writing

[Review] Swiss: Little Snow in Zürich by Alvi Syahrin

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—Yasmine,semoga akhir kisahmu indah.

***

Satu hari, saya mengunggah foto koleksi lengkap seri STPC season satu dari GagasMedia. Kemudian, seseorang memberi komentar, “Yang Bukune nggak baca, Kak?”

I was like, “Eh….”

Sebenarnya, saya sudah lama pengin baca STPC dari Bukune, tapi, seperti biasa selalu penuh pertimbangan (ini juga terjadi dengan STPC dari GagasMedia). Sampai kemarin, saya memutuskan untuk memulai petualangan ‘jalan-jalan’ lewat “Swiss: Little Snow in Zürich” karya Alvi Syahrin.

By the way, saya kadang baca buku seri secara acak; tak berurutan.

Ini juga kali pertama saya membaca karya Alvi. Di “Swiss…”, saya bertemu Yasmine–cewek blasteran Indonesia-Swiss–yang senang duduk-duduk cantik di dermaga Danau Zürich. Di sana, dia bertemu dan berkenalan seorang cowok bernama Rakel. Yasmine juga punya dua sahabat bernama Elena dan Dylan. Yasmine, yang sudah terpikat dengan pesona Rakel, girang bukan main saat cowok itu mengajaknya untuk melakukan kegiatan dalam agenda musim dingin. Tanpa diduga, hubungan mereka menyulut api cemburu Dylan yang diam-diam menyimpan perasaan pada Yasmine. Lebih dari itu, ternyata ada tujuan lain yang Rakel simpan kala mengajak Yasmine mengunjungi spot-spot menarik di Swiss.

Nah, saya suka dengan gaya bercerita Alvi. Smooth. Prolog dan Epilog dalam kisah Yasmine-Rakel dituturkan dari sudut pandang serpih salju (dan entah mengapa mengingatkan saya pada Olaf di film “Frozen”). Deskripsi tempatnya cukup memacu otak saya untuk membayangkan tempat tanpa menyelia peta. Diksinya menarik. Hampir, hampir bersih dari typo. Sisipan bahasa Swiss-Jerman yang lumayan banyak memperkuat atmosfer negara tersebut di dalam cerita.

Sayangnya, di halaman 252, saya menemukan frasa janggal: “…menolong dirimu sendirimu?” Mungkin maksudnya ‘dirimu sendiri’, ya. Karena selera juga, saya agak bosan membaca narasi panjang (apa gaya Alvi mungkin memang seperti ini? I hope there is more dialogues). Namun, hal itu berhasil diselamatkan oleh plotting yang rapi dan berhasil membuat saya gemas sampai di halaman terakhir.

Rate: 3.5/5. A nice story about family, friendship, and love. A kind of tale that I cannot write in one package, actually. Well written, Alvi.

erl.

image

Advertisements

One thought on “[Review] Swiss: Little Snow in Zürich by Alvi Syahrin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s