project · writing

Journal #36: When We Were Here

image

Aku kembali ke tempat ini. Selain untuk membunuh rasa lapar, juga melepas rindu padamu.

Kukira akan penuh, karena aku datang pada jam makan siang. Tapi, sesampainya di tenda sederhana itu, aku hanya melihat seorang pria–yang postur tubuhnya mengingatkanku padamu–sedang melahap santapannya. Sementara pria yang berdagang sedang membereskan piring. Aku lantas memesan satu porsi dan duduk di dalam tenda.

Aku mengingat kali terakhir berkunjung ke tempat ini–dua bulan yang lalu? Saat itu, dua meja yang disediakan disesaki para pelanggannya. Penuh canda dan tawa. Kontras sekali dengan hari ini. Sepi dan tenang.

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Segerombolan karyawan datang menginvasi tenda. Aku menyingkir–kembali ke meja tempat kita menikmati makan siang dulu.

Tampaknya aku datang kepagian. Si pedagang mengatakan jika pangsitnya belum tersedia. Aku tidak keberatan untuk menikmatinya tanpa bagian favoritku itu.

Seperti aku tanpa kehadiranmu selama beberapa bulan terakhir.

Saat menyantap makan siang, dua pasangan kekasih duduk satu meja denganku. Satu pasangan penuh tawa dan aksen Sunda. Satu pasangan lain bermata sipit dan hemat bicara. Terintimidasi? Kupikir ya karena sekonyong-konyong aku ingin cepat menghabiskan santapanku.

Jujur saja, aku ingin membeli satu lagi untukmu. Aku ingat beberapa hari yang lalu kamu mengatakan ingin menyantap makanan favoritmu. “Mi yamin kesayanganku,” katamu. Menjadi bagian dari hal yang kamu cintai membuatku ingin tersenyum sekaligus menangis.

Maafkan aku.

Aku yang masih berdiri di tempat, sementara kamu terus berjuang meraihku, meski dalam situasi sesulit ini. Aku yang masih belum peka dengan limpahan kehangatan yang kamu berikan sejak awal. Aku yang masih terlalu pengecut untuk membalas perhatianmu.

Bahkan ketika aku mencurahkan waktu lebih banyak pada tulisanku daripada denganmu, kamu memakluminya. Kamu bilang hanya butuh satu sapaan singkat di tengah kesibukanku. Aku mulai khawatir–sampai kapan kamu akan bertahan?

Ingat permintaanmu dalam percakapan menjelang tidur itu?

“Tulislah sesuatu tentangku.”

Seandainya kamu tidak terjebak dalam keterbatasan, aku akan menunjukkan tulisan-tulisan yang kubuat untukmu. Jauh, jauh, sebelum kamu memintanya.

Lalu aku menangis. Merasa bodoh sendiri.

Kamu tahu mengapa? Karena aku terlalu sering mengabaikan mereka yang benar-benar mencintaiku.

Sekarang kamu.

*

Aku juga punya satu permintaan.

Maukah kamu bertahan?

***

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s