Life

[Life] The Introvert’s Drama

Saya sebenarnya sudah pernah menulis beberapa entri tentang introver di blog lama. Tapi, berhubung tulisannya alay, jadi saya bikin yang baru dan lebih rapi.

Jadi, apa itu introver? Kalau kata KBBI, sih:

intro

Kalian pernah satu kelas sama murid pendiam dan lebih suka baca buku daripada makan di kantin (wait, me?)? Nah, orang-orang introver kurang lebih seperti itu. Saya sendiri baru tahu istilah ini saat masuk kuliah setelah kenyang dibilang pendiam, kaku, dan pemalu selama bertahun-tahun. Saya pernah mencoba untuk jadi ekstrover alias lebih terbuka, tapi paling maksimal sampai level ambivert.

Nyatanya sampai sekarang masih ada yang belum paham dengan introver. Ada beberapa pertanyaan atau, ya, semacam sindiran yang saya dapatkan karena punya sifat ini. Nah, saya kumpulkan dan simak penjelasannya di bawah ini

  1. “Sendirian aja?”

Ya. Ya enggak juga sih. Ada malaikat pencatat amal, kok, di kanan-kiri saya. *eh

Para introver menikmati kesendirian. Kami suka, kok, bersosialisasi. Sayangnya, ‘baterai’ kami tidak setangguh para ekstrover yang bisa tahan ngobrol berjam-jam. Selepas gibah hore sama teman-teman atau nonton konser, saya akan merasa lelah luar biasa. Bahkan bertemu satu atau dua orang pun bisa capek, lho. Makanya, saya suka pulang sendirian untuk mengisi daya ‘baterai’ yang terkuras selama bertemu dengan banyak orang tadi (kecuali kalau butuh tebengan atau diantar gebetan. Hehe.)

Untuk bertemu dengan orang banyak, kami juga butuh tenaga yang banyak. Jadi biasanya, saya akan melakukan persiapan seperti menentukan waktu berangkat dan pulang, serta basa-basi busuk pengisi kekosongan. Perjalanan ke tempat tujuan pun terhitung sebagai pengisian daya. Makanya, kalian pasti sering mendapati introver datang sendirian ke acara tertentu.

  1. “Kok diam aja?”

We hate small talks.

Saya punya kebiasaan observasi di pertemuan pertama. First impression adalah harga mati, meski tidak jarang penilaian kami bisa salah di kemudian hari. Kalau lawan bicara kami menyenangkan, kami pasti akan membuka diri pelan-pelan. Kalau enggak, bye (tapi saya masih kasih kesempatan sampai dua atau tiga kali. Kalau masih gitu-gitu aja, bye.) Saking pendiamnya, beberapa teman menyangka kalau saya cuma ngomong kalau ada perlunya saja. Sakit, cuy. Saya makin ngediemin mereka aja jadinya.

Nah, begitu. Introver bisa ngomong, kok. Serius. Asal kalian masuk kriterianya aja, ya.

  1. “Kenapa ngelamun terus dari tadi?”

Also, we are deep thinkers.

Masih berkaitan dengan poin pertama, untuk masuk ke area berpikir lama dan dalam, kami pasti akan menyendiri. Beberapa introver mungkin akan melakukannya di tempat-tempat sepi. Sebagian lagi mungkin sudah bisa melakukannya di kafe atau di tengah kerumunan konser. Sekilas, kami mungkin kayak orang kebingungan karena diam dalam waktu lama dengan tatapan kosong. Kami juga akan terganggu luar biasa kalau sesi berpikir itu terputus di tengah jalan. Makanya, kalau kalian punya teman introver dan lihat dia dalam sesi ini, jangan diganggu ya.

Kecuali kalau ngelamunnya sampai enggak tidur berhari-hari.

  1. “Kok enggak ngajak-ngajak?”

Hmm, gimana ya….

Pertanyaan ini muncul kalau saya check in di Path atau posting foto lagi tempat makan atau sejenisnya. Mungkin agak aneh, kali, ya, karena yang lain kalau check in pasti lagi sama geng atau pacarnya. Lah, saya sendirian aja. Terus enggak ngajak-ngajak lagi. Huh.

Saya bukannya enggak mau ngajak, tapi ini masih berkaitan sama nomor tiga. We need this me-time (kalian juga pasti butuh, kan, meski bukan introver?) Jadi, jangan banyak protes, ya, kalau saya pergi sendirian. Kecuali kalau saya respons, berarti saya enggak keberatan kalian temani. Atau saya ajak kalau memang sedang ingin ditemani.

  1. “Kamu lebih lancar ngobrol pas chatting, ya.”

HAHAHA.

True story.

Karena lebih sering berpikir dan menyendiri, kami otomatis jadi irit bicara. Saya bahkan paling takut dan waswas kalau bertemu sesi presentasi di kelas (jangan tanya sefrustrasi apa waktu saya mau sidang). Talk is cheap, they said, but hell nope for us. Makanya SMS dan aplikasi chatting jadi semacam pahlawan buat kami. Menulis jadi semacam keahlian para introver, karena kami enggak usah repot ngomong dengan berbelit-belit.

Ya terus menurut kalian kenapa saya jadi penulis? *lel

Tapi pada kondisi tertentu, kami bisa bicara lancar dalam waktu lama. Saya akan masuk mode tersebut kalau sedang mendiskusikan hal-hal yang saya suka. Begitu beres, sih, ya, saya jadi pendiam lagi.

  1. “Balas, dong, chat-nya.”

Jadi begini… ternyata SMS dan chatting pun tidak selamanya menguntungkan.

Saya sering membiarkan beberapa pesan tak terbalas karena menganggap percakapan itu sudah selesai. Namun, beberapa orang ternyata butuh balasan singkat, meski dengan oke, sudah diterima, atau y. Sebenarnya saya kesal dan kurang suka, karena balasan singkat tadi masuk ke kategori 1) basa-basi dan 2) small talks. Tapi, dalam beberapa kondisi, saya mau tidak mau harus mengalah supaya si lawan bicara tidak senewen.

Y. K.

[insert emoticon]

  1. “Sendirian terus. Kapan punya pacar / suami / istri?”

Menjalin hubungan serius adalah hal tersulit lain setelah bicara.

Sebenarnya, jangankan pendamping sehidup-semati, menjalin pertemanan atau bisnis pun bukan hal mudah buat kami. Saya tipe orang yang sulit percaya dengan orang lain. Saya tidak mau berbagi cerita, rahasia, apalagi hidup dengan sembarang orang. Makanya, para introver punya lingkaran pertemanan yang cenderung kecil dan masih di situ-situ saja.

Lantas, kalau kamu berhasil mencuri perhatian saya (atau introver lain yang punya sifat seperti ini), saya akan percaya sepenuhnya sama kamu. Saya enggak akan segan-segan bicara panjang lebar dan mendiskusikan berbagai topik. Saya, kalau sudah percaya banget, akan menjadikan orang ini sebagai prioritas untuk berbagi cerita tentang apapun. Kalau sama yang lain saya benci basa-basi, sama orang-orang kepercayaan ini sih ya malah enggak segan lempar guyonan garing.

Itu baru sama teman. Can you imagine how complicated it is to be in a relationship with introvert?

Tapi, tapi, kalau kamu berhasil bikin introver jatuh cinta… they will try hard to never let you go. *hahay

Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang sering nyangkut, tapi tujuh poin di atas adalah yang paling sering dilontarkan. And, for us, being alone doesn’t mean we’re not feeling lonely. Iyes, kami juga bisa merasa kesepian. Kami mungkin terlihat aneh, tetapi selama kalian tahu cara menghadapi introver, enggak akan ada masalah, kok.

It’s quite long, tho, but thanks for reading.

 

erl.

 

p.s.: pemaparan di atas mungkin tidak berlaku untuk semua introver.

p.s.s: ini salah satu ilustrasi terbaik tentang introver.

Advertisements

10 thoughts on “[Life] The Introvert’s Drama

  1. Bener banget. Inilah yang dirasakan selama menjadi introver. Ya, walaupun ada satu-dua hal yang berbeda, sih, tetapi dengan artikel ini saya menyadari bahwa ada orang lain yang mengalami nasib (?) yang sama. Sebenernya lama-lama risih juga, sih, dibilang aneh dan lain sebagainya, tetapi menyadari bahwa ada orang lain yang mengalami itu tiba-tiba saja saya mendapat percikan semangat (?) untuk menjalani hidup sebagai seorang introver dan menyadarkan pada diri saya bahwa menjadi seorang introver itu bukanlah sebuah kesalahan.
    Terimakasih sudah menulis artikel ini. Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s