project · writing

Journal #7: Lost

Wait, ini hari ke-21 Ramadan? I wish time could go slower now.

*

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu di mana pahala lagi murah-murahnya. Jangan disia-siakan–apalagi ada Lailatul Qadar. Saya bersyukur cepat menyadarinya dan berharap bisa beritikaf dengan baik.

Nah, tapi tentunya, saya juga harus menyelesaikan revisi. Sejak pukul tujuh pagi, saya duduk di depan monitor dan membenahi plot. Agak frustrasi memang–apalagi saat mengunyah ‘camilan sehat’ dari penyunting. Sesekali menertawakan kebodohan yang saya buat, lalu mencebik sebal. Namun, saya bisa membayangkan pekerjaan penyunting saya pasti lebih berat.

Let’s make it easier for her.

*

Saya sedang mengambil jeda sebelum salat Dzuhur dan melanjutkan revisi. Membaca The Demigod Diaries, lalu mencari jalan keluar untuk membereskan revisi. This is depressing and it leads me to be more sensitive and sarcastic. Acara buka bersama yang berderet malah membuat saya lebih selektif. I need brainstorming, not money-wasting *halah.

And, yes, I want to go alone for a day. Self-treatment is always good to me. Life has been changed for months–at least for me. There must be something I have to do.

*

Ya, tulisan ini memang cenderung tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang *eh. But, this is the price I have to pay.

erl.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s