project · writing

Journal #6: Muse

Hujan yang turun di luar mengingatkan saya pada tokoh yang Gilang juluki dalam LONDON sebagai Goldilocks. Wanita misterius tersebut lantas mengingatkan saya pada Taylor Swift.

image

Tidak, saya tidak akan bercerita tentang penyanyi ini tentunya.

*

Tapi, saya akan membicarakan ikatan musik dan menulis.

Tadi pagi, saya kembali di-tag oleh Mas Ega dalam note-nya tentang gitar. Sejenak, saya bernostalgia dalam masa-masa sekolah dan obsesi terpendam menjadi seorang gitaris. Saya sempat mempelajarinya selama dua tahun, sampai akhirnya menyerah dan sadar jika ‘jodoh’ saya memang menjadi penulis.

Hal itu tidak lantas menjauhkan saya dengan dunia musik–malah semakin tidak terpisahkan. Sejak SMP, saya menulis beberapa cerita based on music video/song. Naskah yang sedang saya revisi berangkat dari lagu States, “Captivating Me”.

Menyenangkan memang. Katanya, lagu adalah perwakilan perasaan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata. Menginterpretasi lirik lagu menjadi sebuah cerita utuh bukan hal mudah. Tidak jarang saya menemukan lagu yang takdirnya hanya untuk didengarkan saja, padahal saya sanggup membayangkan ceritanya.

Mungkin sang penulis lirik lagu tidak ingin karyanya ‘dikotori’.

*

Selain penulis fiksi–yang sulit dijalani itu–saya juga menjadi kontributor di webzine musik Gigsplay. Awalnya hanya ditawari, karena saat itu tidak ada yang kenal We Are the in Crowd dan saya kebetulan menghadiri konsernya. Jujur, saya sempat bingung harus menulis review konser seperti apa. Setelah membaca beberapa contoh dan drafting, saya harap-harap cemas mengirimkannya.

Di luar dugaan, Gigsplay menyukainya. Saya kembali diberi tugas untuk meliput beberapa acara musik–salah satunya konser Motion City Soundtrack bulan Maret lalu.

Menyenangkan? Tentunya. Selain tidak kerepotan untuk menabung demi tiket konser (hehehe), saya juga sering ‘belanja’ ide di tengah-tengah konser. Ada banyak cerita seru yang bisa diambil, selain euforianya yang tidak bisa saya dapatkan di mana pun.

Beberapa kawan saya adalah anggota bahkan manajer beberapa band indie di Bandung. Saya juga kenal seseorang yang bekerja di sebuah promotor. Kicauan tentang dunia mereka dalam dunia maya menjadi ilmu untuk saya. Ya, siapa tahu saya bisa mengangkat kisah mereka dalam novel nanti–jika mereka mengizinkan. Hihi.

See? Saya tampaknya belum sanggup dipisahkan dengan dunia musik.

*

Saya kangen meliput konser. Mudah-mudahan, setelah revisi selesai dan buku terbit, saya bisa membawa satu kopi dan minta band tertentu untuk menandatanganinya seperti Watic dulu.

image

erl.

***

ps: Tunggu. Ini mungkin pertanda!

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s