover

December 2016.