[Lettering] 6 Things I Learn from Brush Lettering

source: learnbrushlettering.com

Semua berawal dari kebutuhan riset untuk Toska.

Ketika Reaterary membuka kelas Basic Brush Lettering awal tahun lalu, saya tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Pada saat itu, kepala saya hanya diisi dengan, Oke, satu kelas lettering dan keperluan riset terpenuhi, atau, Kalau lettering­ saya bagus, saya bisa bikin personal merch untuk pre-order novel selanjutnya. Memang enggak salah ngayal babu seperti itu, tapi sepertinya saya terlalu tinggi memasang harapan, hehe.

Kenyataannya, brush lettering tidak semudah celap-celup kuas ke tinta.

Selepas mengikuti kelas, semangat saya membara selama beberapa minggu. Pada pertengahan tahun mulai kendur, lalu tak lama berselang berhenti total karena keasyikan mengulas buku. Peralatan lettering dibiarkan menganggur dan berdebu, sampai saya sentuh lagi pada November 2017.

Saya kembali dengan alasan baru: butuh distraksi.

Sekarang, setelah praktik rutin (dan membobol tabungan demi membeli art supplies), saya mendapatkan berbagai pelajaran dan perubahan lewat brush lettering. Nah berikut ini ada enam hal yang saya peroleh sepanjang latihan intens selama dua bulan terakhir.

  • Cara termudah untuk menenangkan pikiran

Di awal sesi, saya kesulitan membuat garis tebal dan tipis (khususnya TIPIS) dan sejumlah garis lekuk lainnya. Belum lagi menyambungkan satu aksara ke aksara lainnya. Wajar kalau hal ini bikin sebagian orang mundur cepat dari lettering. Namun, percayalah, latihan secara rutin akan membuahkan hasil. It took weeks for me to FINALLY master the basic strokes. Begitu berhasil melewati tahap ini, kalian akan lebih mudah membuat huruf daaan merasakan ketenangan saat menggerakkan kuas di atas kertas. It’s hella satisfying.

One of my first attempts. Mid 2017.
  • Memandang karakter/huruf dengan cara berbeda

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis, words are author’s sword. Ya, benar, kan? Ketika saya pikir saya sudah sangat menyatu dengan huruf, lettering memberikan sudut pandang lain terhadap mereka. Lettering isn’t just writing like I’ve been doing for years. It’s drawing the words—wait, characters. Saya jadi tahu kalau setiap karakter punya anatomi berbeda. g is a good boi; x is as just complicated as my ex; k isn’t that okay, and the list goes on. They aren’t that simple as I thought before. Mereka terasa lebih hidup sekarang.

  • New tools, new style… and new beginning!

Kalian bisa memulai brush lettering dari alat tulis mana saja. Enggak usah langsung main ke perkakas mahal, pakai pulpen biasa pun kalian bisa bikin kaligrafi cantik dengan metode faux calligraphy. Ogah kotor kena tinta? Beli brush pen (saya sangat merekomendasikan Tombow dan Snowman). Kalau kalian pengin merasakan lettering dengan sentuhan tradisional, pakai kuas biasa atau water brush pen dan tinta kaligrafi. Setiap jenis alat memberikan sentuhan berbeda dan, somehow, awal baru, karena—sejauh yang saya rasakan—selalu ada gaya lain yang lahir.

  • It sounds cheesy, but kreativitas tanpa batas is real

There is no wrong and right in brush lettering or modern calligraphy (dengan catatan: kalian tetap harus menguasai teknik-teknik dasar). Seperti halnya menulis cerita, melukis aksara juga memberikan kebebasan untuk bereksplorasi. Setiap orang punya gaya masing-masing—the signature style—yang enggak bisa ditiru orang lain. Mulanya kalian akan berusaha mengikuti orang-orang yang sudah lihai, tetapi lama-lama, kalian bakal menemukan gaya sendiri. Dari sini, kreativitas kalian dalam brush lettering bakal semakin meluas.

  • Memberikan kesan personal yang lebih tajam

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, ngapain capek-capek bikin kutipan pakai kuas, kan ada Canva dan segambreng aplikasi lainnya? I know Canva and stuff make it easier, BUT they don’t provide one thing: personal touch. Lewat lettering, kalian bebas mau pakai kuas atau brush pen; tinta atau cat air; kertas atau keramik. Anything, man. Saya sekarang lebih suka membuat kutipan—mau dari buku atau lirik lagu—tanpa aplikasi, karena kesan personalnya lebih kuat dan membuat si penerima merasa spesial (hahai).

Januari 2018
  • Bisa dijadikan bisnis rumahan yang menjanjikan

Terakhir—yang belum kekejar sama saya juga, sebenarnya—brush lettering jadi salah satu jenis bisnis menjanjikan. Di Instagram, saya mengikuti sejumlah akun letterer profesional yang sudah menjadikan keterampilan mereka sebagai lahan penghasilan. Klien mereka macam-macam, dari pasangan yang mau menikah, ibu rumah tangga, sampai perusahaan multinasional. Mereka juga sering berbagi ilmu buat sesama letterer. Selain menjanjikan dari segi finansial, lettering/calligraphy juga punya komunitas yang menyenangkan.

Lalu, bagaimana nasib naskah saya? Terlantar (I’ll be back, okay. I don’t know when, just wait.)

Jadi, buat kalian yang sedang mencari hobi baru atau sudah lama ingin mencoba lettering, give it a try! There are so many online lettering practice sheets, just google it.  Satu lagi yang saya rasakan, lettering membuat saya menghargai kembali seni menulis dengan tangan sendiri. Ternyata, saya sudah terlalu nyaman memakai laptop dan ponsel pintar, sampai-sampai payah bikin huruf pakai alat tulis biasa, huhu.

Terima kasih sudah menyimak pengalaman (selain menulis buku) saya di pos kali ini. Kalau kalian pengin bertanya atau sekadar curhat seputar lettering, sila tinggalkan di kolom komentar, ya.

Regards,

erl.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: