Life · writing

Throwback Songs

Hari ini, saya bahagia karena CPU yang sudah lama ‘koma’–perangkat tua berusia sepuluh tahun–akhirnya ‘bangun’ setelah dibantu oleh kawan ayah saya. CPU itu, meski jalannya sudah lamban, menyimpan banyak cerita dan… file tentunya. Terutama lagu-lagu.

Sambil menyalin folder-folder ke netbook, saya jadi ingat masa-masa duduk di depan monitor; menulis cerita–entah menggantung maupun tamat–sambil mendengarkan lagu-lagu yang menjadi inspirasi.

Oh, saya pasti sudah sering menceritakan hal ini, tetapi saya baru saja menyusun playlist berisi lima tembang yang pernah ‘menyetrum’ saya sampai menulis novel!

Di bawah ini, saya akan menceritakan lima tembang dan novel yang sudah dilahirkan.

Lima Lagu untuk Novel

1. “The Ghost of You” – My Chemical Romance

Di bangku SMP, saya tergila-gila dengan MCR. Mereka selalu menampilkan konsep dalam setiap album hingga video klipnya. Satu lagu yang paling berpengaruh adalah “The Ghost of You”. Lagu dan videonya sukses bikin saya nangis berkepanjangan.

Dari lagu ini, lahir sebuah novel dengan judul yang sama (ternyata ini penyakit lama). Saya menulis banyak versi–dari seorang gadis yang depresi dan pacaran dengan buronan sampai pembunuhan di sebuah pesta prom. Iya, tampak menyeramkan. Well, it was because of MCR.

2. “Born For This” – Paramore

Memasuki bangku SMA, saya mulai menulis cerita tanpa banyak darah dan kekerasan. Tahun 2008, sempat ada peristiwa mengenaskan yang cukup membekas di AACC. Tragedi ini yang kemudian mendorong saya untuk menulis novel berjudul, err, “Born For This” (iya, iya, kambuh lagi).

Diambil dari sudut pandang orang pertama, Venus–seorang siswi SMA–tergerak untuk membuat film dokumenter tentang underground. Dia ingin membuktikan kalau tragedi AACC tidak akan menghancurkan komunitas musik manapun (edan emang). Saya masih menyimpan draf yang ditulis tangan. Kadang geli, sekaligus takjub baca ceritanya.

3. “Priceless” – Copeland

Bisa dibilang kalau lagu ini menjadi momentum saya dalam menulis cerita romance mainstream. Saya saat itu duduk di bangku SMA kelas XII dan, dyaaar, Copeland memutuskan untuk bubar. Beberapa minggu sebelum farewell show mereka di Bandung, saya menulis novel–yang kelak menjadi akar dari “ATHENA: Eureka”–berjudul, yah, “Priceless” (kemudian saya ubah menjadi “Pandora’s Box”).

Dita–tokoh utama dari cerita ini–menghadapi salah satu ‘kiamat’ kecil dalam hidupnya: Copeland bubar. Dia ingin melihat konser mereka, tetapi tiba-tiba urung saat Yudika–her massive crush–ternyata akan hadir juga. Well, belakangan saya gatal ingin merombak naskah ini jika sempat. One of my favorite stories.

4. “Retrace” – Anberlin

Saya sedang iseng mengobrak-abrik hard disk saat lagu ini muncul dan, shot, liriknya benar-benar menohok. Ketika itu, tahun 2011, saya sudah duduk di bangku kuliah dan tanpa sengaja ‘memanjangkan’ “Pandora’s Box” ke dalam tiga novel. “Retrace” (see, saya memang payah dalam menemukan judul) menjadi ‘penutup’ seri tersebut.

Masih bersama Dita, tetapi usianya sudah menginjak 23 tahun. Kala itu, dia telah menjadi penulis terkenal yang karyanya menembus pasar internasional. Saat tur di New York, Dita bertemu mantan pacarnya, Ares. Jeeeng, kok jadi ingat “ATHENA”, ya? However, lagu “Retrace” sanggup bikin saya nangis saat menulis cerita ini.

5. “Call Me Maybe” – Carly Rae Jepsen

Saya rasa, sebagian besar orang pernah mengalami ‘demam’ lagu ini. Termasuk saya. “Call Me Maybe” is a super catchy and sing-a-long-able song. Saking enak dan ringan, saya dengan cepat ‘keracunan’ dan, yah, berakhir menjadi cerita. Namun, oh, alih-alih membuat kisah manis, lagu ini justru menuntun saya menciptakan prekuel “ATHENA” yang berjudul… no. Saya punya judul pasti sekarang:
“Artemis Tale”.

Mengambil latar tempat di Yunani, Artemis Dragness melewati masa-masa remajanya dengan normal hingga dia bertemu Alex Doukas. Tak hanya itu, dia juga harus menerima kenyataan jika kakak kesayangannya akan menikah dengan orang yang tidak dia kenal. Cerita selengkapnya bisa dinikmati di wattpad saya.

Yap, terima kasih sudah menyimak ocehan tentang lagu-lagu yang memberi ide kepada saya untuk menulis novel. Siapa sangka jika tembang berdurasi 3-4 menit dapat melahirkan puluhan ribu kata?

Have a nice weekend, folks!

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s