writing

[Review] Versus: Teori Paradoks

AMRI
“Perselisihan ini tidak akan pernah selesai. Dan aku tahu, kami akan selalu hidup dalam bayang-bayang pertikaian. Seperti cerita turun-temurun yang diwariskan dari generasi-generasi sebelum kami.”

CHANDRA
“Menjadi dewasa mengajarkan gue kalau hidup itu nggak pernah jadi lebih mudah. Lo harus siap menghadapi segala hal yang sama sekali nggak menyenangkan.”

BIMA
“Saya berkutat dalam masalah mereka yang membenci perbedaan. Saya tidak sedang berusaha mencari kesamaan atau membuat persamaan agar kita bisa saling menerima. Saya berusaha hidup di antara itu semua. Hidup di antara perbedaan.”

VERSUS adalah kisah persahabatan tiga orang lelaki.
Tiga orang muda yang punya sudut pandang dan prinsip masing-masing.
Mereka berbicara tentang semangat anak muda, Indonesia, juga tentang cinta dari sudut pandang masing-masing.
Dengarkanlah baik-baik karena mereka akan mulai bercerita.
Tentang perbedaan, kebersamaan, dan pemikiran yang satu.

*

Jadi, benar apa kata sebagian besar pembaca setia karya Robin Wijaya jika “VERSUS” memiliki napas yang berbeda. Saya pribadi–sebelum mendengar opini tersebut–sudah mengincar novel ini untuk referensi draf. Beruntung sekali karena saya berkesempatan untuk bookswap dengan penulisnya.

Mengambil setting di pengujung tahun ’90-an, “VERSUS” mengajak saya bertemu dengan Amri (kya, kyaaa. *ceritanya teriak histeris*), Chandra, dan Bima. Mereka menawarkan kisah-kisah pelik yang dihadapi Indonesia dari sudut pandang remaja; kerusuhan, krisis moneter, hingga isu sensitif seperti SARA. Tampak tricky, tapi Robin menuturkannya dengan bahasa yang mudah dicerna.

Selain itu, penggunaan PoV orang kesatu untuk tiga orang berbeda membuat saya agak was-was. Syukurlah sampai menutup halaman terakhir, tidak ada ‘kebocoran’ suara yang ditemukan. Pemakaian kata ganti orang kesatu tunggal–aku, gua, dan saya–cukup efektif untuk membedakan ‘jiwa’ masing-masing tokoh.

Saya hampir tidak menemukan cela selain tanda baca yang membuat konteks kalimat menjadi beda. Semoga kalau cetak ulang bisa direvisi, ya.

Rate: 4.5/5. Bravo, Robin. “VERSUS” sukses membuat saya berkeringat (secara harfiah). Adakah kisah lanjutannya? Romance untuk Amri, misalnya? #TeamAmri

Regards,

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s