writing

[Review] Touché: Alchemist by Windhy Puspitadewi

Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.

***

Oke, sebenarnya saya sudah baca novel ini sejak awal April, tapi baru sempat menulis ulasannya sekarang. Bagi penikmat karya fantasi /sci-fi dari Windhy Puspitadewi, kehadiran “Touche: Alchemist” bisa mengobati kerinduan, sekaligus membuat penggemar penasaran dengan ceritanya. Apakah novel ini akan semenarik ‘kakak’nya, “Touche”? Err, saya sendiri sudah agak lupa dengan cerita “Touche”, tapi saya ingat dengan kemampuan anak-anak SMA yang tidak biasa itu. Satu nama (sialan) yang malah menempel kuat dalam pikiran saya malah Pak Yunus (uhh).

Anyway, di “Touche: Alchemist”, kita akan bertemu dengan sosok Hiro yang… menyebalkan. Bagaimana tidak? Hiro sering menyebut dirinya jenius dan… memang ternyata benar. Namun, di balik sifat tengilnya itu, Hiro memiliki sebuah kemampuan yang akan membuat semua siswa IPA maupun mahasiswa Kimia iri setengah mati. Cowok ini bisa mengenali struktur kimia dari sebuah benda hanya dengan menyentuhnya saja. Hingga suatu hari, Hiro tak sengaja bertemu dengan Karen Hudson dan ayahnya yang seorang detektif, Samuel Hudson, di TKP pembunuhan. Setelah pertemuan tersebut, serangakaian pengeboman terjadi di New York dan Hiro harus menggunakan kemampuannya lebih besar dari sebelumnya.

Membaca “Touche: Alchemist” sekilas mengingatkan saya pada seri Detective Conan (tiba-tiba pengin nonton). Pun, saya menikmati setiap karakternya yang memiliki penokohan cukup kuat. Berhubung saya juga suka sama New York (dan pernah menggunakannya sebagai seting tempat di sebuah cerita), saya tidak punya kesulitan saat Hiro menjelajahi wilayah-wilayah di sana (terutama Manhattan. Ihiy!) Plotnya terangkai dengan baik, hingga saya baru bisa menebak siapa pelaku pengeboman setelah melewati setengah cerita–itu juga harus nyantumin dua kandidat dulu.

Sayangnya, saya kurang puas dengan perkembangan para karakter selain Hiro. Di “Touche”, mungkin saya puas karena tokoh-tokoh dengan kemampuan hebat ini ada lebih dari dua orang. Sehingga tokoh-tokoh biasa ini tampak sia-sia. Seandainya ada satu detektif yang cukup pintar, mungkin novelnya akan lebih adventurous.

Rate: 4/5.  Setelah “Touche: Alchemist” saya masih menunggu karya Windhy yang lain. Entah yang romance atau fantasi lagi. However, “Touche: Alchemist” made my day.

 

erl

 

Touch

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s