[Review] Satu Jam Lebih Dekat Bersama Yuna

yuna

Tadinya, tadinya, saya mau rehat dari dunia perkonseran di tahun 2016. Ingat umur (enggak juga sih). Lagi pula, musisi-musisi favorit saya kalau tidak hiatus, ya bubar. Jadi kecil kemungkinan mereka mampir ke Indonesia buat menggelar konser.

Namun, semuanya langsung patah begitu Copeland main di Kampoeng Jazz di akhir bulan April.

Lalu keyakinan saya semakin digerus saat Kahitna jadi bintang tamu di pensi SMA Bandung bulan September.

Seolah belum cukup, muncul Yuna yang menghelat konser perdananya di Bandung tanggal 3 Desember 2016.

Aaah, persetan. Sepertinya saya masih butuh suntikan euforia konser meski antusiasmenya tidak sebesar saat kuliah dulu.

*

Tadinya, tadinya, saya tidak akan menonton Yuna. Selain karena mengurus kelahiran buku ketiga saya—Lara Miya—saya juga enggak sanggup beli tiketnya. Rp500.000 buat seorang freelancer itu besar dan saya punya prioritas di atas tiket konser. Saya lantas melepas Yuna (sama Mae juga sebenarnya).

Kemudian, dua hari sebelum konser Yuna digelar, Tari menawarkan barter.

Enggak perlu saya jelaskan isi kesepakatannya seperti apa, yes. Intinya, sih, saya mendapatkan tiket konser Yuna dan Tari memperoleh bayaran yang—katakanlah—setimpal. Heheh.

Berbeda dengan konser Copeland, untuk menonton Yuna, saya tidak menyiapkan sesuatu yang spesial. Saya juga enggak stalking penyanyi asal Malaysia itu karena siangnya sibuk mengurus book talk Vinca Callista di DU 71A. Rencana saya begitu selesai dengan book talk: kongko sebentar di Dago > pergi ke Dago Tea House sama Tari > nonton Yuna > pulang.

Nyatanya, realita tidak berbicara sesederhana itu.

*

Saya dan Tari sampai di Dago Tea House menjelang maghrib (by the way, konsernya di venue luar). Satu yang saya syukuri, cuaca Bandung saat itu relatif bersahabat; hanya berawan di siang menjelang sore hari. Gate dibuka beberapa menit setelah azan maghrib dan antreannya tidak segila konser-konser yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Sebenarnya, saya lebih suka venue dalam, karena lebih intimate dan tentunya bisa melindungi penonton kalau hujan turun di tengah konser. Sementara venue luar jelas mengekspos kami pada angin malam di kawasan Dago yang kurang santai. Jarak dari amfiteater ke panggung juga jauh, jadi mustahil bisa ambil foto-foto bagus.

20161203_182052
Jauh, kuuuy~

Sambil menunggu kedatangan Yuna, saya dan Tari sempat mengobrol dengan dua penonton lain yang duduk di depan kami. Duh, sayang saya lupa nama mereka, tapi kami sempat berkenalan dan cerita banyak hal. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapatkan pengalaman ini saat hendak menonton konser: punya teman-teman baru.

Obrolan kami terputus kala Indah Nada Puspita, opening act kesatu, muncul. Nada membawakan beberapa lagu dengan baik, termasuk Rather Be dari Clean Bandit. Opening act kedua adalah girlband berisi tiga teteh-teteh hijabers dari Noura. Dari segi musikalitas, opening act untuk konser Yuna lumayan bagus. Setidaknya mampu bikin kami terhibur daripada karatan menunggu Yuna yang baru naik panggung pukul setengah sembilan malam (harusnya pukul delapan. Well, Indonesia).

Sebelum Yuna, anggota band pengiringnya naik satu per satu; langsung mengundang teriakan dari arah penonton. Kemudian saat sang bintang utama muncul di tengah sorot lampu panggung, kami bersorak semakin keras.

Yuna sepertinya tidak suka dengan jarak yang terbentang di antara dirinya dengan penonton. Lantas, dia mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua orang berlari ke bibir panggung. Serta-merta, saya dan Tari sudah ada di baris kedua. Menakjubkan bagaimana saya, bukan hanya tiba-tiba bisa lari cepat, tapi juga mampu menaiki undakan tanpa terjatuh.

Luar biasa.

*

Places to Go dipilih menjadi pembuka konser. Sejujurnya, saya baru mengulik lagu-lagu Yuna tahun ini karena akunnya sering di-mention Aaron Marsh, vokalis Copeland. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada musiknya yang fresh. Simpel, tapi selalu sukses bikin hati bergetar *aih.

Perfomance Yuna di atas panggung pun tak kalah memesona. Dalam balutan busana berwarna hitam dan putih keperakan, Yuna terus bergerak dari satu sisi ke sisi stage; melantunkan beberapa tembang andalan dari album terbarunya, Chapters. Lantas sebelum membawakan Time, Yuna membagi kisahnya saat mengikuti beberapa kontes bakat di Malaysia.

20161203_204859
Look at that funny face

“Saya pernah bertanya kepada Ibu, Kenapa saya tidak pernah lolos saat mengikuti ajang pencarian bakat?, lalu Ibu membalas, Semua akan datang tepat pada waktunya, Sayang,” ujarnya. Sesuai dengan lirik yang Yuna senandungkan dalam Time:

It takes time
It takes a little time, baby
It will be fine,
It takes time, baby

Memang terbukti, kan? Sekarang, Yuna jadi salah satu penyanyi R&B dari Asia yang sukses melebarkan sayap sampai ke Amerika Serikat.

Selepas Mountains, Yuna menyanyikan nomor favorit saya dari Chapters, Crush. Dalam versi albumnya, lagu ini dibawakan bersama Usher. Namun, meski malam itu Crush hanya dibawakan oleh Yuna, sensasi merinding yang saya rasakan saat kali pertama mendengar lagu ini masih ada. You know it has to be a great song when it gives you chill.

20161203_205001

Atmosfer konser yang tadinya menyenangkan seketika menjadi pilu saat Yuna membawakan lagu-lagu sendu. All I Do, misalnya, yang hampir bikin saya menangis di tengah kerumunan. Hanya bersama sang gitaris, Yuna melantunkan setiap kata dari lagu ini dengan emosi yang bikin saya luluh lantak. Belum lagi Used to Love You yang tak kalah menyayat hati.

Yuna tentunya enggan menutup konser dengan kesedihan. Mendekati akhir acara, penyanyi berusia 30 tahun ini mempersembahkan lagu-lagu ceria seperti Terukir di Bintang (“Boleh tidak saya bawakan lagu berbahasa Melayu?” tanyanya sebelum memulai lagu tersebut). Kemudian, Live Your Life—yang dipilih menjadi lagu pamungkas—mengajak para penonton untuk ikut berjoget sebelum Yuna mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.

20161203_205322

“Tapi, tenang. Kita bertemu lagi di luar, ya,” katanya. “Nanti kita bisa swafoto bareng. Saya juga akan kasih tanda tangan di poster dan album.”

20161203_210758
Yuna during “All I Do”

Ya, tapi apalah artinya nonton konser tanpa mengeluarkan koor andalan: we want more, we want more, we want more. Entah berapa lama kami meneriakan tiga kata sakti itu. Sampai sang drummer muncul untuk membereskan alat-alatnya dan memberi isyarat pada kami: enggak, enggak akan ada lagu lagi.

Kami masih menunggu. Namun, rupanya dia benar.

Yuna tidak naik lagi ke atas panggung.

*

Konser Yuna memang berlangsung singkat—13 lagu selama kurang lebih satu jam lebih sekian menit. Walau begitu, saya suka cara Yuna saat berinteraksi dengan penonton. Dia sangat lepas di atas panggung; aktif bergerak (saking aktifnya sampai susah ambil foto bagus, hahaha), mengajak kami menyanyi bersama, dan terus menebar senyum.

Saya sampai bilang, ‘She is so cute, sweet, and humble it huuurts’ berkali-kali kepada teman-teman yang tidak sempat menonton konser ini. Yuna pun menepati janji untuk berswafoto ria dan membubuhkan tanda tangannya pada signing session yang diadakan di luar venue (terus, riasan wajahnya masih bagus aja).

Secara keseluruhan, konser Yuna di Bandung tanggal 3 Bandung 2016 kemarin sangat, sangat mengesankan. Mungkin jadi salah satu yang paling intimate yang pernah saya rasakan. Panggung boleh minimal, tapi penampilan Yuna sangat maksimal. Lighting and sound system are on point too. Nyaris tidak ada hambatan selama acara berlangsung. As a promoter, you made it, Kiosplay!

20161203_212057_2

*

Dear, Yuna, terima kasih sudah menyajikan konser akhir tahun yang indah dan hangat. It is not a crush anymore, because we have already fallen in love with your music and perfomance. Like, so hard.

So, please, visit us again next time!

Regards,

 

erl.

ps:

Terima kasih untuk Tari dan kesempatan-kesempatan mahalnya tahun ini (hahaha); akang dari Sumedang dan teteh mahasiswi Sastra Inggris UNPAD yang menemani saya serta Tari ngobrol sebelum acara dimulai; Abi untuk tebengannya sepulang konser (have a nice time in Europe! Tolong beresin naskahnya juga, ya. Thanks).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s