Fiction · project · writing

Journal #14: Begin Again

“Lo belum benar-benar jatuh cinta sebelum berurusan dengan penulis.”

Begitu celetuk seorang kawan yang baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Mungkin dia prihatin melihat perjuanganku dalam mencari pasangan hidup–tulang rusukku yang hilang. Sudah puluhan undangan pernikahan yang kuterima, tapi giliranku untuk membuatnya belum juga tiba.

“Ah, emangnya kenapa? Istri lo juga bukan penulis,” tukasku.

“Pokoknya rasain dulu, deh.” Dia tertawa sambil menepuk pundakku. “Spesies yang paling sulit dicuri hatinya.”

“Kalau gue berhasil?”

“Kalau lo berhasil ngajak dia nikah, gue urus katering resepsi lo!”

Aku tertawa lepas. Tidak mengiyakan maupun menolaknya.

*

Tiga bulan kemudian, aku terbang ke Paris untuk memulai kuliah S2 di salah satu universitas terkemuka. Menjelang kepala tiga seharusnya aku bekerja atau, ya, mencari pasangan hidup. Namun, siapa yang mau melepas beasiswa kuliah di tempat sekeren ini?

Sore setelah kuliah pertama, aku menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di pinggiran Sungai Seine. Musim gugur baru saja tiba dan membuat suhu turun drastis. Orang-orang yang berlalu-lalang merapatkan mantel mereka. Sesekali menghindari dedaunan yang sama ramainya beterbangan di udara. Ketika aku meminta cangkir kopi kedua, saat itulah gadis ini datang.

*

Aku masih ingat senyumnya saat berdiri di hadapanku. Rambut hitamnya dikepang besar, dengan poni rata yang menutupi alis. Mata kucingnya mengingatkanku pada Taylor Swift.

“Boleh aku duduk?” Dia bertanya dengan aksen Prancis yang tidak terlalu kental. Kursi di hadapanku memang tidak terisi, jadi aku mengangguk saja.

Gadis ini serta-merta hanyut ke tengah dunianya dalam dunia kecil bernama netbook. Aku diam-diam memperhatikan, lalu mengambil sketch book dan mulai menorehkan gurat-gurat halus di atasnya. Kami duduk cukup lama di sana sampai waktu makan malam tiba.

“Terima kasih,” ujarnya mengagetkanku. Dia tersenyum simpul, lalu menjejalkan netbook ke dalam tote bag-nya. Aku hanya balas tersenyum sebelum dia beranjak meninggalkan kedai.

Setelah sekian lama, aku kembali diserang rasa penasaran yang menggila. Kutatap sketsa dalam sketch book-ku.

Darn, I even do not know her name.

*

That’s the beginning. That leads me to everything.

Kami bertemu lagi satu minggu kemudian di kedai yang sama. Kali ini, aku mengajaknya untuk mengobrol setelah mengamati kebingungannya di depan netbook selama sepuluh menit. Seolah mengamini celetukan temanku, gadis ini mengaku sebagai seorang penulis. Baru berusia 22 tahun beberapa bulan yang lalu dan bekerja sebagai penerjemah lepas juga.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini hanya sebuah permulaan.

Aku jatuh cinta. Aku mengira-ngira kapan dia berhasil menerobos hatiku–mungkin saat kami mengunjungi Eiffel. Mungkin aku dijampi-jampi di bawah monumen itu. Kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Kalau tidak, kenapa dia mengizinkanku untuk memeluknya? Kenapa dia tidak menolak saat aku memagut bibirnya?

Kupikir, semuanya akan berjalan normal. Sampai aku ingat apa kata kawanku saat itu.

Lo belum benar-benar jatuh cinta sebelum berurusan dengan penulis.

*

Ada beberapa hari saat dia menjadi amat sulit untuk dihubungi. Atau tidak mengunjungi kedai tempat kami bertemu kali pertama. Aku jadi frustrasi. Lalu sadar jika hubungan kami bahkan tampak bias.

Kemudian, aku mengunjungi apartemennya. Dia ada di sana–dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di sekitar matanya. Dia menolak untuk kurengkuh, sebelum terisak dan menangis.

“Kenapa?” tanyaku, agak panik. “Ada masalah?”

Dia menyeka air matanya. “Apa kamu kuat aku abaikan seperti ini terus?”

Aku terdiam sejenak. Dia tampaknya mengerti jika selama ini, kami menjalani hubungan yang agak aneh.

“Sebenarnya, tidak,” sahutku.

“Lalu, kenapa kamu bertahan?”

Kujawab, karena aku mencintainya. Terlalu banyak perasaan yang mengikatku pada gadis ini. Dia kembali menangis dan tidak menolak saat aku memeluk tubuh mungilnya.

“Aku tidak mau memaksa kamu,” gumamnya. “Ini yang selama ini aku khawatirkan. Tidak ada yang lama bertahan dengan seorang penulis.”

“Kalau begitu, kita menikah saja.”

Iya, itu memang tanggapan ngawur. Cukup ngawur sampai dia menatapku dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.

“Kalau kamu cukup waras, kamu seharusnya meninggalkanku.”

Kepalaku menggeleng. “Aku terlalu waras untuk tetap mempertahankan kamu.”

Dia tidak melontarkan apa-apa lagi saat aku mengecup keningnya.

*

Itu adalah kali pertama aku melamar seorang perempuan. Walau tidak seromantis adegan dalam film atau drama di televisi.

Dia tidak menolak, juga menerimanya.

Aku juga tidak mau memecah perhatiannya. Sesekali, aku melihatnya di toko buku, suvenir, atau museum. Dengan mantel hitam yang sama, dia mengamati benda-benda yang tertata rapi di sana. Sesekali, aku mengunjungi blog pribadinya–membayangkan dia duduk berjam-jam di depan netbook bersama secangkir kopi dingin.

Aku tidak pernah mengalami hubungan serumit ini. Sekuat ini. Semenyiksa ini. Di satu sisi, aku tahu akan butuh waktu yang lama untuk mengukuhkan hubungan kami. Di sisi lain, akan ada banyak kejadian yang berpeluang besar untuk meruntuhkan perasaanku padanya.

Seandainya melompat dari Eiffel tidak akan menewaskanku, aku sudah melakukannya setelah melamar dia di apartemen.

*

Aku tidak mau memeriksa kalender. Namun, otakku sudah mencatat kegiatan ini secara permanen: hari Rabu, kedai kopi, Sungai Seine. Dia belum memberi kabar, meski aku sering melihatnya berkeliaran.

Di kedai, tak jauh dari meja, aku mendapati pasangan yang terlibat dalam pembicaraan serius. Aku tidak bisa melihat wajah si pria karena dia memunggungiku. Perempuan yang duduk di hadapannya memberi tatapan dalam sambil menggenggam erat tangan pasangannya.

Diam-diam, aku mengabadikan momen itu dalam guratan di atas kertas. Selama dua puluh sembilan tahun, aku belum pernah seemosional ini saat menggambar.

Setelah sketsa itu selesai, aku memotret dan melampirkannya dalam attachment surel. Pasangan tadi sudah pergi dengan tangan yang saling mengamit kuat. Setelah mengamati Eiffel selama beberapa detik, aku mengirimkan foto itu dengan pesan singkat.

Aku rindu padamu.

Kendati aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Semoga, secepatnya, di kedai ini.

Falling in love at a coffee shop 🙂 #illustration #sketch #artwork

A post shared by Mutia H. Al Hanan (@mutialhanan) on

But on Wednesday, in a cafe, I watched it begin again.

***

06.55 AM

(photo taken from @mutialhanan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s