Life

“Itu yang di depan, jalannya yang cepet, dong.”

image

Siang ini, saya agak terkejut begitu sampai di kampus. Setelah tiga bulan menikmati masa liburan semester, saya kembali ke rimba Setiabudhi untuk kuliah. Sebenarnya jatah libur masih ada dua minggu, tapi dicuri habis-habisan oleh masa bimbingan penulisan laporan Field Study.

Oh ya, jadi apa yang mengejutkan?

Gerombolan muda-mudi asing. Maba-mahasiswa baru.

Ya gimana nggak kaget? Satu minggu terakhir, lingkungan kampus masih jauh dari denyut kehidupan. Yang terlihat hanya pegawai, dosen, atau mahasiswa yang sedang mengurusi tetek-bengek perkuliahan (seperti saya). Sampai tadi siang… tampaknya tiap petak di kampus dijejali calon-calon agen perubahan (julukan yang setahu saya ditujukan untuk mahasiswa).

Sambil mencari teman satu geng bimbingan, saya mengamati wajah-wajah baru tersebut. Mereka disibukkan oleh atribut Ospek yang akan digelar tanggal 16 September. Karton, kaus polos, spidol, sampai gunting pindah dari satu tangan ke tangan lain. Derai tawa dan obrolan memenuhi koridor. Pemandangan ini menarik senyum saya sekilas. Nostalgia. Mereka mengingatkan saya pada masa-masa Ospek tiga tahun yang lalu.

Saya menemukan teman-teman sedang duduk di depan ruang Akademik. Kami mengobrol sebentar sebelum saya memperhatikan satu kelompok maba yang berkerumun tak jauh dari tempat saya duduk. Mereka berasal dari empat jurusan berbeda: Sastra Inggris, DKV, Fotografi/Film, dan Seni Musik. Beberapa orang di antara mereka sibuk mendata keperluan Ospek, tapi ada juga yang lebih senang berkutat dengan gadget-nya.

Ospek selalu menjadi momok bagi para mahasiswa baru di Indonesia. Identik dengan tugas-tugas aneh sampai bentakan senior (kadang main fisik pula). Miris, sih. Secara tidak langsung, Ospek seperti ini mengaburkan pandangan para maba dari kehidupan perkuliahan sesungguhnya. Yang lebih berat (apalagi tingkat akhir). Kadang, saya mengatakan pada mereka yang akan ikut Ospek, termasuk adik saya dulu, bahwa masa orientasi ini tidak ada apa-apanya. It’s just a drama.

*tarik-buang napas dulu*

Sekitar beberapa menit kemudian, hujan turun–membubarkan para maba yang berkumpul di taman. Karena koridor makin penuh, saya dan teman-teman pindah ke perpustakaan. Itu juga tidak lama karena dosbingnya tidak bisa datang ke kampus (aaargh). Kemudian, saya memutuskan untuk salat Ashar di masjid sebelum pulang.

Selesai beribadah, sayup-sayup saya mendengar seseorang berteriak dari luar,

“Itu yang di depan, jalannya yang cepet, dong. Kasian yang di belakang. Kehujanan.”

Saya mengamati dari jendela. Para maba membentuk barisan ke arah pos satpam, sementara ada kakak tingkat mereka–dari fakultas tetangga–mengawasi dari samping dengan kostum serba hitam.

Sudah dimulai rupanya.

Selamat menempuh babak baru di dunia perkuliahan. Ini peringatan serius: don’t take Ospek too serious. Ada kehidupan yang lebih berat menanti.

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s