writing

[Writing] Memilih Lagu untuk Cerita

Untitled

Ketika membaca novel, kita akan sering menemukan beberapa kutipan lirik lagu yang disematkan si penulis. Porsinya bervariasi, bisa hanya satu baris atau malah berbait-bait; tergantung sepenting dan sekuat lagu itu terhadap cerita. Saya juga termasuk penulis yang melakukan kebiasaan tersebut. Meski sekarang mulai dikurangi, kayaknya masih merasa enggak sreg kalau belum menambahkan satu atau dua baris lagu di dalam naskah. Heheh.

Lantas, bagaimana cara saya memilih lagu yang tepat untuk cerita?

1. Belajar dari Soundtrack Film

Pernah nonton film dengan soundtrack bagus? Lagu-lagu yang disisipkan dalam berbagai adegan di film tentunya diciptakan sesuai sama ceritanya supaya nyambung. Salah dua soundtrack favorit saya adalah dari (500) Days of Summer dan Begin Again. Selain bagus-bagus, nyawa dari soundtrack tersebut masuk dengan alur ceritanya.

That is—nyawa. Pilihlah lagu yang nyawanya satu jalan sama naskah. Bukan hanya enak didengar, tetapi liriknya sesuai dengan isi cerita kalian. Meski, ya, sensasinya enggak akan semaksimal film yang didukung audio-visual.

2. Jangan Dipaksakan

Saya kadang menemukan lagu yang musiknya pas dengan cerita, tetapi liriknya enggak sesuai. Di waktu lain, saya menemukan lagu dengan musik yang enggak mendukung atmosfer, tetapi liriknya cocok banget sama kisahnya. Ah, sebel, kan? Bagi saya, komposisi musik juga penting buat cerita, walaupun enggak akan kedengaran sama si pembaca. Tapi, bagaimana kalau si pembaca niat cari buat tahu suasana lagunya?

Saran saya, sih, jangan dipaksakan, tetapi tetap simpan juga lagu-lagu tadi, siapa tahu emang belum ketemu jodohnya. Makanya cari lagu yang lirik sama musiknya sesuai sama cerita itu gampang-gampang susah buat saya. Kalau enggak ketemu, saya pasrah saja. Haha.

3. Porsi Lirik

Jangan, jangan sampai naskah kalian berubah jadi kumpulan lirik lagu. Dulu, saya pernah ada di fase mencatut seluruh bait lirik ke dalam cerita. Kebiasaan tersebut mengikis; awalnya menyelipkan satu paragraf narasi ke tiap bait. Lama-lama, tinggal satu atau dua bait. Sekarang, saya sedang membiasakan diri untuk menggunakan satu atau dua baris lirik saja.

Kembali lagi kepada urgensi si cerita. Kalau memang harus dicantumkan semua, silakan, selama tidak merusak suasananya (saya agak terganggu dengan gaya ini). Kalau sekarang, saya lebih memilih bait atau baris yang paling mencerminkan isi dan suasana si cerita. Jadi, fokus pembaca tidak akan terbelah.

4. Usia

Kalau yang ini disesuaikan dengan selera masing-masing, ya. Mungkin beberapa penulis tidak terlalu mempermasalahkan hubungan usia para tokoh dengan lagu dari musisi yang lagunya akan mereka pilih. Sementara saya, yang lumayan selektif, sampai memikirkan poin ini. Sepertinya mulai terpengaruh faktor umur juga. Yha.

Namun, sebagian besar musisi—entah solois atau grup—juga tumbuh dewasa dengan musik mereka, bukan? Sepuluh tahun lalu, musik mereka masih cocok dengan kalangan remaja, tetapi beberapa tahun kemudian, lagu-lagunya malah sesuai sama orang dewasa. Perubahan tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi saya untuk memilih lagu yang pas dengan usia para tokoh di dalam cerita.

5. Buat Playlist

Mungkin saya bukan satu-satunya penulis yang hobi menyusun playlist buat menulis cerita. Lagu-lagunya juga yang bisa bikin produktif (dalam kasus saya adalah lagu-lagunya Taylor Swift dan Copeland). Nah, tidak jarang satu atau dua lagu dari playlist tersebut malah cocok sama suasana dan isi cerita. Untuk mempermudahnya, kalian bisa tandai lagu tersebut dan buat lagi playlist khusus buat naskah tadi.

Kalau daftarnya sudah banyak, coba tulis ceritanya sambil mendengarkan playlist tersebut. Kemudian, kalian bisa tentukan lagu yang sesuai dengan bagian-bagian dalam karangan. Di tahap akhir, kalian bisa menyeleksi baris atau bait lirik yang ingin dicantumkan ke dalam cerita itu.

6. Cantumkan Sumber

Ini bukan tip pemilihan lagu. Namun, penting karena kalau tidak mencantumkan sumber—dalam hal ini musisi yang liriknya dicatut—kalian bakal dituduh sebagai penjiplak atau malah pembajak. Ini menyangkut hak cipta orang lain, lho. Malah, saya dengar setahun lalu, pencantuman lirik di media lain ini enggak boleh sembarangan dan harus minta izin kepada pihak yang bersangkutan.

Kasus pelanggaran hak cipta di Indonesia memang belum ditanggapi secara serius. Padahal, pelaku bisa dikenai denda ratusan juta dan masuk penjara. Kalian enggak mau, kan, menginap di hotel prodeo gara-gara lupa mencantumkan nama sumber asli?

Nah, itu tips dari saya seputar pemilihan lirik lagu buat cerita fiksi. Sekali lagi, ini kembali pada selera masing-masing, ya. Kalau cocok, ya syukur. Kalau enggak… bisa kali share tips versi kalian tentang pemilihan lagu buat sebuah cerita dengan saya (atau pembaca lain).

Selamat mencoba!

 

erl.

Advertisements

2 thoughts on “[Writing] Memilih Lagu untuk Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s