writing

[Review] Orange by Windry Ramadhina

‘Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa… dan siapa?

*

Akhirnya, saya dapat kesempatan buat baca novel debut karya Windry Ramadhina, Orange. Sebelum dicetak ulang dengan cover baru, novel ini sangat sulit didapatkan karena sudah langka di pasaran. Jadi, saya tanpa basa-basi membelinya setelah Orange edisi baru keluar dari percetakan.

Di bagian pembuka, para pembaca akan berkenalan dengan empat tokoh utama dalam Orange: Faye–gadis pecinta jeruk dan fotografi, Diyan–eksekutif muda yang digilai para wanita, Zaki–adik Diyan yang lebih menyukai dunia advertising dibanding usaha keluarganya, dan Rera–model blasteran Prancis yang memiliki ambisi kuat. Diambil dari sudut orang ketiga, potongan-potongan kisah mereka lalu bersinggungan dan mempertemukan mereka dalam konflik yang saling berkaitan.

Sentral cerita Orange berada dalam perjodohan Faye dengan Diyan. Faye terpaksa setuju karena janjinya di masa lalu, sedangkan Diyan menganggapnya sebagai ‘urusan bisnis’. Awalnya, mereka sanggup melalui pertemuan yang dirancang Rei, sepupu Diyan. Namun, hubungan artifisial tersebut lambat laun menumbuhkan perasaan lain. Semakin kuat perasaan tersebut, semakin banyak ujian muncul. Salah satunya adalah Rera, seseorang dari masa lalu Diyan yang sulit dilupakan. Sedangkan Faye harus berhadapan dengan Zaki yang diam-diam menyimpan perasaan padanya. Apakah perjodohan Faye dengan Diyan tetap bertahan sebagai hubungan bisnis seperti yang mereka pikirkan sebelumnya? Nah, you better read it.

Untuk ukuran novel debut, saya tetap dibuat kagum oleh kemampuan menulis Windry–meski dia mengatakan kalau Orange ‘menggambarkan kementahan dan kepolosan, mungkin juga kecerobohan’. Namun, karena saya sudah membaca novel-novel Windry yang lain, Orange tergolong novel ringan. Orange juga menjadi bukti sejauh apa tulisan Windry berkembang sampai sebaik sekarang (dan semoga makin membaik).

Rate: 3.5/5. Dalam Orange edisi baru, Windry menambahkan side light berjudul The Girl Behind the Lens dan sketsa-sketsa cantik dari para tokohnya. Saya tidak menemukan salah ketik–entah kelewat atau memang tidak ada sama sekali. Latar belakang para tokohnya cukup kuat dan tidak terlalu berlebihan (terutama kehidupan keluarga Muid dan Adnan).

Regards,

erl.

p.s.: karena saya lagi gandrung membaca manhwa (komik Korea), Faye mengingatkan saya pada tokoh utama Cheese in the Trap, Hong Sul. Gaya berpakaiannya hampir sama.

Hong Sul from “Cheese in the Trap”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s