music · review

[Review] After Laughter by Paramore

Track List:

1. Hard Times
2. Rose-Colored Boy
3. Told You So
4. Forgiveness
5. Fake Happy
6. 26
7. Pool
8. Grudges
9. Caught In The Middle
10. Idle Worship
11. No Friend
12. Tell Me How

***

Paramore is back!

Ketika mereka merilis Hard Times, saya tidak terlalu kaget. Mungkin karena saya sudah bisa menerima perubahan mereka sejak album self-titled yang dirilis pada 2013. Formasi mereka pun berubah lagi. Vokal masih dipegang Hayley Williams (kali ini dia memulas rambutnya menjadi pirang), Taylor York di sektor gitar, dan… Zac Farro di posisi drum! Kembalinya Zac ke Paramore membuat saya optimis dengan album teranyar mereka, After Laughter.

Paramore rupanya tidak mau berlama-lama menahan After Laughter. Karena beberapa hari setelah Told You Sosingle kedua—dilempar, album kelima mereka menyusul keluar dan membuat sebagian besar penggemar terkejut (termasuk saya).

Astaga, astaga, saya belum siap, tapi saya gregetan pengin mengulik After Laughter.

Dua single pertama yang Paramore luncurkan terdengar menyenangkan dengan beat-beat yang catchy dan akan membuat kalian bergoyang. Akan tetapi, semuanya tidak akan sama lagi begitu kalian menyimak liriknya. Di Hard Times, Hayley memulai lagu dengan All that I want / is to woke up fine. Sementara di Told You So, pembukanya lebih mencengangkan lagi: For all I know / the best is over and the worst is yet to come.

What?

Saya masih mengira After Laughter akan kaya akan sentuhan funky dan pop ala tahun 80-an. Nah, anggapan saya lantas dipatahkan oleh tiga judul setelah Told You So, because they had me like:

 

Dalam Fake Happy yang penuh kepalsuan, misalnya (And if I go out tonight, dress up my fears / You think I’ll look alright with these mascara tears?).  Atau 26, balada yang sebenarnya terdengar optimis, tapi tetap sukses bikin saya merinding (Reality will break your heart / Survival will not be the hardest part / It’s keeping all your hopes alive). Kemudian ada Pool yang terdengar manis, tapi nyatanya menyayat-nyayat hati (You are the wave, I could never tame / If I survive, I’ll dive back in).

Keceriaan yang saya rasakan di awal album semakin memudar memasuki paruh terakhir album. Di sisi lain, Paramore tetap mengejutkan saya. Lewat No Friend, Hayley menyerahkan sektor vokal sepenuhnya kepada Aaron Weiss, vokalis mewithoutyou. Yep, dalam lagu ini, kalian akan mendengar monolog Aaron di tengah alunan bas, gitar, yang kelam (I see myself in the reflection of people’s eyes / Realizing what they see may not be even close to the image I see in myself).

Seolah-olah ingin meninggalkan pendengar dalam ketidakpercayaan, Paramore menutup After Laughter dengan Tell Me How yang… yah, akan membuat kalian patah hati. Dengan dentingan piano sendu (yang mengingatkan saya pada lagu-lagu muram Copeland), Hayley bersenandung, You may hate me but I can’t hate you / And I won’t replace you.

And thus, I have mixed feelings about Paramore’s fifth album.

Penggemar Paramore yang sangat menyukai mereka sebelum Farro bersaudara minggat mungkin akan kecewa, karena… tf, where’s the pop-punk, rock songs they used to perform? Namun, ada juga penggemar yang menganggap After Laughter sebagai album yang menunjukkan kedewasaan Paramore. Terlihat dari lirik-liriknya yang—terlepas dari kepiluan yang begitu mendominasi—lebih matang dan membuat saya semakin mengagumi musikalitas mereka.

After Laughter akan menjadi album yang memecah penggemar menjadi dua kubu: yang enggak suka dan suka banget. Saya? Saya jelas ada di kubu suka banget. Menurut saya, perubahan yang terjadi di After Laughter adalah bukti dari usaha Paramore menghadapi dan menyelesaikan masalah yang mengadang. Ada kesakitan, kekecewaan, dan keputusasaan yang tidak pernah saya rasakan di album-album sebelumnya. Namun melalui After Laughter, Paramore seakan-akan pengin bilang mereka bisa bertahan meski tidak bisa menyelesaikan semua perkara dengan baik.

Kalau kalian penasaran dengan After Laughter, please, have a listen. Mendengarkan album ini akan terasa seperti jalan-jalan ke pantai, tapi tiba-tiba terhalang hujan deras. Lantas, alih-alih pulang ke rumah, kalian malah diam di tengah guyuran hujan; merenungkan kembali tentang makna kehidupan.

Regards,

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s