writing

[Review] Spasi: Tentang Papeda

Cinta itu membingungkan.

Aku tidak pernah mengira akan jatuh cinta kepada sosok dingin seperti kamu. Namun, semakin aku menyangkal, rasa itu malah semakin kuat. Dengan sikap manismu yang angin-anginan, kamu mengombang-ambing perasaanku seperti ombak. Sementara, dia hadir di antara aku dan tembok tinggimu.

Akal sehatku tahu harus melangkah ke mana. Lalu, apa yang mesti kulakukan bila hati malah menunjuk arah sebaliknya?

*

Awalnya, saya tidak menyangka jika “Spasi” adalah novel remaja. Begitu mengamati cover-nya, saya baru ngeh dan penasaran saat si tokoh cowok berdampingan dengan vespa putih (saya suka sama vespa soalnya).

“Spasi” bercerita tentang Denta, siswi SMA yang baru pindah ke Ambon dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan Maluku yang jauh dengan Pulau Jawa. Seperti remaja kebanyakan, Denta juga bergumul dengan masalah-masalah di sekolah, terutama cinta. Dia kesengsem dengan seorang cowok bernama Malabi. Ah, tampak klasik, kan? Tapi, bagaimana jika cerita ini dituturkan dengan latar tempat yang jarang diambil penulis lain?

Sebelumnya, saya pernah membaca “Kei” karya Erni Aladjai yang mengambil tempat di Maluku pada saat terjadi keruruhan tahun ’98-’99. Well, kendati saya sudah mengenal sepotong Indonesia Timur dari karya Erni, “Spasi” tetap memberi pengetahuan baru. Bagaimana Ello Aris menyisipkan kosakata dalam bahasa daerah setempat (sambil membayangkan aksennya yang unik), mengenalkan saya dengan tempat-tempat wisata di sana dan, tentunya, kuliner khas Maluku: papeda. Terlebih lagi, papeda dalam novel ini bukan hanya berfungsi sebagai makanan, tapi juga panggilan sayang (sila dipraktikan).

Namun, saya agak bosan karena cerita terus disorot dari kehidupan Denta. Padahal, “Spasi” menggunakan sudut pandang orang ketiga yang bisa mengeksplorasi plot dari berbagai tokoh. Mungkin “Spasi” akan lebih menarik jika diambil dari sudut pandang orang kesatu (Denta), jadi pembaca akan ikut larut dalam perasaannya.

Rate: 3/5. Tahun ini cukup menggembirakan karena beberapa penulis Indonesia mulai mengangkat tema kearifan lokal. Salah satunya Ello Aris dengan “Spasi”.

Selamat mencari ‘papeda’mu,

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s