project · writing

Journal #21: Perih

Ini pengakuan. Saya belum pernah mengirim revisi tepat waktu. Padahal ngakunya nggak suka sama keterlambatan.

How ironic.

*

Saya baru menyelesaikan revisi sampai mata perih dan pandangan mengabur. Selama dua jam menahan kantuk, tapi begitu nyentuh kasur malah melek lagi. Aneh. Tapi, setidaknya, saya sudah merampungkan revisi.

Jadi, kehidupan normal perlahan menggeliat kembali.

*

Tebak, saya kehilangan topik untuk dibicarakan. Tapi, saya sudah berkomitmen untuk menyelesaikan proyek menulis ini. Sekosong apapun pikiran saya, bukan berarti jadi penghalang untuk menulis.

Nite, everyone!

erl.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s