project · writing

[Writing] So, I Did the Binge Writing Things

Kalian suka binge watching serial televisi atau drama Korea? Maraton menonton tayangan menarik bikin kita sulit melepaskan mata, ya. Selepas satu episode penginnya lanjut terus. Eh tahu-tahu habis. Disusul berbagai efek samping kayak baper, lelah dan lapar (soalnya binge watching sering bikin lupa waktu), sampai lupa cara melanjutkan hidup.

Nah, apa jadinya kalau kebiasaan ini diterapkan untuk menulis?

Saya baru mempraktikannya satu pekan silam. Semuanya berawal gara-gara dikejar tenggat pengumpulan naskah. Saya yang pada dasarnya masih moody kerap kali menunda-nunda dan baru menulis kalau kepepet. Lantas, minggu lalu jadi momen yang tepat untuk memulai sebuah eksperimen gila akibat hal-hal di atas: binge writing.

Sebelumnya, saya keliling Google buat mencari referensi seputar binge writing. Yang paling nekat—menurut saya—adalah penulis yang sanggup merampungkan naskah dalam waktu tiga hari. Saya tadinya pakai metode ini, tapi gagal karena frustrasi lihat kecepatan menulis yang menyedihkan. Kemudian, ada pengalaman penulis yang mampu menyelesaikan tulisan sepanjang 20.000 kata dalam satu hari.

Satu hari. 24 jam!

Akhirnya, saya menggunakan tip dari Mbak Katie. Dia membagi proses binge writing-nya dalam beberapa sesi. Setelah disesuaikan dengan jadwal, saya memulai binge writing pukul 8 pagi dari jumlah 19.000 kata sekian. Target saya enggak muluk-muluk: 1.000 kata per jam sampai pukul 11 malam. Eksperimen ini tentunya disertai tantangan seperti 1) saya sedang puasa dan itu berarti 2) saya akan merasa lapar sesekali, tapi enggak ada yang lebih buruk daripada 3) kantuk di siang sampai sore menjelang iftar.

Kalau bukan karena tenggat, saya mungkin bakal mundur di 1.000 kata pertama.

Not for Your Daily Basis

To be honest, binge writing is fun, but not recommended for daily basis. Saya berhasil menuntaskan naskah pukul 11 malam dengan total 33.000 kata sekian. Shorter than The Playlist and Lara Miya, but it’s okay since the story isn’t too heavy.

Binge writing selama 15 jam, buat saya, memang sinting. Di sisi lain, pengalaman ini membuktikan beberapa hal seperti:

  • Menyelesaikan novel kurang dari seminggu bisa terjadi, asal…

Kalian punya outline cerita yang benar-benar matang. Bukan berarti kisah yang saya tulis sudah bagus, tapi saya enggak akan binge writing kalau kontennya mentah. Selain itu, pemilihan sudut pandang dan cara kalian membawakan cerita juga akan mempengaruhi binge writing. Untuk eksperimen saya, cerita dibawakan dari dua penutur dengan sudut pandang orang ketiga. Satu bab terdiri dari 800-1.000 kata. Bab-bab yang relatif pendek memudahkan saya untuk cepat pindah dan menghindari basa-basi.

  • Membuat outline cerita sangatlah penting buat panduan

Masih berkaitan dengan poin kesatu, outline akan memandu kalian untuk terus menulis. Enggak ada alasan stuck atau kebingungan, sebab kalian sudah tahu ke mana cerita bakal bergulir. Ketika binge writing, saya sempat cemas karena belum sampai klimaks meski sudah menulis lebih dari 15 bab. Namun, saya biarkan semuanya mengalir; saya mengikuti konsep yang telah disusun. Usaha saya enggak sia-sia begitu bertemu empat bab terakhir. Bakal beda rasanya kalau saya nekat menulis tanpa outline.

  • Selama inner editor diam, tidak akan ada yang menghalangi

Salah satu kelemahan saya dalam menulis adalah inner editor yang rewel sekali. Makanya saya sempat kesulitan binge writing sebelum goal 15.000 kata terpenuhi. Lantas, bagaimana saya membungkam suara -suara itu? Tidak lain tidak bukan dengan mendengarkan musik.

this is actually me after writing the story

Seminggu lalu, saya gandrung menyimak lagu-lagu Paramore dan untuk hari spesial itu, The Only Exception jadi tembang yang berhasil membuat saya bertahan menulis. Mendengarkan satu lagu selama berjam-jam terkesan nganu, ya, tapi itu jadi satu-satunya metode yang dapat membuat saya fokus. By the way, mungkin cara ini enggak berlaku buat semua orang, karena ada juga yang bisa menulis tanpa bantuan musik.

  • Cerita enggak akan selesai cepat kalau sering berhenti

Satu lagi kelemahan saya saat sedang menulis: sering menengok ke belakang. Setiap sekian paragraf, saya pasti baca ulang. Lalu mulai mengutak-atik bagian yang kurang atau enggak oke. Mau lanjut menulis, jadi malas. Kan sebal, ya. Kalau kayak gitu terus, kapan selesaiya? Maka untuk binge writing, saya berusaha sekuat mungkin menahan godaan ini. Ya, sesekali masih berhenti, tapi cepat-cepat saya melanjutkan sebelum mood keburu berantakan gara-gara kesal lihat typo dan gangguan lainnya.

  • Rutin menulis membantu meningkatkan kecepatan

This is important. Binge writing sangat mengandalkan kecepatan menulis. Sebelum mengambil tantangan ini, ketahui dulu jumlah kata yang sanggup kalian tulis per sekian menit atau jam. Saya—setelah dua tahun lebih bekerja sebagai penulis konten—mampu menulis 500 kata selama 30-45 menit. Itu non-fiksi, lho. Buat fiksi kadang lebih lambat. Jangan paksakan diri kalau kalian masih lambat menulis. It takes time, of course, tapi hasil dari konsistensi enggak akan mengkhianati, kok.

  • Istirahat di sela-sela sesi menulis bisa menjaga stamina

Saya menulis dalam empat sesi: 8 pagi sampai 12 siang; setengah 1 siang sampai setengah 3 sore; setengah 4 sampai setengah 6 sore; setengah 7 malam sampai 11 malam. Jeda di antara keempat sesi tersebut saya isi dengan salat, jalan-jalan keluar, dan nap time. Istirahat sangat dibutuhkan supaya tubuh kalian bisa recharge tenaga (ya meski di bulan puasa enggak bisa makan-minum sebelum iftar, tapi cuci muka sudah cukup). Selepas buka puasa, segera isi tubuh kalian dengan makanan dan minuman biar tenaga buat menulis makin maksimal.

Binge writing punya efek samping seperti mata sepet, baper dan deg-degan karena kejar-kejaran sama waktu, lalu pastinya… tangan kelelahan. Dua hari lalu saya masih merasakan nyut-nyutan di lengan kanan, tapi perlahan membaik.

Oh, but, to make it even better: give yourself rewards. Ini jadi hal yang membuat saya bertahan sampai akhir. Semacam hadiah untuk menghargai usaha sendiri. Ketika nyaris menyerah, saya memotivasi diri dengan: kalau naskah ini selesai sebelum tenggat, kamu boleh makan malam dengan ramen termahal dan beli sepatu/sandal baru.

YAAAS, LOOK AT THIS BEAUTY.

Yes, I did it.

So, yes, binge writing is a crazy thing to do. Seperti yang saya katakan, eksperimen ini kurang direkomendasikan buat latihan sehari-hari maupun kejar tenggat, hahaha (kesehatan tanganmu itu, lho). Namun, kalian bisa menjadikannya sebagai tantangan untuk mengukur perkembangan menulis.

Jadi, bagaimana pendapat kalian? Tertarik binge writing dalam waktu terdekat?

Regards,

 

erl.

p.s: also before you start to binge writing: cut off the Internet. Set your phone and laptop to Airplane mode. It worked for me.

Advertisements

2 thoughts on “[Writing] So, I Did the Binge Writing Things

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s