project · writing

Prolog: Break Even

Seperti tahun lalu, aku meminta Ares menemaniku selama satu bulan ke depan. Menulis surat-surat cinta yang berpotensi membuat mataku bengkak, alih-alih tersipu malu, jelas bukan hal menyenangkan.

“Kamu tahu aku akan selalu ada dalam masa-masa ‘kritis’ seperti ini,” Ares menggumam setengah meledek.

Just follow me,” aku menyahut, tak kalah sengit.

Ya, tahun ini akan sangat berbeda. Surat-surat cintaku di tahun-tahun sebelumnya tampak absurd. Hmm, tapi di event Dua Hati tahun lalu masih lumayan. Awalnya, aku enggan mengikuti program ini karena akan sibuk mengurus skripsi.

Kalau bukan karena….

“Versi yang cewek ini lebih keren,” Ares mengomentari lagu yang melantun dari Aphrodite. Lagu yang kudengarkan dari pagi tadi.

“Colbie Caillat.” Dia menyanyikan “Breakeven” dari The Script dengan sangat baik. Tentu, aku juga senang karena lagu ini dituturkan dari sudut pandang perempuan.

Ares menyilangkan tangannya di dada. “Dan kamu akan menjadikan lagu ini sebagai soundtrack-nya?”

“Seratus buat kamu, Ares.”

Februari tahun ini memang yang paling berdarah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selama satu bulan ke depan sambil menulis surat-surat itu.

Satu yang kuharapkan, aku bisa menghabiskan perasaan yang tersisa.

One still in love while the other one’s leaving….

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s