Life · literature · writing

Don’t Dare to Underestimate

image

Siang tadi, saya pergi ke BTC untuk mewawancarai target tugas mata kuliah Literary Journalism. Seharusnya, saya sudah melakukan hal ini sejak sebelum UTS. Nyatanya–karena penundaan dan excuses nggak penting–baru terwujud sekarang.

Setelah menunggu selama satu jam, target saya muncul. Dia adalah seorang pria tua yang bekerja sebagai petugas penyeberang jalan (agak aneh nggak, sih? Kesannya si jalan ini butuh diseberangkan. Tapi, ah, sudahlah). Saya menyapanya dan berhasil meminta waktu untuk wawancara.

Well, saya tidak membawa daftar pertanyaan karena takut menjadi kaku. Jadi, saya bilang sama bapak ini kalau wawancaranya seperti ngobrol biasa. Tanpa diduga, sejak pertanyaan pertama meluncur, saya langsung mendapat fakta mencengangkan:

Dia pernah bekerja di Kimia Farma.

“Tapi, saya mengambil pensiun dini. Sebelumnya juga pernah sekolah di STHB,” ujarnya. Buset, nggak kaget gimana, tuh?

Saya semakin tertarik dan membiarkan bapak ini–eh, dia punya nama: Maman–bercerita tentang kehidupannya. Dia sudah bekerja di BTC selama hampir 14 tahun dan menjadi senior untuk dua petugas lainnya.

Lucu–juga agak malu–saat Pak Maman mengulas tentang agama. Apalagi, saat dia bertanya, “Kalau solat menghadap ke mana?”

“Kiblat?”

“Ah, masa?”

“Eh, barat?”

“Bukan, atuh, Neng. Solat mah menghadap Tuhan.”

Dyaaar!

*

Pak Maman ternyata sudah terbang ke tanah suci tahun 2004. Karena hal itu, dia mendapat panggilan lain dari rekan-rekannya yang bekerja di BTC: Pak Haji.

“Jadi, jarang ada yang tahu nama asli saya. Panggilnya pasti Pak Haji,” katanya, lalu tertawa.

Pak Maman punya tiga anak (mengagumkan). Dua di antaranya pernah mengecap bangku kuliah sebelum merantau ke Jakarta dan Qatar (kerja di perusahaan minyak, dooong). Putri bungsunya baru masuk ke sekolah kedokteran. Sementara istrinya adalah seorang dosen Sastra Sunda di Unpad.

“Saya ketemu istri waktu jalan-jalan di Bali,” katanya. “Dia orang Jepang.”

Oh, ya, Pak Maman ini nyambi jadi pemandu juga, lho. Sesekali diundang ke Hotel Topas untuk menemani turis-turis asing. Kerennya, dia bisa berbicara dalam enam bahasa–termasuk Mandarin.

*

Yap, Pak Maman tidak pernah menyangka akan bekerja sebagai petugas penyeberang jalan. Tapi, dia tidak merasa malu dan takut. Baginya, bekerja itu harus rida karena Allah, meski gajinya tidak terlalu besar.

“Pesan saya mah, Neng, rajin belajar, jangan banyak main. Cepet lulus dan jadi orang sukses,” pungkasnya saat menyeberangkan saya ke depan gedung BTC.

Amin, Pak. :’)

*

Sorenya, saya mengubah wawancara tadi ke dalam tulisan. Beberapa menit setelah dikirim ke dosen, langsung dapat tanggapan.

image

Yay. Terima kasih, Pak Haji.

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s