literature · writing

[Review] STPC: BANGKOK by Moemoe Rizal

Seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) terbitan GagasMedia adalah salah satu seri yang mencuri perhatian saya tahun ini. Meski agak telat mengikutinya. Saya memulainya dari LONDON (Windry Ramadhina), MELBOURNE (Winna Efendi), dan kota ketiga yang beruntung saya kunjungi adalah BANGKOK (Moemoe Rizal).

Sebenarnya, saya sudah lama mengincar novel ini, terlebih lagi karena editor memasukannya ke dalam daftar buku favorit. Lalu, saat ulang tahun bulan Oktober, saya menyusup ke acara klub buku penulisnya (ini juga gara-gara editor. “Nggak apa-apa, datang aja,” katanya). Selama beberapa jam mencuri dengar–dan terjebak dalam obrolan dengan topik jodoh–saya makin gatal ingin membeli. Jadi, sekitar lima hari yang lalu, saya memboyong BANGKOK ke rumah.

Keputusan saya ternyata tidak salah. BANGKOK sanggup menenggelamkan saya ke dalam berbagai emosi. Oh ya, ini blurb-nya sebagai bayangan:

Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to the Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Wahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengai dentuman musik serta cahaya neon yang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

(sebenarnya ada ucapan penutup dalam bahasa Thai, tapi ribet ditulisnya. Ahahaha.)

Saya suka (dan iri) dengan cara Moemoe menggambarkan para tokohnya. Mereka punya karakter yang sangat kuat. Mulai dari Edvan yang narsisnya mengingatkan saya pada Bartimaeus (The Amulet of Samarkand) sampai keriaan para waria yang membuat saya cengengesan. Konflik ceritanya juga membuat saya, kadang-kadang, harus mengambil jeda sejenak untuk mengatakan, “Fuuuck.

BANGKOK bukan hanya membawa saya ‘jalan-jalan’ ke tempat-tempat eksotis, tapi juga kenangan saya dengan mata kuliah Cross Cultural Understanding. Kelompok saya mendapat jatah Thailand saat itu. Kami harus mempresentasikan budaya negara tersebut–plus harus membawa salah satu santapan dan menunjukkan tarian tradisionalnya. Nah, setelah membaca novel ini, saya agak gemas juga. Kalau BANGKOK terbit satu-dua tahun yang lalu, pasti sudah saya jadikan rujukan untuk mengolah presentasi. *hela napas*

Overall, saya merekomendasikan BANGKOK untuk masuk ke dalam koleksi kalian. Jangan lihat tebalnya, karena begitu sampai di halaman terakhir, saya mengerang sebal karena ceritanya selesai (begitu cepat).

Rate? 4.5/5. Ada beberapa kesalahan cetak kecil yang agak mengganggu dan kalimat-kalimat Thai yang tidak ada terjemahannya (dan saya malas buka Google Translate).

Tidak sabar untuk membaca karya Moemoe Rizal selanjutnya.

Selamat tersesat di BANGKOK,

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s