Life

The Final Test

Tiga hari dari sekarang, saya akan menghadapi salah satu ujian yang, well, menjadi buah bibir para mahasiswa sejak lama: sidang skripsi. Saya sendiri sampai sekarang masih belum percaya sudah melangkah sejauh ini. Kayaknya baru kemarin saya rungsing memikirkan kampus dan jurusan apa yang akan saya pilih. Now, here I am. I’m going to face the last step to meet the real world.

Tiba-tiba, saya ingat empat tahun yang lalu saat akan menghadapi Ujian Nasional. Berita-berita seputar ujian ini berhasil membuat saya gentar. Meski sudah merasa cukup dengan sesi pemantapan di sekolah, saya tetap khawatir saat membayangkan soal-soal yang akan muncul. Satu hari sebelum UN, alih-alih belajar, saya malah menulis sebuah cerita.

Saya kira, UN adalah tes paling mengerikan sepanjang hidup saya. Semua berubah saat saya menginjak dunia perkuliahan dan bertemu semester-semester akhir. Dulu, saya selalu berpikir kalau saya akan melewati masa-masa kritis ini dengan mudah. Nyatanya saya salah. Tahun ini menjadi salah satu tahun terberat yang saya lewati (anyway, pernyataan ini bisa berubah-ubah dengan ketentuan tertentu).

Skripsi has almost sucked my life. Wait, no. At least it sucks my ability to write fiction. Saya kesulitan untuk membagi fokus antara karya ilmiah dan imajinasi. Meski topik skripsi saya masih berkaitan dengan novel, bukan berarti saya sangat menikmatinya. Saya nyaris tidak menemukan kesulitan (bahkan setelah dibantai saat pra-sidang kemarin) untuk bongkar-pasang isinya. Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kesalahannya.

Sialnya, saking lama bergelut dengan tulisan ilmiah, saya jadi kaku saat membuka kembali revisian naskah novel kedua.

Namun, di satu sisi, saya senang bisa menyelesaikan skripsi. Seperti halnya menulis novel, menyusun skripsi mengembangkan kemampuan tulis-menulis. Saya menemukan hal-hal baru. Saya tenggelam bersama salah satu novel non-fiksi favorit saya, In Cold Blood. Terlebih lagi dengan momen-momen mengejar dosbing yang penuh perjuangan.

Lantas beberapa hari lagi, saya akan menghadapi tiga dosen penguji yang penasaran dengan skripsi yang saya tulis.

Sebelum menghadapi hari penentu tersebut, siapapun yang sedang membaca tulisan ini—baik yang mengenal atau sekadar numpang baca—saya ingin meminta doa kelancaran dan permohonan maaf kalau saya sempat berbuat salah. Pun, setelah semua drama ini berakhir, saya juga ingin segera menyelesaikan naskah novel kedua yang sudah tertunda yang cukup lama. *dipelototin editor*

So, thank you for reading. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk ‘mendengarkan’ keluh kesah saya malam ini. Have a good night!

 

erl.

 

p.s.: Saat menulis entri ini, saya sedang ngobrol dengan teman seangkatan sepenanggungan. At this point, we’re talking about soundtracks that accompany us during almost-graduation moment. Hmm, satu lagu yang sedang menemani saya dari pra-sidang adalah “St. Patrick” dari PVRIS. Enjoy the song!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s