writing

[Review] Incognito: Retrace the History

Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!

Semua bermula ketika ia dan Erik harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah.

Seorang anak bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu. Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku.

Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan,dan diri mereka sendiri.

*

Selain membuat saya gandrung dengan mitologi, seri ensiklopedia dari Disney juga mengenalkan saya pada time traveler. Di salah satu serinya yang berjudul “Para Pemimpin Besar”, Mickey, Minnie, dan Paman Scrooge menjadi penjelajah waktu. Ketiganya menemui tokoh-tokoh besar dengan gasing raksasa–si mesin waktu–dan mewawancarai mereka.

Setelah sekian tahun berlalu, saya tidak menyangka akan menemukan format yang hampir sama di novel “Incognito”. Novel sci-fi karya Windhy Puspitadewi tentang para penjelajah waktu yang ‘meloncat’ dari masa ke masa; bertemu tokoh-tokoh besar dunia.

Seperti nostalgia.

“Incognito” bercerita tentang Erik dan Sisca yang tak sengaja bertemu dengan cowok misterius bernama Carl. Keduanya tidak pernah menduga akan diseret ke tempat-tempat jauh dan di waktu yang berbeda. Berbekal arloji yang hobi ngadat milik Carl, ketiganya bertemu figur-figur hebat dan tanpa sengaja mempengaruhi mereka untuk menciptakan sejarah penting. Lantas, apa Sisca dan Erik bisa pulang? Apakah perjalanan waktu menggoda mereka untuk mengubah sejarah?

Nah, saya suka idenya–apalagi risetnya. Windhy sudah menekankan jika “Incognito” adalah ‘novel termahal’ yang dia tulis. Sebenarnya saya lebih suka melabeli “Incognito” sebagai ‘ensiklopedia mini’. Saya sebal, sekaligus kagum dengan para penulis yang berani mengambil tema time traveling (soalnya saya pengin, tapi gagal mulu). Menyusun timeline-nya bukan hal yang mudah. Salah sedikit bisa berabe.

Selipan sejarah dalam “Incognito” menambah pengetahuan baru bagi saya (jangan tanya bagian favorit saya yang mana. Archimedes, absolutely. I mean, “Eureka!” *menahan diri supaya nggak jualan*). Sisipan bahasa asing yang sempat membuat saya mengernyit karena ada yang nggak pakai footnote terjemahan. Kejutan dari salah satu tokohnya juga bikin saya kaget. Setelah membaca “Incognito”, entah mengapa saya jadi ingat film “Looper”. Mungkin karena konsep ‘merusak sejarah’-nya yang hampir sama.

Namun, saya masih menemukan hal-hal yang kurang greget. Bumbu romance-nya agak hambar–kayaknya sih ‘tersedot’ petualangan ketiga tokoh yang cukup mendominasi. Saya juga masih bertanya-tanya tujuan mereka melakukan perjalanan lintas waktu. Apa hanya ‘harus pulang karena tak sengaja terseret mesin waktu’? *menyodorkan mikrofon pada penulis*

Rate: 3.5/5. Overall, saya tetap suka. Tema time traveling menarik perhatian saya sampai sekarang. Pun “Incognito” menjadi penyegaran baru dalam genre fantasi/sci-fi di Indonesia. Semoga saya bisa menyusul. :p

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s