writing

[Review] Seandainya… by Windhy Puspitadewi

Aku akan menjadi buih….

Seperti putri duyung di dongeng itu, kelak aku akan menjadi buih dan membawa mati semua rahasia hatiku. Sebut aku pesimis, tapi sudah terlalu lama aku menunggu saat yang tepat untuk kebenaran itu. Dan selama itu, aku melihat bagaimana benih-benih perasaanmu padanya pelan-pelan tumbuh hingga menjadi bunga yang indah.

Aku kalah bahkan jauh sebelum mulai angkat senjata. Kau ada di hidupku, tapi bukan untuk kumiliki. Kerjap mata indahmu hanya untuk dia dan selamanya itu tak akan berubah. Meski begitu, kenapa aku tidak berusaha berbalik dan mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu?

Jika suatu hari kau menyadari perasaanku ini, kumohon jangan menyalahkan dirimu. Mungkin memang sudah begini takdir rasaku. Cintaku padamu tak akan pernah melambung ke langit ketujuh. Aku hanya akan membiarkan buih-buih kesedihanku menyaru bersama deburan ombak laut itu. Karena inilah pengorbanan terakhirku: membiarkanmu bahagia tanpa diriku….

***

Sekitar dua tahun yang lalu, seorang teman merekomendasikan “Let Go” dan “Touche” karya Windhy Puspitadewi. Menurutnya, dua novel tersebut masuk kategori favorit saya dan dia benar. Saya suka cerita romance yang agak tragis (ada tokoh yang mati atau pasangan putus, misalnya) dan fantasi yang membuat saya bertanya-tanya: apa kejadian ini memang nyata?

“Seandainya…” adalah novel romance. Romance yang tragis (maaf, bukan bermaksud spoiler, yah.) Saya sempat tertipu dengan desain sampulnya yang antik. Saya pikir, novel ini ada di lini young adult, ternyata masih bersaudara dengan “Let Go” yang berada di wilayah teenlit.

Ada empat tokoh utama dalam “Seandainya…”: Rizki, seorang cowok cerdas yang sempat menunda masa SMA selama dua tahun karena masalah finansial; Juno, seorang cewek dengan ego yang cukup besar, tapi pintar (mengingatkan saya pada Nadya di “Let Go”); Amra, kakak Juno yang minder dengan adiknya sendiri; dan Christine, putri dari seorang gubernur yang merasa kesepian. Mereka berempat bersahabat karena sama-sama ‘dijaili’ di masa awal SMA. Karena latar belakang yang berbeda-beda, mereka selalu menghadapi konflik dalam hubungan mereka atau lingkungan sekitar.

Satu yang saya suka dari Windhy adalah gaya berceritanya. Kata-kata yang digunakan cenderung baku, tapi masih terasa ringan dan tidak membuat para tokoh menjadi dewasa daripada usianya. Karakter dari tiap tokoh juga terbangun dengan baik–saya suka kakak-beradik Juno dan Amra (terlepas dari nama mereka yang dicatut dari dewa-dewi mitologi Romawi.) Pun–ini memang agak subjektif–aura ceritanya yang jauh dari nuansa ceria ala teenlit kebanyakan mendorong saya untuk menghabiskannya sampai halaman terakhir.

Sayangnya, entah karena tokoh utamanya terlalu banyak atau bagaimana, plotnya terkesan loncat-loncat. Saya suka dengan cara para tokoh menghadapi konfliknya masing-masing, tapi tampak kurang terikat. Selain itu, di halaman 147, sekonyong-konyong muncul ‘Aku mengangguk.’ yang membuat saya kaget karena… “Seandainya…” dituturkan dari PoV 3 (jadi, siapa ‘aku’ yang misterius ini? Mungkin maksudnya Rizki.) Sementara di halaman 164, ada kesalahan dalam kalimat ‘Ketika Juno hendak mencabut kertas memo tempat tadi dia menulis nomor telepon Juno…’, padahal ceritanya diambil dari angle Christine. Terakhir, chemistry Rizki-Juno juga kurang, padahal ending-nya nendang, lho.

Rate: 3/5. Semoga Windhy menulis cerita romance tragis lagi *lah*. “Seandainya…” might not satisfy me like “Let Go” did. However, I still learn a lot from the novel.

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s