project · writing

Tentang Bandung: [1] Sepenggal Nostalgia di Gedung Sate

Gedung Sate (sumber: Google)

Mengundang asa, sejuta warna

Temaram senja, jingga merona

Teduhnya cinta, persahabatan

Membias jelas, di Kota Kembang

Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan di kota ini.

Sepanjang masa-masa sekolah, saya hanya menganggap Bandung sebagai tempat di mana saya tinggal. Saya belum merasakan ikatan emosi kuat dengan kota ini meski sesekali berkunjung ke tempat yang sering disebut teman-teman. Namun, di bangku kuliah, saat saya mulai bebas menjelajah cukup jauh dari rumah, saya sadar jika Bandung bukan hanya sekadar nama ibukota.

*

Ada ingatan samar setiap kali saya melewati Jalan Diponegoro; tentang gedung putih dengan puncak berbentuk sate yang menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat. Beberapa tahun silam, selepas kunjungan ke rumah seorang sepupu, motor ayah tiba-tiba mogok. Kami terpaksa harus mendorongnya sampai ke depan gedung putih tersebut. Saya pasti masih berusia enam atau tujuh tahu saat itu dan tidak ingat secara detail kejadian tersebut.

Tapi, tetap saja, motor Ayah adalah hal pertama yang saya ingat setiap melintasi Gedung Sate.

*

Satu tahun lalu, saya baru mendeklarasikan diri sebagai turis di Kota Bandung dan punya tujuan untuk mendatangi tempat dan fasilitas yang belum sempat saya kunjungi. Setelah membaca beberapa ulasan, saya memutuskan buat naik Bandros. Tempat mangkalnya lumayan jauh dan satu-satunya petunjuk yang saya punya adalah ‘taman di belakang Gedung Sate’. Setelah satu jam menempuh perjalanan dengan angkot, saya berhenti di depan gedung tersebut. Menatapnya dengan penuh kekaguman.

Berbekal Maps, saya menapaki jalur pejalan kaki di depan Gedung Sate. Setiap beberapa langkah, saya menemukan satu tegel khusus besar untuk corak batik khas Jawa Barat. Ah, kenapa harus di jalur pejalan kaki? Saya yakin ada orang-orang yang memperhatikan, tapi siapa tahu beberapa lagi hanya melintas tanpa berhenti untuk menikmati karya seni ini.

Salah satu corak batik (sumber: Kompasiana)

Saya terus melangkah, sampai tiba di bagian belakang gedung. Jam makan siang belum selesai dan saya melihat orang-orang—anak sekolah, pegawai kantor, sampai manula—menikmati waktu istirahat di taman belakang dan Taman Lansia yang terletak di samping Gedung Sate. Saya ingin ikut duduk di bawah pohon kalau sedang tidak buru-buru. Di balik keangkuhan bangunannya, gedung tersebut menawarkan kedamaian bersama pepohonan tua yang telah mendiami Bandung selama puluhan, atau mungkin ratusan tahun.

Saya semakin jatuh cinta.

Sebelum pergi, saya menoleh ke belakang dan berjanji akan menyempatkan waktu untuk menjelajahi gedung tersebut satu hari nanti.

*

Salah satu keinginan yang belum saya wujudkan adalah menikmati video mapping di Gedung Sate. Beberapa perhelatan besar seringkali menggunakan teknologi tersebut untuk memeriahkan acara. Sejauh ini, saya hanya bisa menikmatinya lewat media sosial atau foto-foto yang diunggah teman-teman.

Saya juga ingin merasakan euforianya; menyaksikan ketenangan Gedung Sate di bawah sorot cahaya pancawarna yang dinamis.

Video mapping di Gedung Sate (sumber: Google)

*

Dan, untuk kali pertama, saya bersyukur dilahirkan di kota ini.

*

Takkan hilang, selalu melekat

Teduhnya warna Parahyangan

Takkan hilang, selalu melekat

Birunya warna Parahyangan

(Kisah Teduh Membius Biru – A.F.F.E.N.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s