project · writing

Journal #11: The Unseen One

Apa kalian punya satu orang yang menjadi inspirasi saat menulis novel? Seseorang yang diam-diam kalian kagumi, tapi tidak berani mengeksposnya–bahkan dalam ucapan terima kasih. Seseorang yang sifat-sifatnya kalian bagi dan sisipkan pada tokoh-tokoh dalam cerita, supaya dia tidak mengetahui jika dia menjadi separuh nyawa novel tersebut.

Name it as your crush. You are the secret admirer. Whatsoever.

Have you?

*

Saya punya. Lumayan banyak. Bisa laki-laki atau perempuan.

Biasanya, dalam satu kisah–entah cerpen atau novel–akan ada satu orang yang menjadi separuh nyawa di dalamnya. Saya awalnya hanya iseng mencuri satu atau dua sifat. Kadang tidak sadar menceritakan orang tersebut dalam jenis kelamin yang berbeda. Kalau dirasa perlu, saya pasti minta izin dari mereka. Tidak jarang ada yang menerima–bahkan penasaran dengan hasilnya. Tapi, ada segelintir orang juga yang mewanti-wanti saya, “Lin, itu curhat jangan dibikin cerita, ya.” Demi privasi, saya pasti akan mematuhinya.

Ah, kembali lagi pada satu orang ini.

*

Di novel yang belum-punya-judul-fixed ini, ada beberapa orang yang berpengaruh besar dalam memberi inspirasi. Pun, ada satu orang yang memberi nyawa dalam ceritanya. Saya tidak tahu apa dia akan menemukan dirinya di sana, lalu meneror, “Did you write about me?“. Atau mungkin saya yang akan membongkar, “You inspired me while rewriting this story.” Agak gambling karena tidak semua orang suka kehidupannya ditulis, meski hanya secuil.

Saya salah satunya, ahahaha.

Aduh, tulisan ini memang sedikit sentimentil. Tapi, saya yakin para penulis gemar menceritakan atau mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata. Cerita yang dikeluarkan dari hati akan sampai ke hati, katanya. Mungkin sekilas tampak seperti curhat, tapi sebenarnya para penulis hanya ingin berbagi. Semua orang punya, setidaknya, satu kejadian yang sama–sekolah, misalnya. Nah, tapi proses dari perjalanannya yang berbeda.

Mulai ngawur….

*

The point is, kita sebenarnya makhluk yang saling membutuhkan. Bagi penulis, kehadiran seseorang atau lebih yang menginspirasi itu seperti mendapatkan asupan gizi untuk membuat cerita mereka sehat. Jangan takut, kami tahu etika bercerita.

Kami berbagi, bukan membunuh.

*

Tulisan ini didedikasikan untuk mereka yang namanya saya cantumkan di ucapan terima kasih.

Juga, untuk yang tidak tertulis di daftar tersebut, tapi nyawanya muncul di setiap sudut cerita. Dari awal sampai akhir.

erl.

***

ps: buka bersamanya diundur besok. Ah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s