project · writing

Journal #24: Repost

Friendzone

‘Kalau aku telat dateng, kamu langsung maen aja, Rae! Di sini macet.’

‘Nggak, Mi, aku bakal nungguin kamu.’

Raeka menatap layar ponselnya yang belum berkedip kembali sejak sepuluh menit terakhir. Dia cemas menunggu balasan dari Miya, sementara lomba akan dimulai kurang dari 15 menit lagi.

“Pake rollerblade lo, Rae!”

Raeka malah menaruh rollerblade birunya di atas kursi. “Well, lo mau tukeran nomor peserta sama gue? Lo nomor sepuluh, kan?”

Arija mendengus kesal. Dia tidak habis pikir dengan tindakan Raeka yang keukeuh akan menunggu Miya supaya gadis itu menonton aksinya di skatepark. Apa itu sikap Raeka sebagai balas budi atas dukungan Miya selama masa vakumnya bermain rollerblade?

Namun, sejak Miya ikut terjun ke skatepark dan memancing perhatian para cowok di sana, sikap Raeka berubah menjadi agak posesif. Tatapan mengawasi Raeka yang seperti elang, bentakan sekaligus kesigapannya menolong Miya saat terjatuh, dan konsentrasinya yang mudah buyar tiap kali Miya mengobrol dengan pemain rollerblade yang lain.

“Ada apa, sih, di antara lo sama Miya?” tanya Arija, santai. “Gue tau kalian temenan sejak SMA. Tapi, baru kali ini, lho, gue ngerasa kalian bukan hanya sekedar teman.”

“Banyak yang bilang gitu—“

No, I mean…” Arija termenung sejenak. “Pernah denger istilah friendzone?”

Hell no, Ri! Lo mau bilang gue dan Miya terjenak dalam zona itu?”

Mereka terdiam sejenak saat panitia mengumumkan jika lomba akan dimulai sepuluh menit lagi.

“Gestur tubuh menjelaskan semuanya, kok!” Arija menyipitkan matanya. “Hmm, sejak kapan juga, ya, kalian jadi suka ngegombal?”

“Gombal?”

’Kamu cantik pake rollerblade, Mi.’,’Aku suka liat kamu pake rollerblade, Rae.”

“Ri—“

“’Kangen, deh, ngobrol sama kamu di coffee shop tiap beres skating.’, ‘Mau aku traktir cappuccino supaya kamu betah dengerin curhat aku?’”

Rahang Raeka terkatup rapat. Dia sendiri bingung dengan perasaannya terhadap Miya akhir-akhir ini. Tiba-tiba saja, dia gelisah tiap kali menunggu pesan dari Miya. Ada letupan aneh ketika dia menyaksikan Miya tertawa karena leluconnya. Ada cemburu berlebih ketika Miya mengajak temannya yang lain, bukan Raeka, untuk meliput acara.

“Lo jatuh cinta, ya?” Arija memecah lamunan Raeka.

“Won’t you shut up?”

Arija menyeringai puas dan semakin tergoda untuk memancing emosi Raeka. “Eh, minggu kemarin lo jalan sama Talitha, kan? Miya ngeliat, tuh, dan jadi cranky abis! Dia nggak tau kalau Talitha sepupu lo.”

Raeka melongo. “Damn! Pantesan dia kayak ogah-ogahan ngobrol sama gue!”

“Dan lo uring-uringan?”

“Well—“

Percakapan mereka terinterupsi oleh deringan dari ponsel Raeka. Begitu nama Miya muncul di layar, Raeka langsung menjawabnya.

“Rae, aku jalan kaki ke skatepark, ya? Bentar lagi nyampe!”

“Jalan kaki? Motor kamu kenapa?”

“Emh, nggak apa-apa. Tunggu aku, ya?”

Belum sempat bertanya, Miya memutus percakapan. Bukannya tenang, Raeka malah semakin khawatir. Apalagi, mendengar suara Miya yang terdengar keletihan tadi, dia curiga ada sesuatu yang buruk terjadi di sana.

Arija berdehem. “Jadi nggak kita tukeran nomor peserta?”

Tanpa pikir panjang, Raeka menyerahkan nomor pesertanya. “Go ahead.

“Lo nggak takut diomelin Miya gara-gara nggak nurutin dia?” tanya Arija sembari menyerahkan nomornya.

“I’ll take all risks, Ri,” sahut Raeka, pendek dan mantap.

Arija bersiul panjang, lalu menepuk-nepuk pundak Raeka. “Apapun yang akan terjadi, jangan sampai bikin lo nyesel! Good luck, bro!”

Setelah Arija memasuki skatepark, Raeka kembali menunggu Miya sambil membersihkan rollerblade birunya. Dia baru ingat, Miya juga yang memilihkan rollerblade itu untuknya. Cocok sama kamu, Rae. Kalem.

“Raeka!”

Mendengar suara itu, Raeka langsung menengadahkan kepalanya. Senyum yang siap dipamerkan langsung pupus ketika menangkap keganjilan pada sosok Miya. Langkahnya pincang dan nafas Raeka tercekat begitu melihat…

“Miya!” Raeka berlari ke arah gadis itu. “Kamu—kecelakaan?”

“Tadi ada tabrakan beruntun, motor aku jatuh—“

“Terus kamu malah ke sini bukannya pergi ke rumah sakit?” sembur Raeka, tajam. “Tangan kamu luka, Miya! Kalau didiemin terus bakal jadi infeksi!”

“Aku pengen liat kamu—“

“Kamu mau ikut-ikutan menderita kayak aku tahun kemarin, iya? Hell, you don’t have to! Aku rela nggak ikutan lomba ini, asalkan kamu mau aku anter ke rumah sakit sekarang!”

Miya menggelengkan kepalanya. “Lomba ini cuma setahun sekali, kan, Rae? Aku tahu sebesar apa maknanya kalau kamu bisa menang!”

“Tapi, kalau sampai kamu kehilangan tangan?” potong Raeka lagi. “If that happens, I quit to skate!

Mereka terdiam ketika nama Raeka dipanggil oleh panitia.

“Kamu dipanggil tuh, Rae!” seru Miya.

Bukannya berlari masuk ke skatepark, Raeka malah bergeming di hadapan Miya. Tangannya terkepal kuat. Sekali lagi namanya dipanggil dan Miya memelototinya. Raeka tetap diam

Karena dia baru membulatkan tekadnya.

“RAEKA!” Miya terperanjat kaget saat Raeka membopongnya. “Kamu mau bawa aku kemana?”

“Rumah sakit.”

“Tapi, ini lomba, roller—“

Miya kehabisan udara untuk bernapas. Raeka mencium bibirnya.

“Would you like to shut your mouth for a while, love?”
***

01.49PM
Friday, March 23 2012

***

ps: dulu nulis ini buat dapet paket buku dari GagasMedia. Gagal. Eh, sekarang… :’)

pps: saya lagi bingung mau nulis apa. :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s