[Blog Tour and Giveaway] Day 1: Kisah di Balik Judul

day1

SEBAGIAN dari kalian mungkin bertanya-tanya, “Kenapa judulnya The Playlist?” “Kenapa kavernya kayak enggak berkaitan sama judulnya?” “Itu spageti atau ind*mie?”

Well, yeah, I mean, look:

Tentunya saya punya alasan memilih The Playlist sebagai judul novel kedua yang baru terbit pertengahan September lalu. Gagasan awal The Playlist lahir saat saya sedang makan di Bober Cafe. Sebelumnya saya memang suka menyimak lagu-lagu yang diputar di tempat makan, tapi baru hari itu pertanyaan ini melintas:

Apakah musik latar di restoran atau kafe bisa mempengaruhi atmosfer tempat dan suasana hati pengunjung?

**

Sebelum kemunculan The Playlist, saya pernah mengira kalau musik latar di tempat makan sebagai aksesori untuk meramaikan suasana. Mungkin ada juga yang ditujukan untuk menghibur dan menarik lebih banyak orang lewat live music dari para musisi lokal. Namun saat menulis The Playlist, saya malah jadi penasaran. There must be a reason. Sampai kemudian, seorang teman saya mengirim tautan artikel yang ditulis Anggung Suherman/Angkuy (Bottlesmoker).trigger

So triggering.

Ternyata di Amerika Serikat dan Eropa, beberapa penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan antara musik dengan produktivitas. Selain itu, lagu-lagu yang mereka putar di restoran atau kafe tidak asal dipilih alias diseleksi untuk membangun suasana tempat dan membuat pegunjung betah (atau kembali lagi ke sana). Kalau kalian penasaran, sila baca artikel lengkapnya di sini.

Long short story, musik latar ternyata memang punya pengaruh terhadap atmosfer tempat makan dan suasana hati pengunjung. Bahkan lebih. Nah, hal ini yang kemudian saya pakai untuk membangun karakter Winona, food writer yang juga jadi tokoh utama The Playlist. Berbeda dari food writer kebanyakan, Winona selalu memberikan penilaian terhadap lagu-lagu yang diputar di tempat makan.

Lantas dari sana, saya menciptakan satu konflik yang akan Winona hadapi di dalam The Playlist:

Apa yang akan Winona lakukan saat dia datang ke tempat makan yang tidak memutar musik latar?

**

Begitu.

Huh, cuma segitu ceritanya?

Dibandingkan ATHENA: Eureka dan naskah yang baru saya selesaikan, The Playlist memang tergolong ringan, karena mulanya saya menulis cerita ini untuk koleksi pribadi dan melatih kembali kemampuan saya dalam kisah-kisah fiksi. Kebetulan saat itu saya baru selesai merampungkan skiripsi dan saat kembali ke fiksi… kok yah tulisannya jadi kayak jurnal ilmiah. Heheh.

Makanya sampai sekarang saya tidak menyangka kalau The Playlist bisa diterima banyak pembaca, bahkan diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Padahal rencananya bukan The Playlist yang bakal saya jadikan novel kedua, tapi sepertinya sudah jadi takdir Winona dan kawan-kawan buat jadi ‘adik’ ATHENA. Walau idenya sederhana, drama yang mengiringi kelahiran The Playlist lumayan banyak. Namun, biarlah saya yang menyimpan suka-duka itu, hahaha. Kalian tinggal nikmati versi akhirnya saja, yak.

Nyes, that’s all folks, pembuka dari blog tour dan giveaway The Playlist hari ini. Bukan cuma cerita, kalian juga berkesempatan buat mendapatkan satu eksemplar novel bertanda tangan. Jadi, catat tanggalnya, ya. Jangan sampai ketinggalan.

 

lttheplaylist

Besok, kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh The Playlist. So, stay tuned!

Regards,

erl.

 

ps: bab satu The Playlist bisa kalian baca di Storial dan Wattpad.

Advertisements

13 thoughts on “[Blog Tour and Giveaway] Day 1: Kisah di Balik Judul

  1. Denger The Playlist yg pertama ada dipikiran saya pastinya musik,tapi saya memang sempet heran ko covernya makanan??sekarang terjawab sudah. Dan saya suka covernya buat saya sederhana dan ngga ribet,warnanya juga suka soalnya soft.
    Ini asalnya dari wattpad ya kak??
    Judul asal di wattpadnya memang The Playlist kah??
    Ok deh saya sih yg doyan baca terima jadi aja,tinggal nikmatin ceritanya😊
    Saya paling suka bacaan yg ringan, dan biasanya Grasindo emang jagonya nerbitin karya yg saya suka.
    Saya tunggu info pemain2 nya πŸ‘

    1. Iya, kali pertama terbit di Wattpad tahun 2015 dengan judul yang sama. Terus sempet ke-pending beberapa bulan dan tayang ulang awal tahun 2016. Kalau buat kaver, aku sengaja fokus ke makanan karena sub-genre The Playlist ada di foodie romance. πŸ˜€

      Makasih juga sudah mampir baca ke blogku~

  2. Jadi selain menilai makanannya, winona juga menilai lagu-lagu yang diputar? Hmm ini unik. Aku penasaran. Apalagi belum pernah membaca novel dengan sub-genre foodie roamance πŸ™‚

  3. Romance, musik dan makanan….sumpah, ini novel bikin penasaran dengan 3 hal yang jadi moodboosterku bergabung jadi satu πŸ˜€

  4. Romance, musik dan makanan….sumpah, novel ini bikin penasaran dengan 3 hal yang selalu bisa jadi moodboosterku πŸ˜€

  5. awalnya melihat judul dan covernya seperti tidak ada kesinambungan..tapi menebak-nebak aja sendiri kalo makanan itu menghubungkan antara penikmatnya dan hobi bermusiknya.

  6. Hi Mba Erlin,

    Menarik sekali punya ide membuat cerita dengan menghubungkan musik dan makanan di restoran. And yes! Memang ada koneksinya kok. Kebetulan aku dulu bekerja di sebuah Dept. Store terkemuka dan bahkan kami memutarkan lagu-lagu tertentu dengan jam-jam tertentu juga. It helps us to increase the sales!^^ Percaya gak percaya, memang musik itu memengaruhi alam sadar seseorang kok.

    Jadi makin gak sabar pengen baca The Playlist…

      1. Iya Mba… Sepertinya sih memang begitu deh! Masing2 tempat punya playlistnya masing2 untuk maintin good mood customer atau pengunjungnya… 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s