writing

[Review] I Love You; I Just Can’t Tell You by Alvi Syahrin

Ini kisah cinta pertama.

Cinta yang polos dan meragu,
menjebakmu dalam momen katakan-tidak-katakan-tidak,
membuatmu bertanya, “Apakah rasa ini akan sepadan dengan hasilnya?”

[Daisy]
Aku telah jatuh cinta. Untuk kali pertama.
Cinta yang membuat harapku terbang ke angkasa.
Namun…
Akankah dia menyadari hadirku kala aku sendiri ingin bersembunyi, dari tubuh remaja tujuh belas tahun yang tak tumbuh sebagaimana remaja lainnya?

[Alan]
Tidak semua laki-laki sama, yakinku.
Tetapi… Mengapa…
Semakin aku mencoba, semakin jalan terasa berselisih?

[Ve]
Aku sudah tahu betapa cinta hanya bisa menyisakan luka.
Luka dan rahasia.
Rahasia yang bahkan kepada sang penulis kusampaikan,
“Tolong jangan beri tahu Alan dan Daisy. Juga pembacamu.”

Ini kisah cinta pertama…
yang membuat hati kecilmu selalu bertanya,
“Apakah cerita ini bisa membawa bahagia?”

***

Saya berjanji jika Alvi Syahrin mengeluarkan novel ketiga, saya akan membelinya. Maka, saat I Love You; I Just Can’t Tell You terbit, saya tanpa basa-basi memesannya di salah satu toko buku online. Saya yakin bagi Alvi, novel ini sangat spesial karena didapuk menjadi pembuka seri terbaru dari GagasMedia, Love Cycle.

Sesuai siklusnya, cerita I Love You bertema cinta pertama. Topik umum yang sudah dibahas berjuta kali oleh para penulis roman. Agar tidak biasa, Alvi menuturkan kisah ini dalam sudut pandang orang kesatu dari tiga orang, dengan masalah-masalah khas remaja dan dewasa muda.

Meski diambil dari tiga orang berbeda, sentral cerita ini berada pada tokoh bernama Daisy–cewek berusia tujuh belas tahun yang belum mendapatkan menstruasi. Hal tersebut membuatnya minder, apalagi menyadari teman-teman ceweknya yang sudah tumbuh, sementara dia merasa terjebak dalam tubuh anak-anak. Namun, hatinya sebagai remaja tidak menampik ketertarikan kepada seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Alan.

Daisy naksir berat dan melakukan usaha pendekatan yang amat gencar. Sampai dia berhasil masuk ke kehidupan Alan dan bertemu dengan mahaiswi bernama Ve. Ketika tiga tokoh  ini mulai mengenal satu sama-lain–bersama dengan terungkapnya rahasia-rahasia kecil–ikatan dan perasaan mereka pun kian kuat.

Dalam I Love You, saya merasa tulisan Alvi berkembang dengan baik. Buat seseorang yang baru menggunakan sudut orang kesatu, ketiga tokohnya memiliki penokohan yang kuat–terutama Daisy. Tapi, untuk kelainan Daisy, saya sebenarnya berharap bakal terus digarap sampai akhir kisah, karena dari klimaks sampai penyelesaian masalah, kelainan tersebut malah memudar dari cerita. Di sisi lain, Alvi memberi saya pencerahan tentang kehidupan mahasiswa Teknik Informatika dan apa yang mereka lakukan selama kuliah.

Berbeda dengan novel bertema serupa lainnya, Alvi membawa tokoh-tokohnya untuk mengenal cinta tanpa melulu terikat hubungan (red-pacaran). I Love You mengenalkan pembaca dengan cinta dalam persahabatan dan keluarga (dua hal yang belum sanggup saya tulis). Sederhana, tetapi memiliki banyak makna. Saya juga hampir menangis di salah satu bagian, tetapi sampai saya menulis ulasan ini, saya masih belum menemukan bagian mana yang hampir bikin mewek itu

Rate: 4/5. Nyaris bersih dari salah ketik. Saya menemukan kata ‘romace‘, padahal harusnya ‘romance‘ (My Chemical Romance is one of my favorite bands). Semoga, setelah I Love You, Alvi dapat menawarkan cerita sederhana baru yang tidak biasa.

erl.

 

Advertisements

2 thoughts on “[Review] I Love You; I Just Can’t Tell You by Alvi Syahrin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s