Life · writing

Best of 2014

Sebelum tahun 2014 berakhir, saya ingin membagi daftar best of. Mungkin bukan daftarnya tidak sepanjang nominasi Grammy, tapi hal-hal di bawah ini meninggalkan kesan pada hari-hari yang saya lewati di tahun ini. Mari simak!

1. Best Songs
(it also represents the Best Albums)

Copeland

Erase – Copeland
Ixora
Their comeback news shocked everyone—especially their fans. Bukan sekadar reuni biasa-lalu-bubar-lagi, tapi Copeland juga mereka album kelima mereka yang bertajuk Ixora (saya menulis ulasannya di sini). Dari sebelas lagu yang mereka persembahkan, Erase yang paling berhasil mencuri perhatian saya. It is a kind of broken heart song, tapi kalau Copeland yang buat, rasanya berbeda sekali. Mengingatkan saya sekilas pada California dari album Beneath Medicine Tree, hanya lebih sederhana tanpa meninggalkan perasaan putus asa di baris terakhir lagunya (And I can’t help this awful feeling / that I can’t erase you //).

Another’s Arms lyrics

Another’s Arms – Coldplay
Ghost Stories
Coldplay never fails—bahkan untuk album paling patah hati (saya menulis ulasan albumnya di sini). Berita perceraian sang vokalis, Chris Martin, dengan istrinya, Gwyneth Paltrow menjadi salah satu highlight tahun ini. Beberapa minggu kemudian, Ghost Stories lahir dengan serangkaian lagu patah hati dari Coldplay. Magic is painful, Sky Full of Stars makes me imagining Martin dance through his sorrow. Tapi, Another’s Arms yang malah membuat saya menangis. Lagu ini seperti lahir dari orang yang amat kesepian (late night warchint TV / used to be you here beside me / used to be your arms around me / your body on my body). Anehnya, seperti lagu-lagu Coldplay dalam Ghost Stories, it is still sounds beautiful.

Blank Space cover

Blank Space – Taylor Swift
1989
I have this guilty pleasure feeling for Swift’s 1989. Kali pertama mendengar single-nya, Shake it Off, saya geleng-geleng kepala. Ini bukan Swift, pikir saya. Namun, alih-alih berhenti mendengar, saya malah memutar ulang lagunya… bahkan itu terjadi untuk lagu-lagu lain di 1989. Blank Space is a hilarious song. Swift berhasil menyindir sebagian media dan haters yang selama ini menyebar berita miring tentang kehidupannya lewat lirik lagu tersebut. Tidak cukup sampai di sana, video klipnya pun menggambarkan hal yang sama. Shot, Swift did it so good.

Don’t cover

Don’t – Ed Sheeran
X
Saya bukan penggemar solois laki-laki—kalaupun ada, pasti tidak bertahan lama. Sheeran berbeda. Saya kali pertama mengetahui Sheeran saat dia menjadi guest vocal di lagu Taylor Swift, Everything Has Changed. Ketika saya melanjutkan penggalian lebih lanjut, Sheeran restored my faith to soloist/guitarist. Selain rambut warna apinya yang khas, saya juga menyukai suaranya yang sekilas mengingatkan saya pada Michael Buble (sedikit, lho). Don’t dari album X terdengar berbeda dari lagu-lagu dari album tersebut. Mungkin karena lagu ini berceria tentang mantan Sheeran (it’s Ellie Goulding, everyone)? However, I love the way he sings, ‘Don’t f*ck with my love.’

 

2. Best Books

Saya membaca banyak buku tahun ini dan terlalu malas membuat daftarnya. Jadi, saya hanya memilih dua buku yang meninggalkan bekas mendalam setelah membacanya.

Tsukuru

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgmirage
Haruki Murakami

Saya bukan penggemar berat Murakami dan nggak keotakan membaca beberapa bukunya yang lain. Colorless Tsukuru sebenarnya terbit tahun 2013, tapi kalau editor dan salah satu penulis favorit saya tidak membicarakan buku ini, mungkin saya tidak akan tertarik sampai jatuh hati saat membacanya. Menurut saya, Colorless Tsukuru adalah karya Murakami yang paling normal. Meski begitu, setelah membacanya selama tujuh jam, saya sulit move on dari kisahnya dan baru bisa tidur pukul setengah satu malam (nah, sila baca preview-nya di sini). Setiap kali menginta Tsukuru, saya juga malah kepikiran lagi dengan akhir dari cerita di buku ini. Sial, Murakami.

SBB

Sabtu Bersama Bapak
Adhitya Mulya

Lahir dari seorang penulis favorit, Sabtu Bersama Bapak memberi suasana yang berbeda dalam tulisan Adhitya Mulya. Masih ada gaya yang saya temukan dulu di novel Jomblo, sebagian tumbuh lebih dewasa bersama para pembaca setianya—termasuk saya. Sabtu Bersama Bapak adalah novel pembuka dari lini fatherhood. Kalian bisa langsung menduga ceritanya tentang apa dari judul novelnya (previewnya ada di sini). Omong-omomg, yang sangat membekas dari membaca novel ini adalah kala saya menutup bukunya, lalu mengambil bantal dan nangis sesegukan selama beberapa menit. Saya tidak mudah dibuat menangis dan Sabtu Bersama Bapak berhasil mengacak-acak emosi saya.

 

3. Best Movie

Gone Girl poster

Gone Girl
What can I say more? SICK.

Well, that’s my list. Semoga di tahun 2015, saya akan menemukan lebih banyak lagu, buku, dan film yang lebih menyenangkan untuk disimak.

 

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s