Life · writing

[Publishing] Meet the Editor

Dapat kabar dari penerbit kalau naskah kamu diterima? Yippie, selamat! Langkah kamu sebagai penulis baru saja memasuki tahap baru. Di tingkat ini pula kamu akan berkenalan dengan editor.

Menjalin hubungan baik dengan editor adalah salah satu hal penting, karena kalian akan menjadi partner dalam proses penyuntingan naskah. Sayangnya, beberapa penulis pemula sering takut duluan gara-gara mendapat rumor kalau editor di penerbit bersangkutan terkenal galak sampai suka mencabik-cabik naskah.

Uh, namanya juga rumor, jangan ditelan mentah-mentah sebelum melihatnya sendiri. Di bawah ini, ada lima poin yang bisa kalian pakai untuk berhadapan dengan editor.

1. Jangan baper

Penulis baru mungkin akan kaget saat menerima revisi awal naskah. Tidak jarang naskahmu akan dipenuhi catatan dengan komentar-komentar ‘pedas’ yang bikin kamu pengin nangis. Terus kamu jadi baper (bawa perasaan) dan beranggapan jika editor (atau penerbit) enggak suka sama si naskah. Saking sedihnya, kamu sampai enggan memperbaiki dan memutuskan buat loncat dari gedung cari penerbit baru dengan editor yang lebih ramah. Duh, padahal editornya enggak punya dendam apa-apa sama kamu.

2. Siapkan mental

Terus, bagaimana caranya supaya enggak baper? Selain kemampuan menulis, menyiapkan mental juga penting, lho. Like, seriously. Editormu memberi banyak catatan bukan karena mereka jijik sama tulisanmu, tetapi karena mereka peduli. Naskahmu diterima penerbit, sebab mereka melihat potensi besar. Mereka lalu memberimu harapan, dengan catatan kamu juga mau bekerja sama dengan memperbaiki poin-poin yang diberikan editormu.

3. Diskusi tanpa perantara

Jika kalian tinggal di kota yang sama, usahakan untuk bertemu langsung; entah sambil makan siang, ngopi-ngopi, atau datang ke kantornya. Dengan bertatap muka, kalian bisa mendiskusikan naskah dan berbagi pendapat di tempat. Biasanya, ada hal-hal yang sulit disampaikan dalam surel atau WhatsApp dan lebih enak diungkapkan tanpa perantara.

4. Berteman dengan editor

Supaya ketegangan dan kecanggunganmu mencair, bertemanlah dengan editormu. Berteman, ya, bukan menjilat. Kamu dapat memulainya kalau kalian sama-sama menyukai sesuatu–penulis kesukaan, misalnya. Sambil membicarakan naskah, kalian bisa berbagi buku-buku favorit atau lagu dalam playlist. Tidak menutup kemungkinan kalian bisa jadi teman baik meski dia tidak menyunting tulisanmu lagi.

5. Jaga sikap

Saking dekatnya sama editor bukan berarti kamu bisa seenak udel datang ke kantornya tanpa membuat janji atau menanyakan kabar naskahmu setiap dua jam sekali. Ingat, selain naskahmu, editor juga mengurus naskah dari penulis-penulis lain. Dia butuh me-time setelah seharian bergulat dengan pekerjaannya. Kalau editormu menegur, perbaiki kesalahanmu dan jangan sampai diulangi lagi. He or she wants you to be a well-behaved author.

Nah, yakin masih mau mundur? Mudah-mudahan lima poin di atas bisa membantu kalian berhadapan dengan editor. Kalau punya poin tambahan, please share with us!

Salam,

 

erl.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s