music · review

[Review] Shore EP by Daniela Andrade

Track List:

01. Digital Age
02. Sound
03. Come Around
04. Shore

***

Sebenarnya, saya bukan pengamat musisi-musisi jebolan Youtube. Di sisi lain, saya juga tidak menyangkal kalau platform tersebut sudah melahirkan banyak musisi keren. Tahu Justin Bieber, dong? Solois asal Kanada ini meraih kesuksesannya setelah mengunggah beberapa cover version lagu-lagu populer di Youtube. Keberhasilan Bieber rupanya mendorong para musisi untuk memulai karier mereka dengan jalan yang sama.

Sayangnya, hanya segelintir musisi yang sanggup meraih atensi pengunjung Youtube.

Sejauh ini, hanya ada tiga musisi Youtube yang berhasil merebut perhatian saya: Alex Goot, Sam Tsui, dan Daniela Andrade. Selain musikalitasnya yang tidak diragukan lagi, mereka juga tahu cara mengemas video-videonya supaya enggak kelihatan murahan.

Nah, dari ketiga nama tadi, Daniela Andrade baru-baru ini mengejutkan saya lewat EP bertajuk Shore yang rilis pada 2016. Memang agak telat tahunya, padahal saya sudah mengenal Andrade dan karya-karyanya sejak 2013. Dulu, solois berdarah Honduras ini merekam tembang-tembang yang dibawakan di kamarnya. Sederhana banget, deh.

But, yes, she’s cute!

Lantas, apa yang membuat saya jatuh hati dengan Andrade? Tidak lain, tidak bukan adalah suara dan permainan gitarnya yang bikin saya pengin berguru sama dia.

Saya menemukan Andrade saat mencari cover version Creep milik Radiohead. Sekali dengar, saya langsung dibuat merinding. Suara Andrade mengingatkan saya pada solois-solois seperti Regina Spektor, Norah Jones, dan Yuna. Dreamy, catchy, membuai seperti mimpi indah. Saya semakin kagum dengan Andrade, karena dalam Shore EP, dia berhasil melepaskan diri dari imej ‘musisi yang membawakan ulang lagu-lagu orang lain.’

She shapes and brands herself as Daniela Andrade.

*

Shore EP menawarkan perjalanan yang bakal membuat emosi kalian campur aduk. Empat lagu di dalamnya dikemas dalam aransemen minimalis yang berbeda-beda. Oh, tahukah kalian kalau Andrade juga melepas keempat lagu tersebut dalam video-video yang enggak kalah keren? Saran saya, sih, akan lebih baik kalau kalian menyimak tembang-tembang tadi sambil menyaksikan videonya. Dijamin bikin terkesima dengan cerita cinta sederhana yang dituturkan dalam konsep yang memukau.

Digital Agetrack pembuka Shore—memberikan atmosfer film Her yang cukup buat bagi saya. Aura sendu dari tiupan terompet dan vokal Andrade yang berpadu dengan warna-warna gelap seperti biru tua, merah, dan abu-abu dalam videonya langsung menciptakan suasana muram. Saya juga suka dengan lirik yang Andrade senandungkan dalam Digital Age. Terutama di bagian:

I like this digital age
Where we’re said to be forward in state
If I could code me a hologram
It’d be shaped like you

Bruh! Digital Age seolah-olah menggambarkan hubungan asmara abad 21 yang terkoneksi dengan mudah lewat kecanggihan teknologi.

Digital Age

Namun, Andrade tampak tidak senang dengan jenis interaksi serbamudah seperti itu. Dalam Sound, latar tempat video pindah ke Chefchaouen atau The Blue City di Maroko. Sebagai pecinta warna biru, saya senang banget begitu lihat rumah-rumah dengan tembok warna biru di videonya. Lantas, berbeda dengan Digital Age, Sound terdengar lebih mengentak dengan sentuhan synth dan warna-warna cerah dari pemandangan Chefchaouen. Andrade juga tampak menikmati perjalanan singkatnya dan, untuk sementara, menganggap kalau hubungannya tidak bermasalah.

Sound

Sayangnya, kebahagiaan dalam Sound tidak berlangsung lama saat saya memasuki track ketiga, Come Around (yang juga jadi lagu favorit saya dari Shore EP). Masih mengambil tempat di Maroko, kalian akan melihat pergumulan yang dialami Andrade dan kekasihnya. Uniknya, gejolak emosi yang mereka rasakan dituturkan lewat simbol-simbol seperti warna pakaian hingga permainan visual yang sureal di paruh akhir video. The lyrics speak everything, too.

Is this the game we play?
Hiding from each other, no one won’t face the other
There’s nothing left to say
Holding onto nothing but faith

Come Around

Shoretrack keempat yang jadi penutup—menjadi lagu paling minimalis dalam EP ini. Andrade menyanyikan tembang ini hanya dengan petikan gitar. Meski begitu, visualnya masih sebaik video-video sebelumnya—sarat akan simbol, warna-warna yang lebih menenangkan, dan penutup yang membuat saya puas, sekaligus gemas.

Shore

Melalui Shore EP dan keempat videonya, karya Andrade menjadi napas segar di tengah tren EDM yang mendominasi industri musik selama tiga tahun terakhir. Kalian yang kangen mendengarkan suara gitar, bas, drum, dan instrumen musik lainnya pasti bakal bahagia saat menyimak EP ini. Andrade juga membuktikan bahwa tema sederhana bisa menjadi luar biasa kalau kalian mengembangkannya lewat sudut pandang berbeda dengan perencanaan matang.

Kalau penasaran dan pengin dengar Shore EP, selain lewat Youtube, kalian bisa membelinya di iTunes atau streaming di Spotify. I kid you not, this record gives me life and you won’t regret it.

Regards,

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s