project · writing

Journal #1: Camilan Sehat

image

Jadi, saya rasa, ini belum terlambat, kan?

*

Bagian paling mengesankan dari menulis fiksi–khususnya novel–adalah prosesnya. Bukan saat karya itu selesai, menurut saya. Terkadang, kita malah ingin melewati bagian yang melelahkan ini. Bagian yang kemudian akan sangat dirindukan saat kata “Tamat” ditulis.

Saya (kembali) terjebak dalam sebuah aktivitas yang menguras aspek fisik dan psikis. Tentu, dalam tingkat yang berbeda. Dulu, saya menjadi penulis sekaligus penyunting dan perancang kaver buku. Sekarang, saya hanya menjadi si penulis.

Karena, sekarang, naskah saya punya penyunting betulan.

Ini yang dulu saya takutkan. Ada banyak selentingan tentang penyunting yang kurang enak didengar. Mulai dari galak, bossy, sampai egois. Bahkan, penulis pemula yang mentalnya kurang kuat bisa langsung angkat tangan begitu catatan revisi pertama turun.

Seorang kawan pernah mengatakan kalau saya ‘takut akan hal-hal yang sebenarnya belum terjadi’. Iya, betul. Dulu, saya takut naskah saya akan diubah total oleh penyunting kalau isinya kurang menarik. Saya khawatir tulisan saya jadi ‘jatuh’. Saya cemas akan terlibat cekcok hebat dengan penyunting.

Ya, ternyata saya salah.

*

Mau tahu rasanya ditelepon penyunting? Panas-dingin, karena akan ada dua jawaban:

1. Naskah diterima;
2. Naskah ditolak.

Saya… bisa dikatakan masuk wilayah nomor satu. Saya harus menjalani proses revisi sampai naskah saya bisa layak terbit. Ini baru langkah awal, saya pikir. Tidak mau kecewa, saya juga harus menekan harapan dan ego yang ukurannya lebih besar dari tubuh saya sendiri.

Sebagai pemula, saya ingin berbagi resep ini saat naskah direvisi dan ada penyunting yang mengawasi:

Hargai waktu.

Sejak awal, saya sudah diberitahu kalau proses revisi untuk penerbit besar akan berbeda. Seperti maraton. Saya harus beradaptasi dengan deadline dan melabeli catatan penyunting sebagai ‘camilan sehat’.

Melelahkan. Juga menyenangkan.

*

Saya lupa ini revisi yang ke berapa. Tapi ini kali kedua saya menerima ‘camilan sehat’ resmi dari penyunting.

Satu perjalanan panjang lagi, dengan banyak pengorbanan. Saya membuat jurnal ini bukan untuk mengeluh, tapi berbagi.

Menjadi penulis fiksi memang terlihat mudah. Tapi, tidak semua orang mau tenggelam terlalu lama di dalam dunianya.

***

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s