Life · writing

[Publishing] Perhatikan Poin-poin Ini Sebelum Mengirim Naskah ke Penerbit

Ada beberapa teman dan pembaca yang bertanya bagaimana caranya kirim naskah ke penerbit. Sebenarnya, kirim naskah ke penerbit bukan perkara sulit. Tinggal dikirim ke alamatnya, kan? *eh* *bukan itu, ya?*

Pertanyaan tadi biasanya merujuk ke syarat dan ketentuan. Itu pun tidak bisa saya jawab langsung karena setiap penerbit punya poin yang berbeda. Entah dari genre cerita hingga format pengiriman. Namun, ada beberapa kesamaan yang dicantumkan para penerbit tersebut. Pada entri kali ini, saya mau membahas seputar kesamaan tadi dan hal-hal penting yang harus kalian perhatikan sebelum mengirim naskah ke penerbit.

  1. Kelengkapan Naskah dan Data Diri

Setidaknya, ada tiga komponen yang harus kalian siapkan: naskah, sinopsis, dan data diri. Ada juga komponen lain seperti surat pernyataan keaslian naskah, tetapi tidak semua penerbit memintanya. Nah, untuk naskah, pastikan ceritamu benar-benar sudah selesai. Enggak nyicil ngirimnya per bab macam kredit motor.

Sedangkan untuk sinopsis, usahakan kalian bisa merangkum cerita dari awal sampai akhir sepanjang dua halaman A4 (standar). Iya, awal sampai akhir, karena ternyata masih ada yang kirim sinopsis, tapi isinya gantung. Sok bikin penasaran sampai dikasih pertanyaan kayak “Apa mereka akan bertemu kembali? Simak ceritanya dalam [Judul Naskah].” Woooi, kalau itu sampai dibaca editor, bisa langsung ditolak. (Baca juga: Perbedaan Blurb dan Sinopsis)

Terakhir, cantumkan data diri selengkap dan seasli mungkin. Kalau sebelumnya kalian punya karya yang sudah diterbitkan, cantumkan juga. Lumayan, lho, buat ‘jual diri’.

  1. Format Penulisan

Standarnya, penerbit minta naskah diketik dengan huruf Times New Roman atau Calibri. Ukuran hurufnya 11pt atau 12pt, dengan spasi berkisar dari 1 sampai 2 spasi. Margin by default, artinya kalian enggak usah utak-atik Page Setup lagi. Kayaknya mudah, tapi masih ada yang bandel. Contohnya pakai jenis huruf berukir macam Jokerman atau Kristen ITC. Yaaa, kelihatan artistik, sih, cuma enggak akan dibaca karena bikin sakit mata. Terus, bagaimana kalau penerbit enggak mencantumkan jenis dan ukuran huruf? Kalian bisa pakai jenus huruf standar Times New Roman, ukuran 12pt. Atau bisa tanya dulu sama penerbitnya supaya lebih jelas (kalau katanya bebas, kembali pakai standar aja, lah).

Oh, satu lagi: jangan pakai jenis huruf Comic Sans MS, karena kalian kirim naskah buku, bukan komik.

  1. Cara Mengirim Naskah

Sebagian besar penerbit masih pakai metode yang sama, yaitu dikirim langsung ke alamat redaksi mereka. Supaya naskah kalian enggak berantakan, jilid atau pakai klip sesuai dengan ketebalan naskahnya. Kirim pakai amplop berlapis supaya enggak basah kalau kehujanan dan sampai dengan selamat. Akhir-akhir ini penerbit juga mulai buka metode lain melalui surat elektronik atau e-mail. Lumayan, kan, bisa hemat kertas dan tinta printer. Tapi, kalau penerbit enggak pakai metode lewat surel, jangan dipaksa buat bisa, ya. Standar setiap penerbit, kan, beda-beda.

  1. Jangan Kirim Satu Naskah ke Dua Penerbit

Ada yang pernah panik karena mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu berdekatan. Berita baik sekaligus buruknya adalah… kedua penerbit tadi menerima naskahnya! Kenapa baik? Ya berarti naskahnya sesuai standar penerbit dan laik muat, dong. Buruknya? Kalau sampai diterbitkan di dua penerbit, bisa chaos dunia penerbitan. Soalnya, penulis tidak boleh mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu bersamaan. Kesannya, si penulis serakah dan pengin ambil untung banyak. Sementara penerbit merasa dikhianati karena penulis tadi nyambi juga di tempat lain. Kalau sudah begitu, si penulis bisa di-blacklist. Bukan hanya di dua penerbit tadi, tapi bisa saja semua penerbit. Kelar, deh, karier dia sebagai penulis.

Hal ini juga berlaku untuk bentuk tulisan lain seperti artikel atau cerita pendek. Kalau mau, kalian harus sabar menunggu kabar dari satu penerbit. Baru kirim ke penerbit lain seandainya naskah kalian ditolak di penerbit sebelumnya.

  1. Kirim ke Penerbit yang Sesuai

Ini memang agak tricky dan mengandalkan keberuntungan. Kalian mungkin suka baca buku dari penerbit A, eh tapi malah jodoh sama penerbit B. Begitu pula sebaliknya. Tapi, satu hal yang pasti, jangan sampai kirim naskah ke penerbit yang enggak menerima genre tulisanmu. Jadi, ada baiknya kalian riset dulu ke lapangan (toko buku-red) dan pilih beberapa penerbit yang gaya ceritanya mendekati karya kalian. Kalian juga bisa tanya teman-teman, “Naskahku cocoknya masuk penerbit mana, ya?” Siapa tahu salah satu di antara mereka cukup teliti untuk hal ini.

Selain lima hal di atas, kalian juga harus sabaaar menunggu kabar tentang naskah. Penerbit membutuhkan rata-rata tiga sampai lima bulan untuk memberi konfirmasi selanjutnya. Bukan mau bikin kamu kesal karena menunggu, tetapi mereka menerima puluhan bahkan ratusan naskah yang harus diseleksi secara ketat. Kalau sudah lebih dari lima bulan belum dapat kabar, kalian baru bisa mengontak mereka buat tanya nasib si naskah.

Semoga tulisanmu bisa segera bertemu jodohnya!

 

erl.

Advertisements

6 thoughts on “[Publishing] Perhatikan Poin-poin Ini Sebelum Mengirim Naskah ke Penerbit

  1. hehe, lebih enak yg kirim lewat surel ya mbak … jauh lebih irit, karena gak perlu print out .. tapi memang kebijakan tiap penerbit beda – beda. thanks infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s