Fiction

Foxy dan Grino

Ada banyak cerita menantimu. Mereka berdesakan seperti bocah-bocah yang menginginkan setoples gula-gula di atas meja. Di tengah alunan rintik hujan yang enggan reda, aku memilih dongeng – sementara yang lain menunggu di antrean.

*

Namanya Foxy, si rubah merah betina. Dia tinggal di hutan empat musim, sendirian, karena pasangan dan anak-anaknya tewas diburu. Foxy berkelana jauh sampai tiba di padang berselimut salju. Si rubah betina sadar dia sudah melewati batas, tapi tidak tahu arah pulang.

Lalu, telinganya menangkap langkah berat dan lambat dari balik ekornya. Foxy tahu dia harus kabur, tapi sebelum kaki depannya terangkat, sesuatu yang tajam menahan ekornya hingga dia terjungkal ke tanah. Foxy mendengking – dia pikir ini saat ajalnya dijemput. Sesosok mahluk besar berwarna cokelat tua berdiri di hadapannya, lalu mencondongkan hidung dan mengendus Foxy penuh minat.

“Rubah,” gumamnya, “untuk makan malam.”

Sejurus kemudian, Foxy mencakar wajah si mahluk. Benda besar itu memekik sebelum terguling ke samping. Foxy berdiri dan menyadari mahluk apa itu: beruang grizzly.

Si beruang, alih-alih menyerang balik, malah terduduk seraya mengelus-elus moncongnya. Foxy bergeming – agak kasihan, tapi tidak mau mendekat.

“Aku sebenarnya sudah mengamatimu sejak kali pertama muncul di wilayahku, rubah,” ujar si beruang. “Kawananku ingin kau dibunuh saja. Tapi, aku memilih untuk tinggal.”

Foxy menyipitkan mata. “Kenapa?”

Si beruang terdiam selama beberapa detik. “Kita punya masa lalu yang sama. Pasanganku dibunuh oleh pemburu tengik itu.”

Di tempatnya, Foxy terhenyak. “Pemburu bertopi hitam?”

“Ya, dia,” sahut si beruang. “Omong-omong, aku Grino.”

“Foxy.”

“Kurasa, kita harus menemukan tempat di luar jangkauan kawananku.”

Grino beringsut maju dan mengisyaratkan si rubah untuk mengikuti. Meski masih curiga, Foxy mematuhi dan mengekor si beruang.

*

Ini fabel pertamaku, terbayang seharian setelah menyaksikan film “Duma”. Menyadari bahwa, sudah saatnya aku mulai menulis cerita anak-anak untuk adikku yang paling kecil dan, mungkin, anak-cucuku kelak.

Tentu, kamu pasti bertanya-tanya, kenapa ada fabel di tengah-tengah tumpukan cerita yang ingin kubagikan padamu? Karena aku belum pernah terilhami sejauh ini, kamu tahu. Aku sendiri terkejut mendapati kelahiran Foxy dan Grino.

Jadi, apa aku harus melabelimu ‘ayah’ dari fabel ini? Apapun itu, aku harap kamu terhibur.

Boleh kutaruh senyumnya di toples, Tuan?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s