Fiction · writing

[The Playlist] La Belle Luna

pasta-1463934_1280

SAYUP-SAYUP, aku mendengar tetesan air hujan mendarat di berbagai tempat; atap, kosen, kaca jendela, panci bekas. Ritmenya membuatku tenang, sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan. Kemudian, aku mengambil ponsel di atas nakas, mengaktifkannya, dan membiarkan cahaya dari layar menjadi satu-satunya penerangan di dalam kamar.

Aku membuka aplikasi pemutar musik dan memilih lagu yang terngiang sejak bangun tadi. Serta-merta, suara mendayu seorang pria bergabung bersama rinai hujan. Menciptakan suasana yang kian sendu.

Dalam dekapan selimut tebal, aku mengambil posisi duduk dan menyingkap tirai. Alih-alih melihat sinar kemerahan dari ufuk timur, aku mendapati langit kelabu kehitaman di luar. Aku menyeka lapisan embun di jendela, lalu menyelia rumah-rumah beratap cokelat tua di bawah. Satu-satunya tanda kehidupan yang kutangkap hanya pendaran lemah lampu-lampu dari teras. Pagi yang muram di pertengahan bulan November.

Kemudian, aku menoleh ke dalam kamar, tepat ke seberang ruangan. Dari pantulan cermin lemari, aku menangkap siluet yang tengah meringkuk. Aku tahu sosok itu tidak mengenakan apa-apa selain selimut yang melindungi tubuhnya. Kami bertukar pandang; tangan terulur seolah ingin menggapai satu sama lain.

Namun, kala udara dingin menerpa kulit, aku cepat-cepat menarik tanganku.

Aku mengambil napas panjang; menahan dorongan dari dalam dada. Get up, bisik sebuah suara dari dalam benakku. Diam seperti ini hanya akan menghancurkan pagimu. Setelah berhasil mengatur napas, aku mengambil kaus kebesaran dan pakaian dalam di ujung ranjang. Aku mengenakannya satu-satu sambil merapalkan doa untuk menenangkan pikiran.

Semuanya akan baik-baik saja.

*

Ketika aku keluar dari indekos menjelang siang, langit mulai berubah warna. Awan-awan kelabu tadi kini pecah menjadi gumpalan awan putih. Matahari menampakan diri dengan cahaya hangat. Sambil menapaki jalan, aku menghirup aroma perpaduan air hujan dan tanah—kadang sampah, kalau boleh kutambahkan.

Sambil menunggu angkutan umum, aku memeriksa notifikasi baru. Aku langsung membuka pesan dengan nama pengirim Ghina.

[Ghina] La Belle Luna, pukul satu.

Kebetulan sekali, aku sedang ngidam makan spaghetti bolognese.

Di dalam angkutan umum, aku mencari sejumput informasi mengenai La Belle Luna. Mesin pencari hanya menampilkan beberapa tautan valid—artinya tempat makan tersebut baru dibuka. Itu bukan berita bagus untukku, tetapi akan menjadi kebanggaan tempat kerjaku.

Setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di depan La Belle Luna. Tempatnya mengingatkanku pada kafe-kafe mungil di pinggir kota Roma. Tanaman rambat menutupi dinding bangunan bata merah. Jendela-jendela terbuka; mengekspos furnitur kayu yang mendominasi. Di halamannya, ada meja piknik dan bangku panjang. La Belle Luna kontras sekali dengan bangunan bergaya minimalis-modern di sekitarnya.

“Inooo!” Seorang perempuan berambut bob melambaikan tangan ke arahku. Senyuman kekanakkan terukir di wajahnya. “Aku kira kamu datang lebih awal.”

Macet.” Aku menaruh tote bag di bawah meja. Kendati kami berkunjung di jam makan siang, sebagian besar meja di dalam ruangan masih kosong. “Tempat ini baru buka?”

Ghina menghela napas berat. Salah satu tangannya mengelus perutnya yang kian besar. “Baru soft opening. Manajer restoran mengundang media-media kuliner, termasuk YummyFood buat mengulas La Belle Luna.”

Seorang pemuda tinggi-kurus menghampiri meja kami dan menyerahkan buku menu. Ghina mengeluh karena dia pantang menyantap hidangan favoritnya, sedangkan aku tanpa pikir panjang memesan spaghetti bolognese dan caffè con panna.

Sambil menunggu pesanan, aku mengeluarkan buku bersampul kulit beserta pena. Biasanya, Ghina melakukan pekerjaan ini sendiri dengan aku sebagai asisten. Namun, semenjak hamil, kegiatannya menjadi terbatas. Lantas, aku menggantikan posisinya sebagai penulis lepas di YummyFood setelah berhenti dari pekerjaan sebelumnya.

“Kamu enggak kangen sama kerjaan yang dulu?” tanyanya setelah minuman kami sampai. “Aku memang bukan penggila acara musik, tapi aku suka semua ulasan konsermu.”

Tanpa mengalihkan tatapan dari buku, aku menjawab, “Kamu tanya hal itu karena enggak tahu atau pengin menggodaku?”

Ghina terkikik. Aku pernah bilang kalau kepribadiannya yang mirip anak SD tidak cocok dengan statusnya sebagai istri dan calon ibu, tetapi dia tetap cuek. “Maaf. Aku senang kamu mau menggantikan posisiku, tapi aku lebih bahagia kalau kamu juga nyaman.”

“Ghina, kamu kasih izin buat menambahkan penilaian musik latar. Gimana aku enggak senang?”

Obrolan kami terputus kala tawa menggelegar muncul memenuhi ruangan. Aku dan Ghina menengadahkan kepala dan menemukan seorang pria bertubuh gempal masuk dari pintu taman belakang. Dengan jas chef, dia membawa dua hidangan ke arah kami. Meja kami. Ketika jaraknya semakin dekat, aku baru menyadari wajah Latin-nya.

Buon Pomereggion, Senorita[1],” sapanya sambil menaruh hidangan dan membungkuk ke arahku. Kemudian, dia berpaling ke arah Ghina dan mencium tangannya, “bella signora[2].”

Kami—yang sama-sama buta bahasa Italia—hanya membalasnya dengan senyuman.

Keterkejutan kami berlanjut saat chef tersebut memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia. “Saya Chef Pisghetti, pemilik La Belle Luna. Senang bisa menyambut gadis-gadis cantik Indonesia.”

Ghina tersipu malu. Sementara aku langsung tertarik dengan namanya. “Pishgetti? Seperti nama chef di serial Curious George.”

Dengan tangannya yang aktif bergerak, pria itu menanggapi, “Ya, Curious George! Putraku suka dengan monyet lucu itu.”

“Chef, Anda menyenangkan sekali. Bayiku pasti akan menyukaimu.” Ghina mengerling sejenak ke arahku. “Jika Anda sedang tidak sibuk, bolehkah kami mendengar cerita tentang La Belle Luna?”

Certo[3]!” Chef Pisghetti lalu menarik salah satu kursi dan mulai berbagi kisahnya tentang restoran ini.

*

“Pukul berapa Leo akan menjemputmu?”

Aku dan Ghina masih duduk manis di La Belle Luna. Chef Pisghetti kini tengah melayani pelanggan lain. Ceritanya tentang tempat ini terpatri di atas halaman bukuku. Dia mendirikan La Belle Luna untuk mendiang istrinya, Bulan, seorang wanita asli Sunda. Chef Pisghetti dan putra semata wayangnya bahkan memutuskan pindah ke Indonesia agar bisa menjenguk makam Bulan setiap minggu.

“Sekitar sepuluh menit lagi. Kalau kamu mau pulang duluan, enggak apa-apa, kok.” Ghina menyesap latte-nya perlahan. Ketika mendengar cerita Chef Pisghetti tadi, matanya terus mengeluarkan air. “Leo harusnya dengar kisah romantis tadi.”

“Maksudnya, kamu pengin Leo bikin restoran setelah kamu meninggal?”

“Inooo!” Ghina melemparkan gulungan tisu yang berhasil kutangkap. “Aku kangen kamu yang hopeless romantic.”

Aku mencebik sebal. “The hopeless romantic-me is gone.”

Ghina geleng-geleng kepala. “Gimana playlist-nya?”

And here is my favorite part from reviewing: assesst the playlist. Sejak masuk ruangan, aku mendengar lantunan lagu-lagu instrumental khas Italia—bersalut akordian, folk flute, dan folk bagpipe. “Great. Kamu tahu rewelnya aku kalau playlist La Belle Luna malah diisi sama lagu-lagu Top 40.”

“Kamu bakal kasih rating 2.5 gara-gara hal itu,” sahutnya.

Tak berselang lama, Leo muncul dan segera menghampiri Ghina. Aku merasa kagum bercampur iri melihat kehangatan mereka. Leo adalah tipe pria yang cepat tanggap; siap melindungi istri serta calon anak mereka.

Ghina membuka jendela mobilnya. “Ino, kamu serius enggak mau ikut kami?”

No, thanks. Aku mau jalan-jalan sebentar ke toko buku.”

“Oke, aku tunggu ulasan La Belle Luna nanti malam. Jangan impulsif lari ke rel kereta api, ya,” godanya. Kemudian, mobil hitam itu berlalu dari hadapanku.

Selanjutnya, aku bergeming di depan pintu La Belle Luna sambil mengamati pengunjung yang lalu-lalang. Aku belum mau pulang. Kamar indekosku seperti dementor akhir-akhir ini—menyedot semua kebahagiaan yang kudapat dari luar.

Senorita Winona?” sapa Chef Pisghetti. Dia berdiri tepat di sampingku. “Sedang menunggu seseorang?”

“Umh, tidak, aku….” Hujan perlahan turun. Aku mendapat firasat hujan ini akan berlangsung lama. “Chef, apa Anda keberatan jika aku menunggu di sini sampai hujan mereda?”

Pria itu menggeleng. “Tentu tidak. Ada meja kosong di dalam. Anggap tempat ini seperti rumahmu.”

***

[1] [Italia] Selamat siang, Nona!

[2] [Italia] Nyonya cantik.

[3] [Italia] Tentu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s