Life · music

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s