Fiction

Wallflower

“Kamu kenapa nggak bilang cabang kedai keempat ditutup, Nerv?”

Maaf, Dit. I mean, I’ve been in a messy days, you know. Gue sampai nggak ngasih tahu lo.

Dita menghela napas panjang seraya mengamati bangunan yang kini ditutupi jajaran seng besar di depannya. Cuaca yang cukup berangin tidak lantas meredamkan gejolak amarah di ubun-ubunnya. Dia enggan berdebat, sekaligus ingin berteriak.

Fine. Thanks,” ujarnya, pasrah.

Sekali lagi, maaf, Dit. Oh, selamat ulang tahun, ya.

Gumaman singkat mengakhiri percakapan mereka. Selamat ulang tahun. Dita bergumam kesal mendengarnya. Sudah 14 jam lewat dari tengah malam, tapi tak ada satu hal menyenangkan yang muncul di hari spesialnya.

Bahkan dari Adrian! Kekasihnya selama hampir dua tahun itu lebih memilih mengencani tesisnya di akhir pekan.

What could be more worse?!

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari LINE muncul di layar.

Dita, bisa bantu aku menyelesaikan naskah?

*

Setelah empat tahun merintis karir sebagai penulis, Dita kini dipercaya juga menjadi mentor writing classdi satu kampus. Selepas proses seleksi, Dita akhirnya mendapat seorang ‘murid’ bernama Fardi. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin yang, menurutnya, memiliki sentuhan Midas dalam merangkai kata. Cukup mengejutkan karena biasanya dia berkubang dengan hal-hal berbau mesin.

“Ini masih cerita yang kemarin.” Fardi menyerahkan sinopsi dua lembarnya pada Dita. “Tampaknya agak cheesy.”

Matanya mengerling ke arah pemuda berkacamata di hadapannya yang tampak kikuk. Kemudian, Dita membaca sinopsis ceritanya dengan cermat. Sekilas, dia tahu Fardi sedang menceritakan seorang gadis yang dianggap semua orang sebagai nerd, tapi baginya malah menarik.

“Kamu pernah baca Perks of Being a Wallflower?”

Mata Fardi mengerjap. “B-Belum.”

“Aku punya e-book-nya. Mungkin bisa membantu.”

“Terima kasih. Eh, aku mau tanya sesuatu…”

Alis Dita terangkat. Dari cara bicaranya, dia tahu hal yang akan diutarakan lebih pribadi.

“B-Bagaimana caranya menyamarkan kejadian nyata dalam dunia fiksi?”

Oh, curhat colongan. “Taburi ‘bumbu’ di berbagai tempat. Kalau di dunia nyata berakhir buruk, kamu bisa menjadikannya indah di dunia fiksi.”

Fardi mengamati kembali sinopsisnya seperti patung. Sebenarnya, Dita enggan mencampuri masalah pribadi orang lain. Namun, tampaknya pemuda ini sedang… kasmaran.

“Kamu suka gadis ini?”

Hampir saja Fardi terjungkal dari kursi. Pipinya kontan merona. “Eh, ya…”

“Sudah punya nama yang pantas untuk menyamarkan identitasnya?”

Kendati masih malu, kepala Fardi menggeleng.

Dita ingin sekali membantu dan entah kenapa bibirnya langsung menyebutkan nama ini,

“Chloe.”

*

Setelah Fardi pamit pulang, Dita memutuskan untuk ‘berkabung’ di kafe. Dia sudah membunuh dua cangkir espresso, sepiring iga bakar, dan sekeranjang kentang goreng. Baby doll dress kremnya seperti mengejek suasana hatinya. Sudah 20 jam lewat dari tengah malam dan seperti ini cara dia menghabiskan hari ulang tahunnya?

Dita bergumam sinis. 25. Dia bahkan sudah tidak pantas meniup lilin.

Kemudian, Dita kembali mengingat percakapan bersama Fardi. Chloe. Bukan kebetulan nama itu tercetus. Setelah satu jam, Dita sadar jika dia amat merindukan Adrian.

Chloe adalah lagu yang Adrian bawakan ulang, lalu diunggah ke Soundcloud. Dita adalah orang pertama yang mendapat kehormatan untuk melihatnya.

This song is for and about you.

Dita tidak kuat lagi. Dia ingin pulang.

“Permisi.” Seorang pelayan menaruh sepotong red velvet di atas meja. “Pelayanan ekstra dari kami.”

“T-Trims.” Tumben, pikirnya. Dita kembali duduk, mengambil sendok, dan melahapnya. Selamat ulang tahun. Oh, aku tahu–

Tiba-tiba, giginya menggigit sesuatu yang keras dan licin. Dia harus segera memuntahkannya, tapi tidak ada tisu di meja!

If only you could see all of the beautiful things that I see in you, it’s true…

Dita hampir menelan benda di mulutnya saat mendengar suara semanis cokelat itu. Tanpa diduga, penerangan diredupkan dan seseorang muncul dari belakang seraya menyodorkan tisu.

May I help you, Miss?

Mata Dita terbeliak. ADRIAN!

“Dita, jangan bertindak bodoh. Aku serius,” bujuk pria berambut cokelat muda di depannya.

Dita menyambar tisu yang disodorkan, lalu mengeluarkan benda itu setelah membersihkannya dari red velvet. Diusapnya pelan, lalu dibuka, dan…

Cincin.

Matanya menatap Adrian – penuh tuntutan.

“Aku tahu, sebagai penulis, kamu pasti mikir ini sangat klise.” Adrian lalu mengambil cincin tersebut. “Tapi, ini hal terbaik yang bisa aku lakukan. I’ve been busy. I’m being a jerk for you. It’s your birthday and I mess it. Kamu pasti mau mencincangku sekarang.”

I’d love to, Ad.”

Mendengarnya, Adrian malah tergelak sesaat. “Oke, kamu juga benci basa-basi. Let’s skip those itchy bitchy romantic lines. Because, I believe I would do that more impressive if you would be… my wife.

Dita bergeming. Lututnya terasa selembek agar-agar. “W-Wife?

Adrian berlutut dan mengacungkan cincinnya. “Aphrodite Syirafani, you once thought you wouldn’t attract anyone, but see how far you’ve gone. You’re the brightest wallflower I’ve ever seen.

“You’re the one that I want… wait, I need the most.

Satu, dua detik. Dita tidak tahu ke mana semua udara pergi. Apa Adrian yang mencurinya? Matanya kembali menatap cincin itu. Dia memang pernah menyangka…

“Ad, you… you’ve just made all those fiction words come true. How could I let you go? Bloody hell, yes, please. Marry me.

Senyum Adrian mengembang – hampir menyentuh telinga. Perlahan, dia menyematkan cincin itu pada jari manisnya. Kafe kembali terang dan saat itulah Dita melihat semua orang yang dikenalnya masuk memberi sorakan riuh.

Bahkan Nerva dan Fardi yang memberinya cengiran lebar.

Dita ingin menjambak rambut mereka, tapi Adrian sudah terlebih dahulu mendekap dan mencium puncak kepalanya.

Happy birthday, Sweetheart.,” bisiknya. “You got my heart and that’s the only thing that matters…

Apa yang harus dia keluhkan lagi? Sudah 22 jam lewat dari tengah malam dan seseorang melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya

***

(Story inspired by Emblem3’s Chloe. This is what I can give for your 25th birthday, @AntieRaka.)

wallflower: a type of loner. seemingly shy folks no one really knows. often some of the most interesting people if one actuall talks to them. cute. (Urban Dictionary)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s