[Writing] Never Been There

Kamu sudah pernah ke Yunani?

Pertanyaan ini masih saya dapatkan dari mereka yang sudah membaca Athena: Eureka! Jawabannya pun tidak berubah: belum. Dengan 90% latar tempat di Yunani, Athena menjadi salah satu proyek menantang, mengingat saya harus riset ekstra agar pembaca merasakan denyut kehidupan negara tersebut.

Masalahnya, menggambarkan tempat yang belum pernah dikunjungi ternyata lumayan tricky. Dalam sebuah catatan revisi, editor mengatakan deskripsi yang saya tulis masih terkesan seperti artikel Wikipedia. Kendati hanya satu paragraf, saya harus membuat bagian tersebut  terdengar natural.

Keliling langsung di Yunani tentu bakal memudahkan proses mengumpulkan informasi sampai menunjang deskripsi. Namun, biaya yang dibutuhkan juga enggak sedikit. Meski demikian, saya punya metode-metode ampuh supaya deskripsi tempat di cerita tidak seperti tempelan.

Jadi turis untuk cerita yang akan ditulis

Kalian setidaknya pernah, dong, jalan-jalan ke tempat jauh? Misalnya pulang kampung ke luar kota saat Lebaran atau study tour ke Bali. Tahap persiapan pun biasanya agak repot kalau ini jadi pengalaman perdana kalian, mengingat kalian tidak mengenal tempat tersebut.

Hal ini sebenarnya enggak jauh berbeda saat kalian pengin memakai latar tempat yang belum pernah didatangi. Ketika menulis Athena, saya memposisikan diri sebagai Widha—sang tokoh utama—yang juga baru kali pertama terbang ke Yunani. Jika saya jadi Widha, apa saja yang akan saya siapkan?

Lantas, saya membuat daftar ini:

  • Objek wisata yang akan didatangi;
  • Penginapan beserta tarif sewa per malam;
  • Transportasi;
  • Tiket pulang-pergi;
  • Durasi jalan-jalan/traveling;
  • Makanan (masak sendiri atau beli);
  • Jumlah pakaian yang akan dibawa

Kebutuhan di atas tergolong standar, tetapi akan mempengaruhi bujet dan cerita. Kalian juga harus tahu dari mana si tokoh mendapatkan sumber biaya. Bisa dari tabungan, beasiswa, atau warisan. Jangan sampai karakter cerita kalian sanggup hedon ke sana kemari, padahal latar belakangnya bukan orang kaya atau pebisnis sukses.

Ada pula informasi penunjang yang harus kalian cari seperti:

  • Bahasa yang dipakai warga setempat;
  • Gaya hidup dan topik yang sedang tren di sana;
  • Musim;
  • Kebijakan, aturan, atau kebiasaan.

Apabila tokoh yang kalian tempatkan dalam cerita adalah warga asli, riset yang kalian lakukan akan lebih mendalam. Pastikan kalian sudah punya data tentang:

  • Latar belakang keluarga;
  • Tempat tinggal (tetap atau nomaden);
  • Studi atau pekerjaannya yang sedang dijalankan.

Pastikan kalian mencari informasi-informasi tersebut dari sumber tepercaya. Ada situs-situs lain yang lebih akurat dibandingkan Wikipedia, antara lain website pemerintah di bidang pariwisata, pusat bahasa, hingga travel blogger yang secara berkala mengunggah pengalaman mereka saat melancong.

Elaborasi data-data riset untuk cerita

Tokoh yang sudah tahu atau memang menyukai negara yang dikunjungi akan memudahkan deskripsi. Kalian suka nonton drama Korea atau rajin mengikuti tren K-pop? Berarti, kesulitan yang kalian temukan saat mendeskripsikan tempat di Korea Selatan pun enggak akan banyak. Di sisi lain, elaborasi atau penggarapan data-data yang diperoleh perlu dilakukan secara cermat supaya tokoh kalian terkesan real.

Pada tahap ini, tidak sedikit informasi yang harus kalian buang karena tidak menunjang cerita. Kadang kalian perlu mencari lagi data yang silap dari riset. Kalian mungkin akan merasa sayang, apalagi kalau hasil penelusuran tersebut adalah topik-topik yang disenangi. Namun, memasukkan seluruh informasi akan membuat cerita membosankan dan bertele-tele buat pembaca. Selektif sedikit enggak bakal membuat kisah kalian buruk, kok.

Bantuan visual untuk mendeskripsikan tempat

Menguatkan impresi visual dalam teks bisa kalian lakukan dengan mempelajari foto maupun tempat yang bersangkutan. Dengan teknologi canggih seperti sekarang, kalian enggak perlu repot mencari peta atau buku, karena sudah ada aplikasi  seperti Google Maps, Street View, sampai Google Earth. Lewat program-program ini, kalian dapat mengukur jarak dari satu lokasi ke lokasi lain, mengamati lanskap, sampai ‘jalan-jalan’ virtual.

Alternatif lain yang dapat kalian akses adalah video-video perjalanan di Youtube. Film-film yang mengambil seting tempat yang kalian inginkan juga bakal membantu deskripsi. Selain itu, akan lebih bagus dan maksimal kalau kalian punya teman atau kenalan yang tinggal di kota atau negara yang sedang diteliti. Lakukan wawancara atau minta mereka mengevaluasi cerita begitu naskah rampung. Saya sendiri masih mengandalkan peta cetak dan ensiklopedia termutakhir kalau sedang tidak bisa online di ponsel pintar maupun laptop.

Mengolah data asil riset yang kaku ke narasi fiksi yang cenderung luwes mulanya cukup sulit. Kalau kalian butuh rekomendasi penulis yang jago banget menggambarkan latar tempat, saya mengajukan Windry Ramadhina dan Yusi Avianto Pareanom. Sepanjang membaca buku-buku mereka, saya selalu merasa ada di lokasi-lokasi yang mereka gambarkan.

Nah, itulah tip berdasarkan pengalaman saya saat memaparkan tempat yang belum pernah dikunjungi. Punya masukan atau tambahan? Sila cantumkan di kolom komentar.

Terima kasih.

erl.

ps: artikel ini ditulis berdasarkan topik dari bookism.gia di Instagram:

Advertisements

4 thoughts on “[Writing] Never Been There

  1. Kak, misalnya direncanain gini: di tempat A (kafe) -> tokohnya makan malem berdua, di tempat B (pantai) -> tokohnya basah-basahan gitu. Terus ada satu tempat yang, di sana ada kejadian khusus yang ‘wow’. Nah, pas dibuat cerita, tempat itu harus diberi penekanan khusus atau enggak?

    1. Kembali ke kebutuhan: apakah penekannya bakal kasih pengaruh ke si tokoh? Misalnya si tokoh mau ngelamar pacarnya, tapi berantakan gara-gara listrik mati. Atau tempat itu punya kenangan yang enggak mau diingat si tokoh, tapi dia terpaksa tinggal/kerja di sana, Kalau enggak kasih efek, cukup selewat aja sih.

  2. wahhh keren!! saya belum bisa nulis sambil membayangkan tempat yang jauh sihh..
    tp mungkin sambil nonton TV atau film tentang tempat yang diinginkan bisa jadi bahan juga sihh.. atau baca-baca novel bersettingangn di tempat tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s