project · writing

Journal #2: Excuse

Setiap penulis fiksi punya ‘ritual’ tersendiri sebelum tenggelam dalam dunia aksara. Saya pun begitu. Meski kadang-kadang, kegiatan ini beralih menjadi excuse untuk menghindar. Bhihik.

Hari ini, saya merasa tidak tenang karena rok chiffon dan sepatu baru belum sukses diculik ke rumah. So, instead of writing. I went out for five effin hours. Kalap di tengah baju kece hanya terjadi sekali dalam satu tahun.

Setidaknya, bagi saya.

*

Aksi ‘berburu’ ini juga jadi observasi. Ya, siapa tahu dapet pencerahan di tengah orang-orang yang lagi nenteng kantong belanjaan atau makan di balik tirai *eaaa. Saya juga sesekali mengamati deretan baju dan berusaha mempelajari cara deskripsi. Plus, mengenali nama-namanya. Saya juga lagi kesengsem sama baju-baju rajutan–selintas berpikir, mungkin salah satu tokoh fiksi saya di novel selanjutnya punya hobi merajut. Aih.

Lalu, apa misi saya berburu rok chiffon dan sepatu akhirnya berhasil?

.
.
.

Sayangnya, tidak.

*

Rok chiffon mahal. Jarang yang polos; rerata bermotif dan bikin mata sakit. Sepatu? Saya pikir, mencari jodoh lebih mudah daripada mendapatkan sepatu. Saya bukan tipe gadis pecinta flat shoes, high heels, wedges, dan kengkawan sepatu cantik lainnya. Kets belel selalu menawarkan kenyamanan luar biasa. Tapi, sulit mendapatkannya–bukan si kets, tapi kenyamanan.

Well, kaki saya menjerit minta istirahat. Menjelang berbuka puasa, saya pulang.

Dengan tiga potong baju dan dua helai kerudung.

*

Kadang begitu. Tujuan jelas, tapi sulit merealisasikannya. Menulis juga sama. Bayangan cerita jernih tergambar, tapi tiba-tiba eksekusi tulisan berubah.

Saya tidak mau memaksakan diri. Saya juga tidak mau adu argumen dengan penyunting. Saya sadar kapabilitasnya seperti apa, makanya saya percaya dan memberi naskah novel itu untuk diarahkan.

*

Oke. Saya rasa, excuse-nya sudah cukup. Saya harus tengok revisi besok…

…mungkin setelah saya berburu sepatu di pasar.

*lalu terdengar geraman naga penyunting dari kejauhan*

erl.

***

ps: Saya sedang jatuh cinta dengan lagu “Troublemaker” dari Olly Murs. Why does it feel so good but hurt so bad?, katanya. Ah, saya mengerti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s