Fiction · writing

[The Playlist] La Belle Luna

pasta-1463934_1280

SAYUP-SAYUP, aku mendengar tetesan air hujan mendarat di berbagai tempat; atap, kosen, kaca jendela, panci bekas. Ritmenya membuatku tenang, sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan. Kemudian, aku mengambil ponsel di atas nakas, mengaktifkannya, dan membiarkan cahaya dari layar menjadi satu-satunya penerangan di dalam kamar.

Aku membuka aplikasi pemutar musik dan memilih lagu yang terngiang sejak bangun tadi. Serta-merta, suara mendayu seorang pria bergabung bersama rinai hujan. Menciptakan suasana yang kian sendu.

Dalam dekapan selimut tebal, aku mengambil posisi duduk dan menyingkap tirai. Alih-alih melihat sinar kemerahan dari ufuk timur, aku mendapati langit kelabu kehitaman di luar. Aku menyeka lapisan embun di jendela, lalu menyelia rumah-rumah beratap cokelat tua di bawah. Satu-satunya tanda kehidupan yang kutangkap hanya pendaran lemah lampu-lampu dari teras. Pagi yang muram di pertengahan bulan November.

Kemudian, aku menoleh ke dalam kamar, tepat ke seberang ruangan. Dari pantulan cermin lemari, aku menangkap siluet yang tengah meringkuk. Aku tahu sosok itu tidak mengenakan apa-apa selain selimut yang melindungi tubuhnya. Kami bertukar pandang; tangan terulur seolah ingin menggapai satu sama lain.

Namun, kala udara dingin menerpa kulit, aku cepat-cepat menarik tanganku.

Aku mengambil napas panjang; menahan dorongan dari dalam dada. Get up, bisik sebuah suara dari dalam benakku. Diam seperti ini hanya akan menghancurkan pagimu. Setelah berhasil mengatur napas, aku mengambil kaus kebesaran dan pakaian dalam di ujung ranjang. Aku mengenakannya satu-satu sambil merapalkan doa untuk menenangkan pikiran.

Semuanya akan baik-baik saja.

*

Ketika aku keluar dari indekos menjelang siang, langit mulai berubah warna. Awan-awan kelabu tadi kini pecah menjadi gumpalan awan putih. Matahari menampakan diri dengan cahaya hangat. Sambil menapaki jalan, aku menghirup aroma perpaduan air hujan dan tanah—kadang sampah, kalau boleh kutambahkan.

Sambil menunggu angkutan umum, aku memeriksa notifikasi baru. Aku langsung membuka pesan dengan nama pengirim Ghina.

[Ghina] La Belle Luna, pukul satu.

Kebetulan sekali, aku sedang ngidam makan spaghetti bolognese.

Di dalam angkutan umum, aku mencari sejumput informasi mengenai La Belle Luna. Mesin pencari hanya menampilkan beberapa tautan valid—artinya tempat makan tersebut baru dibuka. Itu bukan berita bagus untukku, tetapi akan menjadi kebanggaan tempat kerjaku.

Setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di depan La Belle Luna. Tempatnya mengingatkanku pada kafe-kafe mungil di pinggir kota Roma. Tanaman rambat menutupi dinding bangunan bata merah. Jendela-jendela terbuka; mengekspos furnitur kayu yang mendominasi. Di halamannya, ada meja piknik dan bangku panjang. La Belle Luna kontras sekali dengan bangunan bergaya minimalis-modern di sekitarnya.

“Inooo!” Seorang perempuan berambut bob melambaikan tangan ke arahku. Senyuman kekanakkan terukir di wajahnya. “Aku kira kamu datang lebih awal.”

Macet.” Aku menaruh tote bag di bawah meja. Kendati kami berkunjung di jam makan siang, sebagian besar meja di dalam ruangan masih kosong. “Tempat ini baru buka?”

Ghina menghela napas berat. Salah satu tangannya mengelus perutnya yang kian besar. “Baru soft opening. Manajer restoran mengundang media-media kuliner, termasuk YummyFood buat mengulas La Belle Luna.”

Seorang pemuda tinggi-kurus menghampiri meja kami dan menyerahkan buku menu. Ghina mengeluh karena dia pantang menyantap hidangan favoritnya, sedangkan aku tanpa pikir panjang memesan spaghetti bolognese dan caffè con panna.

Sambil menunggu pesanan, aku mengeluarkan buku bersampul kulit beserta pena. Biasanya, Ghina melakukan pekerjaan ini sendiri dengan aku sebagai asisten. Namun, semenjak hamil, kegiatannya menjadi terbatas. Lantas, aku menggantikan posisinya sebagai penulis lepas di YummyFood setelah berhenti dari pekerjaan sebelumnya.

“Kamu enggak kangen sama kerjaan yang dulu?” tanyanya setelah minuman kami sampai. “Aku memang bukan penggila acara musik, tapi aku suka semua ulasan konsermu.”

Tanpa mengalihkan tatapan dari buku, aku menjawab, “Kamu tanya hal itu karena enggak tahu atau pengin menggodaku?”

Ghina terkikik. Aku pernah bilang kalau kepribadiannya yang mirip anak SD tidak cocok dengan statusnya sebagai istri dan calon ibu, tetapi dia tetap cuek. “Maaf. Aku senang kamu mau menggantikan posisiku, tapi aku lebih bahagia kalau kamu juga nyaman.”

“Ghina, kamu kasih izin buat menambahkan penilaian musik latar. Gimana aku enggak senang?”

Obrolan kami terputus kala tawa menggelegar muncul memenuhi ruangan. Aku dan Ghina menengadahkan kepala dan menemukan seorang pria bertubuh gempal masuk dari pintu taman belakang. Dengan jas chef, dia membawa dua hidangan ke arah kami. Meja kami. Ketika jaraknya semakin dekat, aku baru menyadari wajah Latin-nya.

Buon Pomereggion, Senorita[1],” sapanya sambil menaruh hidangan dan membungkuk ke arahku. Kemudian, dia berpaling ke arah Ghina dan mencium tangannya, “bella signora[2].”

Kami—yang sama-sama buta bahasa Italia—hanya membalasnya dengan senyuman.

Keterkejutan kami berlanjut saat chef tersebut memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia. “Saya Chef Pisghetti, pemilik La Belle Luna. Senang bisa menyambut gadis-gadis cantik Indonesia.”

Ghina tersipu malu. Sementara aku langsung tertarik dengan namanya. “Pishgetti? Seperti nama chef di serial Curious George.”

Dengan tangannya yang aktif bergerak, pria itu menanggapi, “Ya, Curious George! Putraku suka dengan monyet lucu itu.”

“Chef, Anda menyenangkan sekali. Bayiku pasti akan menyukaimu.” Ghina mengerling sejenak ke arahku. “Jika Anda sedang tidak sibuk, bolehkah kami mendengar cerita tentang La Belle Luna?”

Certo[3]!” Chef Pisghetti lalu menarik salah satu kursi dan mulai berbagi kisahnya tentang restoran ini.

*

“Pukul berapa Leo akan menjemputmu?”

Aku dan Ghina masih duduk manis di La Belle Luna. Chef Pisghetti kini tengah melayani pelanggan lain. Ceritanya tentang tempat ini terpatri di atas halaman bukuku. Dia mendirikan La Belle Luna untuk mendiang istrinya, Bulan, seorang wanita asli Sunda. Chef Pisghetti dan putra semata wayangnya bahkan memutuskan pindah ke Indonesia agar bisa menjenguk makam Bulan setiap minggu.

“Sekitar sepuluh menit lagi. Kalau kamu mau pulang duluan, enggak apa-apa, kok.” Ghina menyesap latte-nya perlahan. Ketika mendengar cerita Chef Pisghetti tadi, matanya terus mengeluarkan air. “Leo harusnya dengar kisah romantis tadi.”

“Maksudnya, kamu pengin Leo bikin restoran setelah kamu meninggal?”

“Inooo!” Ghina melemparkan gulungan tisu yang berhasil kutangkap. “Aku kangen kamu yang hopeless romantic.”

Aku mencebik sebal. “The hopeless romantic-me is gone.”

Ghina geleng-geleng kepala. “Gimana playlist-nya?”

And here is my favorite part from reviewing: assesst the playlist. Sejak masuk ruangan, aku mendengar lantunan lagu-lagu instrumental khas Italia—bersalut akordian, folk flute, dan folk bagpipe. “Great. Kamu tahu rewelnya aku kalau playlist La Belle Luna malah diisi sama lagu-lagu Top 40.”

“Kamu bakal kasih rating 2.5 gara-gara hal itu,” sahutnya.

Tak berselang lama, Leo muncul dan segera menghampiri Ghina. Aku merasa kagum bercampur iri melihat kehangatan mereka. Leo adalah tipe pria yang cepat tanggap; siap melindungi istri serta calon anak mereka.

Ghina membuka jendela mobilnya. “Ino, kamu serius enggak mau ikut kami?”

No, thanks. Aku mau jalan-jalan sebentar ke toko buku.”

“Oke, aku tunggu ulasan La Belle Luna nanti malam. Jangan impulsif lari ke rel kereta api, ya,” godanya. Kemudian, mobil hitam itu berlalu dari hadapanku.

Selanjutnya, aku bergeming di depan pintu La Belle Luna sambil mengamati pengunjung yang lalu-lalang. Aku belum mau pulang. Kamar indekosku seperti dementor akhir-akhir ini—menyedot semua kebahagiaan yang kudapat dari luar.

Senorita Winona?” sapa Chef Pisghetti. Dia berdiri tepat di sampingku. “Sedang menunggu seseorang?”

“Umh, tidak, aku….” Hujan perlahan turun. Aku mendapat firasat hujan ini akan berlangsung lama. “Chef, apa Anda keberatan jika aku menunggu di sini sampai hujan mereda?”

Pria itu menggeleng. “Tentu tidak. Ada meja kosong di dalam. Anggap tempat ini seperti rumahmu.”

***

[1] [Italia] Selamat siang, Nona!

[2] [Italia] Nyonya cantik.

[3] [Italia] Tentu!

Fiction · review

[Review] Priceless Moment by Prisca Primasari

Kisah kita serupa dongeng. Dipertemukan tanpa sengaja, jatuh cinta, lalu bersama, dan akan bahagia selamanya. Tanpa banyak kata, kau tahu aku mencintaimu selamanya.Begitulah yang seharusnya.

Namun, ketika setiap pagi kutemukan diriku tanpa kau di sisiku, aku sadar bahwa dongeng hanyalah cerita bohong belaka. Kau pergi, meninggalkanku dalam sepi, dalam sesal yang semakin menikam.

Hidup tak akan sama lagi tanpamu.Apa yang harus kukatakan ketika mata polos gadis itu memelas, memintaku menceritakan dongeng-dongeng yang berakhir bahagia? Kau belum memberi tahu jawabnya untukku.

Kau tahu, kali ini, akan kulakukan apa pun untuk mempertahankanmu berada di sisiku. Pun sejenak. Namun, lagi-lagi, kau hanya ada dalam memori….

***

Tahun ini, GagasMedia mengeluarkan beberapa lini baru, salah satunya adalah fatherhood. Dari namanya, novel-novel yang terbit di bawah label ini pasti berkaitan dengan sosok ayah. “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya–yang menjadi ‘pembuka’ lini fatherhood–sukses membuat saya merinding sampai menangis. Kemudian, “Priceless Moment” karya Prisca Primasari terbit dan membuat saya penasaran: apa ceritanya akan meninggalkan kesan yang sama?

Nah, berbeda dari karya-karya Prisca sebelumnya, sebagian besar seting di “Priceless Moment” mengambil tempat di Indonesia. Bercerita tentang Yanuar, seorang manajer sukses di perusahaan furnitur besar, yang berduka atas kematian sang istri, Esther. Sebagai single parent baru, Yanuar menghadapi tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh mendiang istrinya–termasuk mengurus anak-anaknya. Yanuar berusaha untuk bangkit, meski tak yakin bisa melupakan Esther. Hingga suatu hari, dia bertemu Lieselotte,seorang desainer baru di kantornya. Kedekatan mereka, yang awalnya sekadar teman satu perusahaan, perlahan berubah setelah mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing.

Hal menarik pertama yang membuat saya penasaran adalah bagaimana Prisca menuturkan cerita lewat tokoh utama pria. Pemilihan sudut pandang orang ketiga menurut saya cukup aman dan tidak membuat tokoh Yanuar jadi menye-menye. Takaran konflik dalam keluarga Yanuar dan perusahaannya pun cukup seimbang. Jangan kaget kalau sebagian percakapannya agak kaku dan dewasa, karena sebagian besar tokohnya berusia di atas 25 tahun. Saya menyukai beberapa adegan saat Yanuar berusaha dekat dengan kedua anaknya–kadang dibuat tertawa sampai terharu. The struggle is real, yah.

Namun, mungkin karena fokusnya berada di lingkup ‘dunia-menjadi-ayah’, bumbu romance-nya hambar. Kedekatan Yanuar dengan Lieselotte tampil sekilas-sekilas. Eh, tapi ada satu bagian yang menjadi favorit saya: saat mereka berdiri di tengah hujan lebat. Adegan ini menyelamatkan romance-nya (dan tidak bisa saya jelaskan detailnya. Go buy and read if you’re curious.)

Overall, saya menikmati “Priceless Moment”. Prisca memberi bayangan kehidupan seorang duda tanpa plot yang terlalu ruwet. Mata saya sempat memanas saat membaca segelintir adegan. Nyaris bersih dari typo–saya menemukan salah ketik dalam tanda baca di halaman 262 (…dua jam lagi. yang berarti…) I give it 4 of 5, anyway.

Sila yang penasaran pengin baca, cek toko-toko buku terdekat. Mungkin harus sedia tisu juga, buat jaga-jaga kalau nangis di tengah jalan.

erl.

image

Fiction · writing

Athena: Meet the Characters

image

Haaai! Sambil menunggu Athena: Eureka berkeliaran di toko-toko buku, kenalan dulu, yuk, sama para tokohnya.

Widha Armafia Sumadimaja

tumblr_ndom15OOpH1tsd5zjo1_1280

Mahasiswi tingkat akhir jurusan Ilmu Komunikasi. Widha juga seorang jurnalis koran kampusnya. She likes to plan ahead. Tapi, dalam keadaan terdesak dan di luar kendali, Widha bisa berubah jadi orang yang panikan. Hobinya, selain baca dan jalan-jalan, adalah memasak makanan khas Yunani.

Tokoh Widha terinspirasi dari banyak karakter, salah satunya Katniss Everdeen. Agak sulit mencari model untuk Widha, sampai bertemu di sosok Daniela Andrade.

Nathan Strauss

jg

Pemuda asal Perth, Australia, yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia. Karena pernah menetap di Bandung bersama ibunya, dia jatuh cinta dan menganggap Indonesia sebagai rumah kedua. Nathan adalah sosok yang kalem dan dapat membaca situasi dengan baik. Penggemar berat mi instan.

Tokoh Nathan terinspirasi dari salah satu dosen di kampus saya (bukan bule, sih, tapi ganteng *lah*). Meskipun bukan penggemar Jake Gyllenhaal, dari sekian aktor tampan yang saya ‘casting’, cuma dia yang cocok jadi model Nathan.

Wafi Raindra Dinesha

sl

Mahasiswa jurusan Seni Musik yang beruntung mendapat beasiswa sekolah di New York. Romantis, tapi kadang plin-plan. Keras kepala dan sulit untuk percaya dengan orang lain.

Sama seperti Widha, tokoh Wafi juga lahir dari salah satu karakter di serial Hunger Games, Gale Hawthorne. Kenapa gitaris? Karena saya suka sama Stephen Laurenson (eh), si model untuk Wafi, dan terpengaruh beberapa teman yang suka memainkan alat musik ini.

Nah, cukup segini, ya. Kalau mau tahu cerita yang terjadi di antara mereka, baca semuanya di Athena nanti!

Regards,

 

Erlin Natawiria.

Fiction · writing

[Preview] ATHENA: Eureka!

Pembaca tersayang,

Langkahkan kakimu ke kota sang dewi kebijaksanaan, Athena. Dari penulis debut Gagasmedia, Erlin Natawiria, kita akan mengikuti Widha mewujudkan impian masa kecilnya serta mendiang kakaknya yang kembar.

Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa bertumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar tepercik setiap kali keduanya berserobok pandang.

Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan.

Setiap tempat punya cerita,

Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.

Salam,

Editor

image

Fiction · project · writing

Journal #14: Begin Again

“Lo belum benar-benar jatuh cinta sebelum berurusan dengan penulis.”

Begitu celetuk seorang kawan yang baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Mungkin dia prihatin melihat perjuanganku dalam mencari pasangan hidup–tulang rusukku yang hilang. Sudah puluhan undangan pernikahan yang kuterima, tapi giliranku untuk membuatnya belum juga tiba.

“Ah, emangnya kenapa? Istri lo juga bukan penulis,” tukasku.

“Pokoknya rasain dulu, deh.” Dia tertawa sambil menepuk pundakku. “Spesies yang paling sulit dicuri hatinya.”

“Kalau gue berhasil?”

“Kalau lo berhasil ngajak dia nikah, gue urus katering resepsi lo!”

Aku tertawa lepas. Tidak mengiyakan maupun menolaknya.

*

Tiga bulan kemudian, aku terbang ke Paris untuk memulai kuliah S2 di salah satu universitas terkemuka. Menjelang kepala tiga seharusnya aku bekerja atau, ya, mencari pasangan hidup. Namun, siapa yang mau melepas beasiswa kuliah di tempat sekeren ini?

Sore setelah kuliah pertama, aku menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di pinggiran Sungai Seine. Musim gugur baru saja tiba dan membuat suhu turun drastis. Orang-orang yang berlalu-lalang merapatkan mantel mereka. Sesekali menghindari dedaunan yang sama ramainya beterbangan di udara. Ketika aku meminta cangkir kopi kedua, saat itulah gadis ini datang.

*

Aku masih ingat senyumnya saat berdiri di hadapanku. Rambut hitamnya dikepang besar, dengan poni rata yang menutupi alis. Mata kucingnya mengingatkanku pada Taylor Swift.

“Boleh aku duduk?” Dia bertanya dengan aksen Prancis yang tidak terlalu kental. Kursi di hadapanku memang tidak terisi, jadi aku mengangguk saja.

Gadis ini serta-merta hanyut ke tengah dunianya dalam dunia kecil bernama netbook. Aku diam-diam memperhatikan, lalu mengambil sketch book dan mulai menorehkan gurat-gurat halus di atasnya. Kami duduk cukup lama di sana sampai waktu makan malam tiba.

“Terima kasih,” ujarnya mengagetkanku. Dia tersenyum simpul, lalu menjejalkan netbook ke dalam tote bag-nya. Aku hanya balas tersenyum sebelum dia beranjak meninggalkan kedai.

Setelah sekian lama, aku kembali diserang rasa penasaran yang menggila. Kutatap sketsa dalam sketch book-ku.

Darn, I even do not know her name.

*

That’s the beginning. That leads me to everything.

Kami bertemu lagi satu minggu kemudian di kedai yang sama. Kali ini, aku mengajaknya untuk mengobrol setelah mengamati kebingungannya di depan netbook selama sepuluh menit. Seolah mengamini celetukan temanku, gadis ini mengaku sebagai seorang penulis. Baru berusia 22 tahun beberapa bulan yang lalu dan bekerja sebagai penerjemah lepas juga.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini hanya sebuah permulaan.

Aku jatuh cinta. Aku mengira-ngira kapan dia berhasil menerobos hatiku–mungkin saat kami mengunjungi Eiffel. Mungkin aku dijampi-jampi di bawah monumen itu. Kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Kalau tidak, kenapa dia mengizinkanku untuk memeluknya? Kenapa dia tidak menolak saat aku memagut bibirnya?

Kupikir, semuanya akan berjalan normal. Sampai aku ingat apa kata kawanku saat itu.

Lo belum benar-benar jatuh cinta sebelum berurusan dengan penulis.

*

Ada beberapa hari saat dia menjadi amat sulit untuk dihubungi. Atau tidak mengunjungi kedai tempat kami bertemu kali pertama. Aku jadi frustrasi. Lalu sadar jika hubungan kami bahkan tampak bias.

Kemudian, aku mengunjungi apartemennya. Dia ada di sana–dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di sekitar matanya. Dia menolak untuk kurengkuh, sebelum terisak dan menangis.

“Kenapa?” tanyaku, agak panik. “Ada masalah?”

Dia menyeka air matanya. “Apa kamu kuat aku abaikan seperti ini terus?”

Aku terdiam sejenak. Dia tampaknya mengerti jika selama ini, kami menjalani hubungan yang agak aneh.

“Sebenarnya, tidak,” sahutku.

“Lalu, kenapa kamu bertahan?”

Kujawab, karena aku mencintainya. Terlalu banyak perasaan yang mengikatku pada gadis ini. Dia kembali menangis dan tidak menolak saat aku memeluk tubuh mungilnya.

“Aku tidak mau memaksa kamu,” gumamnya. “Ini yang selama ini aku khawatirkan. Tidak ada yang lama bertahan dengan seorang penulis.”

“Kalau begitu, kita menikah saja.”

Iya, itu memang tanggapan ngawur. Cukup ngawur sampai dia menatapku dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.

“Kalau kamu cukup waras, kamu seharusnya meninggalkanku.”

Kepalaku menggeleng. “Aku terlalu waras untuk tetap mempertahankan kamu.”

Dia tidak melontarkan apa-apa lagi saat aku mengecup keningnya.

*

Itu adalah kali pertama aku melamar seorang perempuan. Walau tidak seromantis adegan dalam film atau drama di televisi.

Dia tidak menolak, juga menerimanya.

Aku juga tidak mau memecah perhatiannya. Sesekali, aku melihatnya di toko buku, suvenir, atau museum. Dengan mantel hitam yang sama, dia mengamati benda-benda yang tertata rapi di sana. Sesekali, aku mengunjungi blog pribadinya–membayangkan dia duduk berjam-jam di depan netbook bersama secangkir kopi dingin.

Aku tidak pernah mengalami hubungan serumit ini. Sekuat ini. Semenyiksa ini. Di satu sisi, aku tahu akan butuh waktu yang lama untuk mengukuhkan hubungan kami. Di sisi lain, akan ada banyak kejadian yang berpeluang besar untuk meruntuhkan perasaanku padanya.

Seandainya melompat dari Eiffel tidak akan menewaskanku, aku sudah melakukannya setelah melamar dia di apartemen.

*

Aku tidak mau memeriksa kalender. Namun, otakku sudah mencatat kegiatan ini secara permanen: hari Rabu, kedai kopi, Sungai Seine. Dia belum memberi kabar, meski aku sering melihatnya berkeliaran.

Di kedai, tak jauh dari meja, aku mendapati pasangan yang terlibat dalam pembicaraan serius. Aku tidak bisa melihat wajah si pria karena dia memunggungiku. Perempuan yang duduk di hadapannya memberi tatapan dalam sambil menggenggam erat tangan pasangannya.

Diam-diam, aku mengabadikan momen itu dalam guratan di atas kertas. Selama dua puluh sembilan tahun, aku belum pernah seemosional ini saat menggambar.

Setelah sketsa itu selesai, aku memotret dan melampirkannya dalam attachment surel. Pasangan tadi sudah pergi dengan tangan yang saling mengamit kuat. Setelah mengamati Eiffel selama beberapa detik, aku mengirimkan foto itu dengan pesan singkat.

Aku rindu padamu.

Kendati aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Semoga, secepatnya, di kedai ini.

Falling in love at a coffee shop 🙂 #illustration #sketch #artwork

A post shared by Mutia H. Al Hanan (@mutialhanan) on

But on Wednesday, in a cafe, I watched it begin again.

***

06.55 AM

(photo taken from @mutialhanan)

Fiction

Wallflower

“Kamu kenapa nggak bilang cabang kedai keempat ditutup, Nerv?”

Maaf, Dit. I mean, I’ve been in a messy days, you know. Gue sampai nggak ngasih tahu lo.

Dita menghela napas panjang seraya mengamati bangunan yang kini ditutupi jajaran seng besar di depannya. Cuaca yang cukup berangin tidak lantas meredamkan gejolak amarah di ubun-ubunnya. Dia enggan berdebat, sekaligus ingin berteriak.

Fine. Thanks,” ujarnya, pasrah.

Sekali lagi, maaf, Dit. Oh, selamat ulang tahun, ya.

Gumaman singkat mengakhiri percakapan mereka. Selamat ulang tahun. Dita bergumam kesal mendengarnya. Sudah 14 jam lewat dari tengah malam, tapi tak ada satu hal menyenangkan yang muncul di hari spesialnya.

Bahkan dari Adrian! Kekasihnya selama hampir dua tahun itu lebih memilih mengencani tesisnya di akhir pekan.

What could be more worse?!

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari LINE muncul di layar.

Dita, bisa bantu aku menyelesaikan naskah?

*

Setelah empat tahun merintis karir sebagai penulis, Dita kini dipercaya juga menjadi mentor writing classdi satu kampus. Selepas proses seleksi, Dita akhirnya mendapat seorang ‘murid’ bernama Fardi. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin yang, menurutnya, memiliki sentuhan Midas dalam merangkai kata. Cukup mengejutkan karena biasanya dia berkubang dengan hal-hal berbau mesin.

“Ini masih cerita yang kemarin.” Fardi menyerahkan sinopsi dua lembarnya pada Dita. “Tampaknya agak cheesy.”

Matanya mengerling ke arah pemuda berkacamata di hadapannya yang tampak kikuk. Kemudian, Dita membaca sinopsis ceritanya dengan cermat. Sekilas, dia tahu Fardi sedang menceritakan seorang gadis yang dianggap semua orang sebagai nerd, tapi baginya malah menarik.

“Kamu pernah baca Perks of Being a Wallflower?”

Mata Fardi mengerjap. “B-Belum.”

“Aku punya e-book-nya. Mungkin bisa membantu.”

“Terima kasih. Eh, aku mau tanya sesuatu…”

Alis Dita terangkat. Dari cara bicaranya, dia tahu hal yang akan diutarakan lebih pribadi.

“B-Bagaimana caranya menyamarkan kejadian nyata dalam dunia fiksi?”

Oh, curhat colongan. “Taburi ‘bumbu’ di berbagai tempat. Kalau di dunia nyata berakhir buruk, kamu bisa menjadikannya indah di dunia fiksi.”

Fardi mengamati kembali sinopsisnya seperti patung. Sebenarnya, Dita enggan mencampuri masalah pribadi orang lain. Namun, tampaknya pemuda ini sedang… kasmaran.

“Kamu suka gadis ini?”

Hampir saja Fardi terjungkal dari kursi. Pipinya kontan merona. “Eh, ya…”

“Sudah punya nama yang pantas untuk menyamarkan identitasnya?”

Kendati masih malu, kepala Fardi menggeleng.

Dita ingin sekali membantu dan entah kenapa bibirnya langsung menyebutkan nama ini,

“Chloe.”

*

Setelah Fardi pamit pulang, Dita memutuskan untuk ‘berkabung’ di kafe. Dia sudah membunuh dua cangkir espresso, sepiring iga bakar, dan sekeranjang kentang goreng. Baby doll dress kremnya seperti mengejek suasana hatinya. Sudah 20 jam lewat dari tengah malam dan seperti ini cara dia menghabiskan hari ulang tahunnya?

Dita bergumam sinis. 25. Dia bahkan sudah tidak pantas meniup lilin.

Kemudian, Dita kembali mengingat percakapan bersama Fardi. Chloe. Bukan kebetulan nama itu tercetus. Setelah satu jam, Dita sadar jika dia amat merindukan Adrian.

Chloe adalah lagu yang Adrian bawakan ulang, lalu diunggah ke Soundcloud. Dita adalah orang pertama yang mendapat kehormatan untuk melihatnya.

This song is for and about you.

Dita tidak kuat lagi. Dia ingin pulang.

“Permisi.” Seorang pelayan menaruh sepotong red velvet di atas meja. “Pelayanan ekstra dari kami.”

“T-Trims.” Tumben, pikirnya. Dita kembali duduk, mengambil sendok, dan melahapnya. Selamat ulang tahun. Oh, aku tahu–

Tiba-tiba, giginya menggigit sesuatu yang keras dan licin. Dia harus segera memuntahkannya, tapi tidak ada tisu di meja!

If only you could see all of the beautiful things that I see in you, it’s true…

Dita hampir menelan benda di mulutnya saat mendengar suara semanis cokelat itu. Tanpa diduga, penerangan diredupkan dan seseorang muncul dari belakang seraya menyodorkan tisu.

May I help you, Miss?

Mata Dita terbeliak. ADRIAN!

“Dita, jangan bertindak bodoh. Aku serius,” bujuk pria berambut cokelat muda di depannya.

Dita menyambar tisu yang disodorkan, lalu mengeluarkan benda itu setelah membersihkannya dari red velvet. Diusapnya pelan, lalu dibuka, dan…

Cincin.

Matanya menatap Adrian – penuh tuntutan.

“Aku tahu, sebagai penulis, kamu pasti mikir ini sangat klise.” Adrian lalu mengambil cincin tersebut. “Tapi, ini hal terbaik yang bisa aku lakukan. I’ve been busy. I’m being a jerk for you. It’s your birthday and I mess it. Kamu pasti mau mencincangku sekarang.”

I’d love to, Ad.”

Mendengarnya, Adrian malah tergelak sesaat. “Oke, kamu juga benci basa-basi. Let’s skip those itchy bitchy romantic lines. Because, I believe I would do that more impressive if you would be… my wife.

Dita bergeming. Lututnya terasa selembek agar-agar. “W-Wife?

Adrian berlutut dan mengacungkan cincinnya. “Aphrodite Syirafani, you once thought you wouldn’t attract anyone, but see how far you’ve gone. You’re the brightest wallflower I’ve ever seen.

“You’re the one that I want… wait, I need the most.

Satu, dua detik. Dita tidak tahu ke mana semua udara pergi. Apa Adrian yang mencurinya? Matanya kembali menatap cincin itu. Dia memang pernah menyangka…

“Ad, you… you’ve just made all those fiction words come true. How could I let you go? Bloody hell, yes, please. Marry me.

Senyum Adrian mengembang – hampir menyentuh telinga. Perlahan, dia menyematkan cincin itu pada jari manisnya. Kafe kembali terang dan saat itulah Dita melihat semua orang yang dikenalnya masuk memberi sorakan riuh.

Bahkan Nerva dan Fardi yang memberinya cengiran lebar.

Dita ingin menjambak rambut mereka, tapi Adrian sudah terlebih dahulu mendekap dan mencium puncak kepalanya.

Happy birthday, Sweetheart.,” bisiknya. “You got my heart and that’s the only thing that matters…

Apa yang harus dia keluhkan lagi? Sudah 22 jam lewat dari tengah malam dan seseorang melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya

***

(Story inspired by Emblem3’s Chloe. This is what I can give for your 25th birthday, @AntieRaka.)

wallflower: a type of loner. seemingly shy folks no one really knows. often some of the most interesting people if one actuall talks to them. cute. (Urban Dictionary)

Fiction

Foxy dan Grino

Ada banyak cerita menantimu. Mereka berdesakan seperti bocah-bocah yang menginginkan setoples gula-gula di atas meja. Di tengah alunan rintik hujan yang enggan reda, aku memilih dongeng – sementara yang lain menunggu di antrean.

*

Namanya Foxy, si rubah merah betina. Dia tinggal di hutan empat musim, sendirian, karena pasangan dan anak-anaknya tewas diburu. Foxy berkelana jauh sampai tiba di padang berselimut salju. Si rubah betina sadar dia sudah melewati batas, tapi tidak tahu arah pulang.

Lalu, telinganya menangkap langkah berat dan lambat dari balik ekornya. Foxy tahu dia harus kabur, tapi sebelum kaki depannya terangkat, sesuatu yang tajam menahan ekornya hingga dia terjungkal ke tanah. Foxy mendengking – dia pikir ini saat ajalnya dijemput. Sesosok mahluk besar berwarna cokelat tua berdiri di hadapannya, lalu mencondongkan hidung dan mengendus Foxy penuh minat.

“Rubah,” gumamnya, “untuk makan malam.”

Sejurus kemudian, Foxy mencakar wajah si mahluk. Benda besar itu memekik sebelum terguling ke samping. Foxy berdiri dan menyadari mahluk apa itu: beruang grizzly.

Si beruang, alih-alih menyerang balik, malah terduduk seraya mengelus-elus moncongnya. Foxy bergeming – agak kasihan, tapi tidak mau mendekat.

“Aku sebenarnya sudah mengamatimu sejak kali pertama muncul di wilayahku, rubah,” ujar si beruang. “Kawananku ingin kau dibunuh saja. Tapi, aku memilih untuk tinggal.”

Foxy menyipitkan mata. “Kenapa?”

Si beruang terdiam selama beberapa detik. “Kita punya masa lalu yang sama. Pasanganku dibunuh oleh pemburu tengik itu.”

Di tempatnya, Foxy terhenyak. “Pemburu bertopi hitam?”

“Ya, dia,” sahut si beruang. “Omong-omong, aku Grino.”

“Foxy.”

“Kurasa, kita harus menemukan tempat di luar jangkauan kawananku.”

Grino beringsut maju dan mengisyaratkan si rubah untuk mengikuti. Meski masih curiga, Foxy mematuhi dan mengekor si beruang.

*

Ini fabel pertamaku, terbayang seharian setelah menyaksikan film “Duma”. Menyadari bahwa, sudah saatnya aku mulai menulis cerita anak-anak untuk adikku yang paling kecil dan, mungkin, anak-cucuku kelak.

Tentu, kamu pasti bertanya-tanya, kenapa ada fabel di tengah-tengah tumpukan cerita yang ingin kubagikan padamu? Karena aku belum pernah terilhami sejauh ini, kamu tahu. Aku sendiri terkejut mendapati kelahiran Foxy dan Grino.

Jadi, apa aku harus melabelimu ‘ayah’ dari fabel ini? Apapun itu, aku harap kamu terhibur.

Boleh kutaruh senyumnya di toples, Tuan?

***