writing

[Review] Interlude by Windry Ramadhina

Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku  akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.”
Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek.
Bisakah kau memercayaiku, sekali
lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah….

*

Ah, saya punya satu cerita.

Saya baru merampungkan masa on job training di Redaksi GagasMedia Bandung. Selama kurang lebih tiga bulan, saya mendapatkan banyak ilmu di ‘dapur’ dunia penerbitan. Salah satunya adalah proofreading. Nah, saya pernah mendapatkan satu bundel naskah untuk di-proofread. Di tengah cerita, saya tanpa sengaja melihat tulisan yang dicetak terbalik di naskah tersebut. Awalnya, saya mengabaikan tulisan itu, sampai saya menangkap judul yang tercetak di sudut kertas.

Hanna dan Kai.

Tunggu, Windry Ramadhina?

Saya sempat tergoda untuk membacanya, tetapi sebuah suara menghentikan saya. “Jangan, jangan baca. Tunggu sampai novelnya keluar.”

Syukurlah, saya berhasil melewatinya.

“Interlude”–menurut pengakuan Windry–adalah novel dengan genre new adult. Napas ceritanya memang agak berbeda dari karya-karya Windry sebelumnya. Namun, saya masih merasakan kesenduan dan itu hal yang paling saya suka.

Di novel ini, saya bertemu Kai, seorang pemuda yang gandrung dengan musik jazz. Kai adalah seorang gitaris genius dari band Second Day Charm. Banyak perempuan yang memuja Kai meski dia ‘berengsek’. Lalu ada Hanna, seorang gadis yang amat mencintai laut. Kejadian buruk yang menimpanya satu tahun yang lalu menyisakan trauma untuknya. Hanna punya kebiasaan merekam berbagai suara dengan alat perekamnya.

Hanna dan Kai tanpa sengaja bertemu di atap sebuah apartemen. Pertemuan itu menjadi awal kedekatan mereka. Lantas, apa yang akan terjadi? Apa Hanna sanggup melawan traumanya? Apa Kai akan serius menjalin sebuah hubungan?

“Interlude” dijalin dengan sangat rapi. Saya hampir tidak menemukan cela apapun di dalam ceritanya. Konflik setiap tokoh dibangun dengan baik. Mungkin agak sedikit aneh karena Windry memaparkannya lewat sudut pandang orang ketiga (she did it on “Metropolis” too, but this one feels different). Saya sudah nyaman membaca novel Windry dari sudut pandang orang kesatu, tapi tidak masalah, kok.

Selain itu, saya hanya menemukan kesalahan cetak seperti jenis huruf yang berubah dan kata ‘tidak’ yang diulang (hal. 173).

Sisanya, sialan, sempurna. Cantik. Pun, saya lagi-lagi dibuat menangis. Saya dapat merasakan perjuangan Hanna dan meleleh dengan Kai yang bersikap manis.

Rate: 4.5/5. Mungkin ini berlebihan, tetapi sekali lagi saya kagum sekaligus iri dengan Windry Ramadhina. Tak sabar menunggu novel Windry selanjutnya.

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s