Life

Silver Linings Election

Beberapa hari yang lalu, tulisan saya tampak muram, yes. Karena berbahaya untuk kesehatan psikis (halah), mari kita bahas sesuatu yang lumayan serius. *benerin tiung*

Today is the election day. Ini juga jadi kali kedua saya menggunakan hak suara (hore, Erlin sudah besar!). Merasa gagal di pemilihan gubernur, saya bertekad untuk lebih serius dalam pemilihan pemimpin kota kelahiran saya, Bandung.

Sebelumnya, mari kita kembali ke satu hari, Kamis siang, di tengah mata kuliah Popular Writing. Kelas ini nggak pernah nggak nampar pikiran saya. Karena selain menulis, saya juga sering mendapatkan pencerahan. Kali ini tentang artis-artis yang mendadak nyaleg dan sederet pemikiran yang mengubah perspektif saya tentang hak suara.

Iya, bukan rahasia lagi kalau sekarang banyak artis yang merambah jadi politisi. Sayangnya, dari segambreng nama, hanya segelintir yang sukses menjadi penduduk kaum legislatif. Sisanya tetiba tenggelam atau malah main sinetron (yang nggak jelas).

Pertanyaan muncul, ngapain, sih, mereka ada di ranah politik? Udah nggak laku? Mungkin. Dipinang partai? Mungkin. Ngisi waktu luang? Mungkin. Apapun itu, fakta yang ada menarik masyarakat untuk menciptakan opini publik. Kumpulan pendapat yang, ternyata, memengaruhi pola pikir kita.

Mau menutup mata serapat apapun, kita tidak bisa mengelak jika para artis ini, sebagian besar, gagal merintis profesi sebagai politisi. Kenapa? Ya karena itu bukan lahan mereka, Bung. Kecuali kalau mereka mau melepas atribut artis dan ditempa dari nol untuk jadi warga legislatif.

Pertanyaan muncul lagi. Kalau para artis ini tahu mereka sebenarnya tidak sanggup memikul beban ini, kok pede sih nyaleg? Satu yang mengejutkan, hal ini tidak lepas dari sentilan ini,

“Ah, kalau ada pemilhan, mau golput aja. Paling calonnya si artis X atau Y.”

Pantaslah kalau hal ini mendorong kepercayaan diri mereka, karena kemasabodohan kita tentang memilih pemimpin cukup tinggi. Jumlah golput sendiri bahkan lebih tinggi dari yang memakai hak pilihnya.

Lalu, apa solusinya?

Gampang. Mulai dari diri sendiri. Teliti memilah calon pemimpin untuk masa depan. Saya pikir, tiap orang punya kriteria sendiri. Jangan lupa untuk gunakan hak pilih. Jangan apatis dan skeptis. Even every cloud has a silver lining. *tsah* *kibas tiung*

Kembali ke pemilhan wali kota. Ayo, jangan sia-siakan hak pilih kalian. Kalau sudah yakin, ngapain ditunda-tunda?

Happy Election Day!

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s