project · writing

Tentang Bandung: [4] Cemal-Cemil dari Kota Kembang

Tiada lagi yang kuinginkan lebih dari yang kau berikan
Tak pernah berhenti sekan datang tanpa kuminta
Selalu ada saat kubutuhkan
Apa gerangan yang terlintas
Tataplah ke atas sinar yang terang

Bandung dulu dikenal sebagai Kota Mode; factory outlet yang tersebar di wilayah Dago selalu menjadi incaran para pendatang maupun penduduk aslinya. Saya bukan penggiat fesyen, tapi setidaknya tahu fakta tersebut dari majalah atau novel berseting Kota Kembang.

Itu, beberapa tahun lalu. Kini, setiap kali saya meluangkan waktu untuk refreshing, saya akan menemukan tempat-tempat makan baru. Tidak hanya di pusat kota, puluhan meter dari rumah saya pun ada kedai dan kafe kecil yang disesaki mahasiswa dan pekerja kantoran. Di media sosial, akun-akun sibuk mempromosikan tempat nongkrong baru setiap minggunya. Menu yang dihidangkan pun beragam—dari cara penyajian hingga namanya.

Bandung kini telah menjadi Kota Kuliner.

*

Tema kali ini menguntungkan, sekaligus membuat saya bingung. Apa yang harus saya bahasa? Di mana tempat yang paling cocok mewakili Bandung? Syukurlah, keruwetan saya nerakhir saat Nenek membeli beberapa potong kue lapis.

Ah, jajanan pasar.

Kenapa saya harus pusing memilih tempat, padahal ada penganan-penganan ini di sekitar saya?

1. Kue cubit

Jauh sebelum menjadi tren kekinian, kue cubit hanya dikenal sebagai jajanan murah-meriah di sekolah. Saat saya masih duduk di bangku SD, saya kerap membeli kue cubit. Satu kue harganya lima ratus rupiah (saja). Kue cubit juga bisa dibuat sendiri karena bahan-bahannya tidak terlalu sulit—terigu, telur, gula, dan cetakan khusus. Favorit saya sampai sekarang adalah kue cubit setengah matang yang masih panas (makannya harus diam-diam, takut dimarahi Mama).

Wah, saya baru tahu kalau kue cubit ternyata dari Jakarta.

 

2. Awug

Awug adalah kue khas dari tataran Sunda. Saya dulu kurang suka dengan camilan ini, tapi karena Nenek sering beli, akhirnya saya iseng coba dan malah ketagihan. Awug terbuat dari tepung beras dan gula merah. Rasa gurih dan manisnya akan semakin oke dengan tambahan parutan kelapa. Satu hal yang saya sukai dari awug adalah wangi pandan yang kentara tercium saat penganan ini dihidangakan panas-panas.

 

3. Seblak

Ada yang bilang kalau seblak sebenarnya berasal dari Jawa Tengah, karena mirip krupuk godog dari Sumpiuh. Sebagian besar seblak terbuat dari kerupuk dengan berbagai bumbu, tapi ada yang membuat variasi dari makaroni dan mi. Namun, saya kurang suka pedas dan hanya sesekali menyantap seblak. Plus, seblak favorit saya hanya ada dua: buatan adik saya dan saudara Ayah di Ciwidey.

 

4. Colenak

Jajanan khas Bandung dikenal dengan namanya yang berupa singkatan. Seperti gehu (toge dan tahu) dan cireng (aci digoreng). Colenak alias dicocol enak adalah peuyeum (tapai singkong) bakar yang biasanya dihidangkan dengan gula jawa cair. Saya gandrung dengan hal-hal berbau peuyeum dan jatuh cinta dengan colenak ini. Sekarang, colenak merambah ke buah-buahan seperti durian dan nangka.

Nah, camilan-camilan ini mungkin hanya mewakili sebagian kecil ragam kuliner di Bandung. Karena, ya, rasanya perlu berhari-hari untuk mengulas industri makanan di kota ini.

Selamat menikmati!

Tunjukan apa yang kita cari
Apa yang telah kuberikan
Terbawa angin dan menghilang
Biarkan saja menghilang
Lihat ke atas sinar yang terang

(Elora – Pure Saturday)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s