writing

[Review] #KAW (Kumaha Aing Weh)

[peringatan: akan ada umpatan kasar yang keluar di review ini karena penulis merasa dikerjai habis-habisan oleh bukunya]

*

Jadi, sekitar satu tahun yang lalu (atau lebih), saya pernah bilang sama salah satu admin #KAW, “Kayaknya kamu harus jadi penulis (komedi), deh.”

Kun fayakun. Tahun ini mereka meluncurkan buku.

Dafuq.

Sebenarnya, genre seperti buku #KAW ini bukan favorit saya. Tapi karena penasaran–dan kenal dengan sesiapa yang nulis–akhirnya, saya memutuskan untuk beli (jangan bilang sama mereka kalau saya belinya di toko buku diskon ya. Masih mending daripada minta. Teman yang baik nggak ngemis gratisan).

Buat yang bukan orang Sunda asli, pasti akan cukup kesulitan memahami isinya. Sekitar 85% bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda–kendati yang dipakai adalah bahasa sehari-hari yang cenderung kasar. Nggak kebayang juga, sih, kalau akun se-gimana-gue macam @kumahaaingweh menulis seanggun majalah Mangle.

image

Butuh persiapan sebelum baca buku ini, karena biasanya saya melahap buku-buku ‘waras’ yang dari cara penulisan sampai plotnya dipikirkan matang-matang. Sementara #KAW berada di kutub lain. Selain cerita-cerita pendek, ada nukilan twit dan kamus bahasa Planet Namec yang membuat saya geleng-geleng kepala. Belum lagi jebakan betmen di bab Pertempuran Ciwidey yang MEMANG sengaja disusun dari belakang. Darn. Ini serius. Jadi kayak baca Al-Qur’an. Oh, jangan sekali-kali mempraktikan kamus Jepang-Sunda kalau kalian bertemu orang-orang Jepang asli. Pokoknya jangan. Jangan!

Anehnya, setelah dibuat sakit mata dan dikerjai habis-habisan, saya tetap terhibur. Dari halaman awal sampai akhir, saya ketawa-ketawa gila di kamar. Nggak tahu karena kontennya lucu atau merasa kesepian (lah).

Sayangnya, ada beberapa typo yang dan singkatan yang membuat saya terganggu. Bisa-bisanya ada kata ‘yg’ (yang) tercetak di buku. Lalu, penggunaan kata ganti orang yang tidak konsisten (kok ada ‘gue’, sih? Ini Betawi, kan?). Sejauh ini, saya maklumi karena admin-admin #KAW basic-nya memang bukan penulis (tapi kalau sampai ada sekuel dan kesalahan-kesalahan ini masih terjadi… tak ada ampun!)

Rate: 3/5. Saya menghargai usaha #KAW untuk melestarikan bahasa Sunda dalam kemasan santai. Tapi, ya, sekali lagi, kalau ada lanjutan, tolong perbaiki tata penulisannya, ya, karasep.

Selamat menjadi gila,

erl.

Hirup mah kumaha aing weh, asal ulah nyusahkeun kolot. Bisi dikutuk jadi tumila. #KAW” (hal 168)

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s