Fiction · review

[Review] Priceless Moment by Prisca Primasari

Kisah kita serupa dongeng. Dipertemukan tanpa sengaja, jatuh cinta, lalu bersama, dan akan bahagia selamanya. Tanpa banyak kata, kau tahu aku mencintaimu selamanya.Begitulah yang seharusnya.

Namun, ketika setiap pagi kutemukan diriku tanpa kau di sisiku, aku sadar bahwa dongeng hanyalah cerita bohong belaka. Kau pergi, meninggalkanku dalam sepi, dalam sesal yang semakin menikam.

Hidup tak akan sama lagi tanpamu.Apa yang harus kukatakan ketika mata polos gadis itu memelas, memintaku menceritakan dongeng-dongeng yang berakhir bahagia? Kau belum memberi tahu jawabnya untukku.

Kau tahu, kali ini, akan kulakukan apa pun untuk mempertahankanmu berada di sisiku. Pun sejenak. Namun, lagi-lagi, kau hanya ada dalam memori….

***

Tahun ini, GagasMedia mengeluarkan beberapa lini baru, salah satunya adalah fatherhood. Dari namanya, novel-novel yang terbit di bawah label ini pasti berkaitan dengan sosok ayah. “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya–yang menjadi ‘pembuka’ lini fatherhood–sukses membuat saya merinding sampai menangis. Kemudian, “Priceless Moment” karya Prisca Primasari terbit dan membuat saya penasaran: apa ceritanya akan meninggalkan kesan yang sama?

Nah, berbeda dari karya-karya Prisca sebelumnya, sebagian besar seting di “Priceless Moment” mengambil tempat di Indonesia. Bercerita tentang Yanuar, seorang manajer sukses di perusahaan furnitur besar, yang berduka atas kematian sang istri, Esther. Sebagai single parent baru, Yanuar menghadapi tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh mendiang istrinya–termasuk mengurus anak-anaknya. Yanuar berusaha untuk bangkit, meski tak yakin bisa melupakan Esther. Hingga suatu hari, dia bertemu Lieselotte,seorang desainer baru di kantornya. Kedekatan mereka, yang awalnya sekadar teman satu perusahaan, perlahan berubah setelah mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing.

Hal menarik pertama yang membuat saya penasaran adalah bagaimana Prisca menuturkan cerita lewat tokoh utama pria. Pemilihan sudut pandang orang ketiga menurut saya cukup aman dan tidak membuat tokoh Yanuar jadi menye-menye. Takaran konflik dalam keluarga Yanuar dan perusahaannya pun cukup seimbang. Jangan kaget kalau sebagian percakapannya agak kaku dan dewasa, karena sebagian besar tokohnya berusia di atas 25 tahun. Saya menyukai beberapa adegan saat Yanuar berusaha dekat dengan kedua anaknya–kadang dibuat tertawa sampai terharu. The struggle is real, yah.

Namun, mungkin karena fokusnya berada di lingkup ‘dunia-menjadi-ayah’, bumbu romance-nya hambar. Kedekatan Yanuar dengan Lieselotte tampil sekilas-sekilas. Eh, tapi ada satu bagian yang menjadi favorit saya: saat mereka berdiri di tengah hujan lebat. Adegan ini menyelamatkan romance-nya (dan tidak bisa saya jelaskan detailnya. Go buy and read if you’re curious.)

Overall, saya menikmati “Priceless Moment”. Prisca memberi bayangan kehidupan seorang duda tanpa plot yang terlalu ruwet. Mata saya sempat memanas saat membaca segelintir adegan. Nyaris bersih dari typo–saya menemukan salah ketik dalam tanda baca di halaman 262 (…dua jam lagi. yang berarti…) I give it 4 of 5, anyway.

Sila yang penasaran pengin baca, cek toko-toko buku terdekat. Mungkin harus sedia tisu juga, buat jaga-jaga kalau nangis di tengah jalan.

erl.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s