Life · writing

#10TahunJomblo: A Throwback

image

Sanyo 3000W? Ini stereo atau pompa aer?

*

Linimasa GagasMedia sedang riuh dengan perayaan #10TahunJomblo. Eits, tapi mereka sedang tidak membicarakan status, tapi sebuah karya dari salah seorang penulis favorit saya, Adhitya Mulya.

Yep, “Jomblo: Sebuah Komedi Cinta” berulang tahun yang kesepuluh. GagasMedia baru saja merilis ulang novel tersebut dengan cover yang lebih simpel, tapi tetap menarik–dengan warna putih-biru dan gambar seseorang yang mengenakan kostum ayam. Lantas, saya bangkit menuju rak buku dan mengambil “Jomblo”. Membacanya kembali selama beberapa jam.

Saya ‘bertemu’ “Jomblo” sembilan tahun yang lalu, tepatnya tanggal 23 Mei 2005 (dicatet, dong, di bukunya). Alih-alih membelinya di toko buku, saya menemukan karya Adhitya Mulya ini di minimarket (minimarket, I mean it). Waktu itu, saya yang masih duduk di kelas satu SMP dengan polos membelinya. Alasan saya membawa pulang “Jomblo” itu karena sebelumnya dibuat puas oleh buku terbitan GagasMedia sebelumnya, “Cintapuccino” karya Icha Rahmanti. Jadi, ya, saya pikir, pasti “Jomblo” tak kalah menarik.

Dugaan saya tak meleset.

Namun, saya tak menduga isinya terasa seperti permen nano-nano (dan, eh, dengan konten dewasa yang seharusnya belum boleh dibaca oleh saya yang masih di bawah umur kala itu).

Sejak halaman-halaman awal saja, saya sudah dibuat cengengesan. Adhitya Mulya menuturkan cerita apa adanya; dekat dengan realita. Unsur komedinya tidak dibuat-buat. Satu hal yang membuat saya masih terkesan dengan “Jomblo” adalah bagaimana Adhitya Mulya berhasil mengajak saya tergelak di awal, lalu tiba-tiba dibanting di halaman-halaman terakhir. Kalau digambarkan dengan emoticon, jadinya kayak gini:

Awal: x’))

Akhir: :'((

Sebel.

Sampai bertahun-tahun kemudian, saya mengenang “Jomblo” sebagai salah satu karya yang ‘mengompori’ saya untuk menulis. Beberapa cerpen yang saya tulis semasa SMP terpengaruh dari novel tersebut. Bahkan sampai sekarang, setelah satu dekade, saya belum bosan menikmati karya Adhitya Mulya ini. (Plus, sekarang saya sudah boleh, dong, membaca konten dewasanya. Ngahahaha).

Kenangan lainnya adalah saat mengetahui “Jomblo” akan diangkat ke layar lebar. Saya senang mendengarkan radio kala itu dan tidak menduga jika salah satu penyiar kesukaan saya–Ringgo Agusrahman–akan memerankan tokoh utama “Jomblo”, Agus Gurniwa. So, I cannot thank Adhitya Mulya enough for writing the novel. Kalau dia tidak pernah melahirkan “Jomblo”, mungkin saya juga tidak akan pernah melihat Ringgo secara fisik (saat itu).

*

Mengenang “Jomblo” akan selalu menyenangkan bagi saya. Mengenang “Jomblo” berarti mengingat alasan mengapa saya menulis. Meski belum sehebat Adhitya Mulya, setelah sembilan tahun berlalu, saya akhirnya bisa merilis novel di tempat “Jomblo” lahir.

Happy birthday, “Jomblo”.

And, again, thank you, Adhitya Mulya.

erl.

***

“…dan dia belum pernah secantik hari ini…”

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s