project · writing

Journal #13: Sanctuary

Sebelum nulis setengah ngantuk kayak kemarin, mari disempatkan sambil maskeran saripohaci.

*

Hari ini buka bersama dengan Mamat. Sebelum dese terbang ke Jambi dalam rangka mudik, kami menyempatkan diri untuk makan kece di Ramen House. Kebetulan saya juga udah lama nggak ngeramen dan tempat ini menjadi salah satu favorit saya.

Bagaimana tidak?

image

Di Bandung, ada beberapa tempat yang enak dan cocok buat dijadiin latar tempat novel. Misal di Reading Lights yang pastinya bikin para pecinta buku betah.

image

Atau tempat bertapa saya, Todays Koffie yang mungil di kawasan Dago atas. Cocok buat yang nggak mau deket-deket sama keramaian, tanpa kehilangan esensi kedai kopi.

image

image

Beberapa penulis pasti punya, setidaknya, satu tempat yang dijadikan sebagai sanctuary untuk mengolah ide-ide mereka. Saya sebenarnya jarang mengetik di luar karena terlanjur nyaman jadi ‘manusia gua’ di kamar. Tapi, tempat-tempat di atas menjadi alternatif kalau saya butuh kehidupan sosial atau sekadar berbaur dengan dunia nyata.

*

Ramen House sebenarnya menjadi tempat yang bersejarah karena di sana saya bertemu dengan Nico untuk membicarakan naskah. Gerbang menuju pertemuan novel saya dan penerbit. Omong-omong, selama satu minggu ke depan, saya akan kembali sibuk dengan revisi. A final one, I hope.

*

Oh ya, selamat mudik bagi yang menjalankan! Semoga mendapat ide-ide segar di perjalanan.

Perjalanan ini~~ *nyetel lagu Ebiet G Ade*

erl.

***

ps: It marks a year after my aunt passed away. We miss you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s