Life · writing

[Writing] The Perks of Being a Freelance Writer

Hampir dua bulan saya menggantungkan nasib dompet dengan bekerja sebagai penulis lepas (freelance writer). Saya enggak nyangka akan mendapatkan pekerjaan ini setelah tiga bulan menganggur. Pekerjaan saya sebelumnya juga sifatnya kantoran, Senin sampai Sabtu, dari pukul sembilan pagi sampai empat sore. Enam bulan yang mengesankan, tetapi saya agak lelah juga (karena bidangnya kurang pas dengan minat saya).

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi dan briefing dengan salah satu penyedia jasa penulis lepas, saya girang bukan main. Apa, sih, yang lebih menyenangkan dari pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan minat yang ditekuni selama ini? I’ve been writing for years, now I’m earning money from this. Sweet.

Eh, tapi, itu bukan berarti jadi freelance writer selalu menyenangkan. Selama nyaris dua bulan ini, saya sudah merasakan sedikit suka-duka dari pekerjaan ini.

Poin  Suka

1. Bisa Kerja Di Mana Saja

Aaaawyis, working from home. Selamat tinggal pakaian formal! Selamat tinggal ongkos angkot yang terus naik! Saya membaca beberapa artikel tentang penulis lepas yang memberi saran untuk menciptakan work space sendiri di rumah. Saya tadinya punya pojok menulis, tapi ujung-ujungnya saya kerja di sembarang tempat. Dari ruang tamu, meja, sampai di atas kasur. Selama nyaman, saya akan menulis di sana berjam-jam. Kalau bosan di rumah, tinggal keluar dan cari tempat buat nulis dengan fasilitas wi-fi. Intinya, jadi penulis lepas tidak harus terikat dengan istilah ‘setor muka’ sama atasan. Mwahahaha.

2. Waktu Luang Lebih Banyak

Di pekerjaan sebelumnya, saya punya kendala untuk menulis naskah novel (excuse aja ini mah). Kadang, kalau ada rapat, saya bisa pulang sore atau malam. Sampai di rumah, boro-boro kepikiran naskah, yang ada bawaannya pengin makan, terus tidur. Nulisnya kapan-kapan. Huhuhu. Sedangkan saat jadi penulis lepas seperti sekarang, saya punya porsi waktu luang lebih banyak dan bisa dimanfaatkan buat nulis atau baca buku. Jadi, enggak ada alasan naskah lama selesai (seharusnya seperti itu, tapi kenyataan berkata lain).

3. Pengeluaran Berkurang

Yaaas, selain ongkos transportasi, dana buat makan siang dan keperluan mendadak pun berkurang atau hilang seketika. Kerja di rumah ini, kok. Kalau lapar, ya, tinggal makan aja (kebetulan tinggal sama orangtua dan Mama masih sering masak) atau masak sendiri, in case Mama sedang tidak mood memasak. Ini juga berarti satu hal: tidak cepat bangkrut, jadi uang di dompet maupun ATM akan jarang keluar dan pindah ke dompet lain.

Poin Duka

1. Bosan dan Kesepian

Being lonely isn’t same as being alone. Iya, saya introver dan sudah sangat terbiasa sendiri. Jalan-jalan sendiri. Nonton konser sendiri. Pacaran sendiri *eh*. Tapi, saya juga butuh sosialisasi, lho. Di kantor dulu, setidaknya saya berinteraksi dengan dua sampai empat orang dalam satu ruangan. Sekarang? Tanpa hitungan chatting, saya… masih bersosialisasi, sih, tetapi dengan orang-orang rumah dan di luar jam kerja. Ketika bekerja, saya harus pergi ke tempat sepi dan lama-lama bosan karena enggak ada rekan kerja yang bisa diajak mengobrol langsung. Jadi berasa di gua, kan.

2. Tidak Selamanya Bebas

Ada yang bilang, being freelancer doesn’t mean we’re free anytime. Yhakali kami juga kerja, yang bikin free itu karena tidak terikat kontrak penuh seperti pekerja kantoran. Untuk pekerjaan sekarang, saya mengambil shift sore, dari pukul tiga sore sampai sepuluh malam. Alasannya, karena jam segitu saya lagi melek-meleknya dan porsi pagi bisa dipakai buat baca atau nulis naskah (diselingi bergunjing). Well, dan saya masih kesulitan buat meet up atau sekadar ngopi lucu sama teman-teman. Kalaupun bisa, saya harus minta izin pindah shift, tapi itu juga tidak boleh sering.

3. Gaji Seadanya

Jumlah pendapatan tenaga kerja lepas bergantung pada jumlah pekerjaannya juga. Semakin banyak, ya semakin besar pula… gajinya. Mungkin bisa melebihi gaji pegawai kantoran, tapi itu buat yang sudah ahli kali, ya. Bagi saya yang pemula, sih, gajinya masih jauuuh di bawah pendapatan di kantor dulu. Jadi, saya enggak bisa sering-sering beli buku atau kulineran. Harus berhemat juga, meski loba kahayang. Tapi, saya bersyukur, karena sejauh ini gajinya cair tepat waktu. He.

Nah, jadi itulah poin-poin suka duka selama jadi penulis lepas (sejauh ini). Tadinya, saya menjadikan freelance writer sebagai pegangan sementara sambil cari pekerjaan tetap. Lah, tapi lama-lama malah kerasan. So, I think I’m going to stick with it for a while.

Have a nice weekend,

erl.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s